Wamenkomdigi Soroti Fenomena Zero Click, Tantangan Baru bagi Keberlanjutan Pers

Sabtu, 31 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kembali menjadi sorotan serius bagi dunia pers.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa kemunculan fenomena zero click kini menjadi tantangan nyata bagi keberlangsungan industri media dan profesi wartawan.

Pernyataan itu disampaikan Nezar dalam agenda Retreat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2026 yang digelar di Bogor, Jumat (30/1/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam forum tersebut, Nezar mengajak insan pers untuk tidak menutup mata terhadap perubahan besar yang sedang berlangsung di ekosistem informasi global.

Menurut Nezar, teknologi AI telah menggeser lanskap jurnalisme secara signifikan. Tidak hanya mengubah cara berita diproduksi, AI juga memengaruhi pola distribusi dan konsumsi informasi di masyarakat.

Baca juga:  PURANA MERAYAKAN SEMANGAT KARTINI MELALUI KOLABORASI EKSKLUSIF BERSAMA INITARKI DAN "RESTO TAKEOVER" DI DAILAH

Jika sebelumnya media massa menjadi pintu utama publik untuk memperoleh berita, kini peran tersebut mulai bergeser.

Dominasi platform digital berbasis algoritma dan layanan AI membuat informasi dapat tersaji secara instan, ringkas, dan langsung menjawab kebutuhan pengguna.

“Perkembangan ini bukan sekadar soal teknologi, tapi juga soal perubahan perilaku publik dalam mengakses berita,” kata Nezar.

Nezar menjelaskan, dunia pers saat ini menghadapi fenomena yang dikenal sebagai zero click.

Dalam kondisi ini, pembaca sudah mendapatkan inti informasi langsung dari mesin pencari atau layanan AI, tanpa perlu mengunjungi situs media sebagai sumber asli berita.

Zero click terjadi ketika mesin pencari seperti Google atau platform AI menampilkan ringkasan berita secara langsung di halaman hasil pencarian. Akibatnya, pengguna tidak lagi mengklik tautan menuju portal berita resmi.

Baca juga:  RSJPD Harapan Kita – Tokushukai Capai Topping Off, PTPP Hadirkan Smart Hospital Berteknologi Tinggi

“Publik cukup membaca ringkasan yang dihasilkan AI, tanpa harus masuk ke media yang memproduksi berita tersebut,” ujarnya.

Fenomena ini dinilai sebagai konsekuensi dari kecanggihan teknologi AI yang berkembang sangat cepat, hingga mampu menyajikan informasi secara mandiri.

Lebih jauh, Nezar menekankan bahwa zero click membawa dampak langsung terhadap trafik media digital. Ketika pembaca tidak lagi mengunjungi situs berita, maka pendapatan iklan, eksposur, dan keberlanjutan bisnis media ikut tergerus.

Distribusi berita pun tidak sepenuhnya berada di bawah kendali redaksi. Arus informasi kini banyak ditentukan oleh algoritma platform digital yang bekerja dengan AI.

Baca juga:  Kolaborasi BINUS Online dan Tribun: Mendorong Literasi Jurnalistik Generasi Muda di Era Digital

“Akses arus berita saat ini tengah dikendalikan oleh platform yang berbasis kecerdasan buatan,” tegas Nezar.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Nezar mengutip hasil riset dari Reuters Institute bekerja sama dengan University of Oxford.

Dalam riset itu, terungkap adanya penurunan optimisme di kalangan pelaku media terkait masa depan jurnalisme.

Bahkan, trafik media digital dalam riset tersebut disebut mengalami penurunan hingga lebih dari 40 persen.

Penurunan ini sejalan dengan meningkatnya konsumsi informasi melalui platform dan layanan AI, yang tidak lagi mengarahkan pengguna ke portal berita resmi.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Holding Perkebunan Nusantara Dorong Kinerja Kopi PalmCo Tetap Solid di Tengah Tekanan Cuaca
KAI Hadirkan KA Sangkuriang Rute Bandung – Ketapang, Perkuat Konektivitas Jawa Barat hingga Ujung Timur Jawa
Sinyal Bahaya untuk Nvidia? Google Siapkan Gebrakan Besar di AI
Perkuat Sinergi Akademik dan Industri Global, KLTC Lakukan MoU Dengan Enigma Business School (EBS)
Perbedaan WF vs H Beam untuk Gudang & Pabrik: Mana Lebih Hemat Jangka Panjang?
Kartini Masa Kini di Industri Hospitality: Perempuan di Balik Topotels Hotels & Resorts
Peringati Hari Kartini, Frontliner BRI Branch Office Rawamangun Tampil Anggun Berkebaya
Menteri Pariwisata Tinjau Pengembangan Danau Toba di Samosir

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 17:03 WIB

Holding Perkebunan Nusantara Dorong Kinerja Kopi PalmCo Tetap Solid di Tengah Tekanan Cuaca

Selasa, 21 April 2026 - 17:03 WIB

KAI Hadirkan KA Sangkuriang Rute Bandung – Ketapang, Perkuat Konektivitas Jawa Barat hingga Ujung Timur Jawa

Selasa, 21 April 2026 - 17:03 WIB

Sinyal Bahaya untuk Nvidia? Google Siapkan Gebrakan Besar di AI

Selasa, 21 April 2026 - 17:03 WIB

Perkuat Sinergi Akademik dan Industri Global, KLTC Lakukan MoU Dengan Enigma Business School (EBS)

Selasa, 21 April 2026 - 16:03 WIB

Perbedaan WF vs H Beam untuk Gudang & Pabrik: Mana Lebih Hemat Jangka Panjang?

Berita Terbaru