PDIP Kaji Ulang Ambang Batas Parlemen, Serap Aspirasi Rakyat hingga Daerah

Minggu, 1 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) belum mengambil sikap final terkait besaran ambang batas parlemen atau parliamentary threshold pada pemilu mendatang. Partai berlambang banteng moncong putih itu memilih bersikap hati-hati dengan terlebih dahulu melakukan kajian mendalam, termasuk menyerap aspirasi masyarakat di berbagai tingkatan.

Langkah ini diambil di tengah wacana publik yang kembali mengemuka soal efektivitas sistem kepartaian dan kualitas representasi politik di parlemen.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, pembahasan ambang batas parlemen tidak bisa dilakukan secara sederhana. Menurutnya, perlu ada pertimbangan yang matang, baik di tingkat nasional maupun daerah.

“Ini melakukan kajian, karena kita harus berbicara bagaimana di tingkat provinsi, bagaimana di tingkat kabupaten/kota. Kami harus melihat bagaimana kehendak rakyat dalam memandang pentingnya aspek representasi melalui keberadaan partai politik di parlemen,” ujar Hasto kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Untuk mendukung proses tersebut, PDIP membentuk tim ahli yang melibatkan berbagai unsur, termasuk Megawati Institute sebagai think tank partai. Lembaga tersebut akan melakukan kajian akademik dan politik secara komprehensif sebelum PDIP menentukan sikap resmi.

Hasto menjelaskan, konsep parliamentary threshold bukanlah hal baru dalam demokrasi Indonesia. Ia menyinggung Pemilu 1999, yang diikuti oleh 48 partai politik, sebagai titik awal pembelajaran dalam mengelola sistem multipartai.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 26 Dorong Budaya Baca E-Book serta Program Bimbingan Belajar di Kelurahan Palebon

Menurutnya, dalam sistem presidensial seperti Indonesia, ambang batas parlemen masih diperlukan untuk menjaga efektivitas pemerintahan. Tanpa mekanisme tersebut, fragmentasi partai di parlemen berpotensi menghambat proses pengambilan keputusan.

“Prinsip konsolidasi demokrasi dan penguatan sistem presidensial membutuhkan padanan multipartai yang lebih sederhana. Karena itu, parliamentary threshold tetap diperlukan, dan rakyatlah yang menentukan partai mana yang lolos ke parlemen,” kata Hasto.

Di sisi lain, wacana penyesuaian ambang batas parlemen juga datang dari kalangan akademisi. Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengusulkan agar parliamentary threshold diturunkan secara bertahap.

Baca juga:  KKN UIN Walisongo Mengunjungi Proses Pembuatan Jenang untuk Menyambut Acara Merti Dusun di Desa Wirogomo

Peneliti CSIS Arya Fernandes menyarankan ambang batas diturunkan menjadi 3,5 persen pada Pemilu 2029, lalu kembali diturunkan menjadi tiga persen pada Pemilu 2034 dan seterusnya. Menurutnya, angka yang terlalu tinggi berisiko mengurangi keterwakilan politik, sementara angka yang terlalu rendah justru memicu fragmentasi berlebihan di DPR.

“Kita harus mencari titik temu yang moderat agar sistem partai tetap efektif, mencegah kebuntuan legislasi, dan sekaligus menjaga derajat keterwakilan,” ujar Arya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum bersama Komisi II DPR RI.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

BRI Finance Perkuat Awareness Pembiayaan Komersial di Ajang LiuGong Customer Gathering 2026
Rupiah Kembali Tertekan Ke-level Terendah Rp17.300 per Dolar AS, Trading Volume $USDT dan $BTC di Bittime Melonjak dalam 24 Jam
Perkuat Konektivitas Menuju Kawasan Wisata Unggulan, Jasa Marga Pastikan Kesiapan Akses Ratu Boko Jalan Tol Jogja-Solo
Tunjukkan Kiprah Nyata melalui Inovasi Berkelanjutan Terobosan Pertama di Indonesia, Srikandi Jasa Marga Raih Anugerah Kartini Infrastruktur 2026
KAI Terapkan Sistem Kelistrikan Berlapis untuk Menjamin Keandalan Operasional LRT Jabodebek
Peringati Hari Kartini, Frontliner BRI Kantor Cabang Khusus Tampil Beda dengan Pakaian Nasional
E-Wallet Makin Jadi Andalan: Cara Kerja, Tren Pengguna, dan Biayanya
Inaugurasi Horison IJ Kudus, Hadir Sebagai Ikon Baru Business & Lifestyle di Kota Kretek

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 22:03 WIB

BRI Finance Perkuat Awareness Pembiayaan Komersial di Ajang LiuGong Customer Gathering 2026

Kamis, 23 April 2026 - 20:03 WIB

Rupiah Kembali Tertekan Ke-level Terendah Rp17.300 per Dolar AS, Trading Volume $USDT dan $BTC di Bittime Melonjak dalam 24 Jam

Kamis, 23 April 2026 - 20:03 WIB

Perkuat Konektivitas Menuju Kawasan Wisata Unggulan, Jasa Marga Pastikan Kesiapan Akses Ratu Boko Jalan Tol Jogja-Solo

Kamis, 23 April 2026 - 19:03 WIB

KAI Terapkan Sistem Kelistrikan Berlapis untuk Menjamin Keandalan Operasional LRT Jabodebek

Kamis, 23 April 2026 - 19:03 WIB

Peringati Hari Kartini, Frontliner BRI Kantor Cabang Khusus Tampil Beda dengan Pakaian Nasional

Berita Terbaru