Jatengvox.com – Di tengah berkembangnya ekonomi digital dan meningkatnya persaingan usaha, kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu fondasi penting yang menentukan keberlanjutan sebuah UMKM.
Sekadar mengetahui untung atau rugi saja tidak lagi cukup bagi pelaku usaha untuk memastikan keberlangsungan bisnisnya. Diperlukan pemahaman yang lebih mendalam, seperti bagaimana memilah biaya-biaya yang dikeluarkan hingga bagaimana menilai kemampuan usaha bertahan dalam jangka panjang. Kondisi inilah yang masih menjadi tantangan bagi UMKM Parfum di Dusun Branjang, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Kesadaran atas kondisi tersebut mendorong pelaksanaan program pendampingan analisis keuangan sederhana dan digitalisasi pencatatan keuangan bagi UMKM Parfum.
Program ini dilaksanakan oleh mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro Program Studi Akuntansi, yang tergabung dalam KKN-T IDBU-14 UNDIP Kelompok 3 Desa Branjang.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa pelaku UMKM Parfum sebenarnya sudah memahami cara menghitung untung dan rugi usahanya secara sederhana.
Namun, pemahaman tersebut belum sampai pada tahap analisis yang lebih mendalam, seperti pemisahan kategori biaya untuk mengetahui pos pengeluaran mana yang paling membebani usaha, maupun analisis kelangsungan usaha untuk menilai seberapa lama usaha mampu bertahan apabila kondisi keuangan memburuk.
Selain itu, pencatatan keuangan juga masih dilakukan secara manual menggunakan buku, sehingga rawan tercecer dan menyulitkan pelaku usaha ketika hendak melakukan evaluasi lebih lanjut.
Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa melakukan pendampingan secara langsung yang mencakup penyusunan pedoman analisis keuangan sederhana secara lebih mendalam, mulai dari pemisahan kategori biaya hingga analisis kelangsungan usaha, sekaligus digitalisasi pencatatan keuangan usaha.
Pendampingan disusun berdasarkan kebutuhan yang teridentifikasi langsung di lapangan, sebelum kemudian disosialisasikan dan diujicobakan kepada pelaku usaha sebagai kelompok sasaran utama.
Pemilik UMKM Parfum ini mengungkapkan bahwa selama ini dirinya sudah terbiasa menghitung untung dan rugi usaha setiap bulan, tetapi belum pernah memilah biaya-biaya tersebut secara lebih rinci maupun menilai apakah usahanya benar-benar siap menghadapi kondisi yang tidak menentu.
“Selama ini saya sudah tahu cara menghitung untung rugi, tapi belum paham cara memilah biaya-biaya itu, apalagi menilai seberapa lama usaha saya bisa bertahan kalau kondisinya sedang sulit,” ujar pemilik UMKM Parfum.
Mahasiswa menyampaikan bahwa pendampingan ini dirancang agar pelaku UMKM tidak berhenti pada perhitungan untung rugi semata, tetapi juga mampu membaca kondisi keuangan usahanya secara lebih menyeluruh.
“Banyak UMKM yang sudah bisa menghitung untung rugi, tapi belum terbiasa memisahkan biaya per kategori atau menganalisis kelangsungan usahanya sendiri. Kami juga ingin mendorong mereka beralih ke pencatatan digital, karena selain lebih rapi, datanya juga lebih mudah dipantau kapan saja,” jelasnya.
Sebagai luaran program, seluruh materi pendampingan dihimpun ke dalam Buku Panduan UMKM Desa Branjang, dengan bagian analisis keuangan sederhana dan digitalisasi pencatatan keuangan disusun oleh mahasiswa Program Studi Akuntansi FEB UNDIP.
Kehadiran buku panduan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi UMKM Parfum dan pelaku UMKM Desa Branjang lainnya dalam mengelola keuangan usahanya secara lebih mendalam, sekaligus mendorong mereka untuk semakin terbiasa dengan pencatatan digital guna mendukung keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.
Penulis: Dwi Andina Nabila Putri
Dosen Pembimbing: Gani Nur Pramudyo, M.Hum.
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar