Mahasiswa KKN TIM II UNDIP Ajak Ibu-Ibu RT 07 Desa Bolo Sulap Tutup Botol Bekas Jadi Gelang Cantik

waktu baca 5 menit
Minggu, 2 Agu 2026 20:20 7 jatengvox

Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro Tim II yang dilaksanakan di RT 07, Desa Bolo, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, mengajak ibu-ibu setempat untuk menyulap sampah plastik berupa tutup botol bekas menjadi gelang cantik yang bernilai jual, (2/8/26).

Mengusung tema “Sampahku, Kreasiku”, kegiatan ini digelar dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga, akan pentingnya pengelolaan sampah plastik melalui konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Kegiatan berlangsung selama dua setengah jam, mulai pukul 10.00 hingga 12.30 WIB, dan diikuti dengan antusias oleh para ibu-ibu warga RT 07.

Di balik kreativitas mengubah tutup botol bekas menjadi gelang cantik, ada satu hal penting yang kerap luput dari perhatian para pelaku usaha rumahan: standar mutu dan keamanan produk.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, salah satu mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro Tim II menginisiasi program penyusunan dan sosialisasi Standar Operasional Prosedur (SOP) bertajuk “3-S”, yakni Steril, Sempurna, dan Safe.

Program ini digagas sebagai tindak lanjut dari kegiatan pembuatan kerajinan tutup botol bekas yang telah lebih dahulu diperkenalkan kepada ibu-ibu RT 07.

Melihat besarnya potensi produk kerajinan tersebut untuk dikembangkan menjadi usaha rumahan, mahasiswa KKN memandang perlu adanya pedoman baku agar produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara tampilan, tetapi juga aman dan layak dipasarkan kepada konsumen.

Baca juga:  Biar Mudik 2026 Nggak Terasa Berat, Ini Cara Atasinya dengan Akulaku PayLater

Diawali dengan Sosialisasi Daur Ulang

Sebelum masuk ke sesi praktik, mahasiswa KKN membuka acara dengan sosialisasi singkat mengenai pentingnya daur ulang sampah plastik, khususnya tutup botol bekas yang selama ini jarang dilirik sebagai bahan kerajinan.

Dalam sosialisasi tersebut, dipaparkan dampak sampah plastik terhadap lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik, serta peluang ekonomi kreatif yang bisa dihasilkan dari limbah rumah tangga sederhana.

Antusiasme ibu-ibu RT 07 terlihat sejak awal acara. Banyak dari mereka mengaku baru mengetahui bahwa tutup botol bekas ternyata bisa diolah menjadi aksesoris cantik seperti gelang.

Mengapa SOP Penting bagi Produk Daur Ulang?

Dalam sesi sosialisasi, dijelaskan bahwa produk kerajinan berbahan dasar limbah plastik memiliki risiko tersendiri apabila proses pembuatannya tidak memperhatikan aspek kebersihan dan keamanan, mulai dari kontaminasi bahan, ketidakstabilan hasil leburan plastik, hingga potensi bagian tajam atau panas yang membahayakan pengguna.

Oleh karena itu, disusunlah SOP “3-S” sebagai pedoman sederhana namun aplikatif bagi calon pelaku usaha di RT 07.

Tiga prinsip utama dalam SOP ini dipaparkan sebagai berikut:

  • Steril — memastikan tutup botol bekas dicuci bersih dan dikeringkan sebelum diolah, serta memastikan alat dan permukaan kerja (seperti setrika dan baking paper) dalam kondisi higienis agar produk bebas dari kotoran maupun bakteri.
  • Sempurna — menjaga konsistensi hasil leburan plastik, kerapian bentuk cetakan, serta kekuatan rangkaian gelang agar produk memiliki kualitas yang seragam dan layak jual.
  • Safe — memastikan proses pemanasan dan pelubangan menggunakan solder dilakukan dengan hati-hati dan sesuai prosedur, serta memastikan hasil akhir produk tidak memiliki bagian tajam atau panas yang dapat melukai konsumen saat digunakan.
Baca juga:  Komnas HAM Catat 11 Orang Tewas dalam Tragedi Demo Berdarah, Publik Pertanyakan Peran Aparat

SOP yang telah disusun kemudian disosialisasikan langsung kepada ibu-ibu RT 07 yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan pembuatan gelang dari tutup botol bekas.

Melalui pemaparan sederhana dan diskusi interaktif, mahasiswa KKN menjelaskan setiap tahapan SOP disertai contoh praktik yang benar dan yang perlu dihindari, sehingga peserta dapat langsung memahami penerapannya dalam proses produksi sehari-hari.

Para peserta juga diajak untuk memahami pentingnya SOP ini dari sudut pandang perlindungan konsumen.

Produk yang diproduksi dengan standar yang jelas dinilai akan lebih dipercaya oleh pembeli, sekaligus membuka peluang bagi produk kerajinan RT 07 untuk dipasarkan lebih luas, baik secara langsung maupun melalui platform daring.

Memasuki sesi inti, para peserta diajak mempraktikkan langsung proses pembuatan gelang dari tutup botol bekas, dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Menyiapkan tutup botol dengan warna-warna berbeda agar hasil akhir lebih menarik.
  2. Memotong kecil-kecil tutup botol yang telah disiapkan.
  3. Memanaskan potongan tutup botol di atas baking paper menggunakan setrika hingga meleleh dan menyatu.
  4. Mencetak lelehan plastik menggunakan cetakan berbentuk bunga dan hati selagi masih lunak.
  5. Merapikan bentuk hasil cetakan dengan gunting sesuai motif yang diinginkan.
  6. Melubangi kedua sisi hiasan menggunakan solder agar dapat dirangkai menjadi gelang.
  7. Merangkai hiasan dengan manik-manik pada tali gelang, disusun secara simetris agar tampilan lebih estetik.
  8. Mengikat dan menyimpulkan tali gelang hingga membentuk gelang yang siap dipakai.
  9. Mengemas hasil karya ke dalam packaging menarik agar layak dijadikan produk jadi, bahkan berpotensi untuk dijual.
Baca juga:  Resmi, Indonesia Punya Perwakilan “Mitra Pemimpin Global” di Bidang Koding dan Kecerdasan Artifisial

Dengan bimbingan mahasiswa KKN, ibu-ibu RT 07 berhasil menyelesaikan gelang kreasi mereka sendiri, lengkap dengan kombinasi warna yang unik dan khas buatan tangan masing-masing.

Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN Tim II UNDIP berharap masyarakat RT 07 Desa Bolo dapat lebih peka terhadap sampah plastik di sekitar mereka dan mampu mengubah pola pikir bahwa sampah bukan lagi sekadar barang buangan, melainkan peluang untuk berkreasi.

Mahasiswa KKN juga berharap ibu-ibu RT 07 Desa Bolo tidak hanya mampu memproduksi kerajinan daur ulang yang kreatif, tetapi juga menerapkan standar kebersihan, kualitas, dan keamanan dalam setiap proses produksinya.

Dengan demikian, produk yang dihasilkan diharapkan dapat naik kelas dari sekadar kerajinan rumahan menjadi produk usaha kecil yang berdaya saing dan terpercaya di mata konsumen.

Selain menambah keterampilan baru, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan antara mahasiswa KKN dan warga, sekaligus menjadi langkah kecil namun nyata dalam mendukung gaya hidup ramah lingkungan di tingkat rumah tangga.

Program kerja ini menjadi bukti bahwa dengan kreativitas dan kemauan untuk belajar, sampah yang sering dianggap tidak berguna pun bisa disulap menjadi karya yang bermanfaat dan bernilai ekonomis, sekaligus menegaskan bahwa keberlanjutan sebuah usaha rumahan tidak hanya ditentukan oleh kreativitas, tetapi juga oleh komitmen terhadap standar mutu dan keselamatan konsumen.

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA