Simperum Jateng Terintegrasi dengan Kementerian PKP, Percepat Penanganan RTLH dan Backlog Perumahan

Jumat, 13 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menunjukkan keseriusannya dalam mengatasi persoalan perumahan, terutama rumah tidak layak huni (RTLH) dan backlog kepemilikan rumah.

Salah satu langkah strategis yang kini diperkuat adalah integrasi Sistem Informasi Manajemen Perumahan (Simperum) dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).

Melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jawa Tengah dan Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (BP3KP) Jawa III, Rabu (12/2/2026), sinergi pusat dan daerah di sektor perumahan kian solid. Kerja sama ini membuka akses data perumahan Jawa Tengah secara legal dan real time bagi pemerintah pusat.

Langkah ini bukan sekadar formalitas administratif, tetapi menjadi bagian penting dalam percepatan program nasional seperti Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dan target pembangunan 3 juta rumah.

Kepala BP3KP Jawa III Kementerian PKP, Aldino Herupriawan, menegaskan bahwa integrasi Simperum sangat membantu pemerintah pusat dalam mendapatkan data perumahan yang akurat dan terus diperbarui.

Baca juga:  Wagub Jateng Pastikan Rumah Pompa Semarang Siaga Hadapi Musim Hujan

Menurutnya, kebutuhan akan satu data yang valid menjadi kunci dalam menjalankan program BSPS secara tepat sasaran. Selama ini, tantangan terbesar dalam penanganan backlog perumahan adalah perbedaan dan keterbatasan data antarwilayah.

“Dengan akses ke Simperum, kami bisa langsung melihat data RTLH dan backlog kepemilikan rumah di Jawa Tengah tanpa harus meminta satu per satu ke kabupaten atau kota. Datanya dinamis dan selalu diperbarui,” ungkapnya.

Keunggulan Simperum terletak pada kemampuannya mengintegrasikan data hingga level kependudukan. Proses verifikasi dan validasi menjadi lebih cepat dan efisien, sehingga potensi tumpang tindih atau kesalahan sasaran dapat ditekan.

Dalam kerja sama tersebut, sistem Simperum juga direplikasi dan dihubungkan dengan platform Klinik PKP milik kementerian. Artinya, data backlog dan RTLH di Jawa Tengah kini bisa dipantau langsung oleh pemerintah pusat secara real time melalui aplikasi resmi kementerian.

Baca juga:  Indonesia Perkuat Perlindungan Anak, PPPA dan UNICEF Soroti Kemajuan serta Tantangan ke Depan

Di sisi lain, Kepala Disperakim Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, menyebut kerja sama ini sebagai langkah konkret memperkuat kolaborasi pusat dan daerah dalam penanganan perumahan.

Ia menjelaskan, Simperum sejak awal dikembangkan sebagai basis data awal penyelesaian backlog perumahan, baik dari aspek kelayakan huni maupun kepemilikan.

Sistem ini telah menjangkau hingga tingkat desa, sehingga pembaruan data bisa dilakukan lebih cepat dan akurat.

“Akun sudah terdistribusi sampai kabupaten dan desa. Progres penanganan RTLH bisa dimonitor kapan saja secara real time,” jelas Boedyo.

Model ini membuat pengelolaan data tidak lagi bersifat sentralistik, melainkan partisipatif. Pemerintah desa, yang paling memahami kondisi warganya, dapat langsung memperbarui data di sistem.

Hasilnya, kebijakan yang diambil di tingkat provinsi maupun pusat menjadi lebih berbasis kebutuhan riil di lapangan.

Langkah tersebut juga selaras dengan semangat Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam mendorong gerakan Ngopeni Omah Nglakoni Sesarengan—merawat rumah dan membangun bersama-sama. Pendekatan ini menekankan kolaborasi, bukan sekadar program bantuan satu arah.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UIN Walisongo Dukung Pengembangan UMKM di Desa Cacaban Melalui Pemberian Banner Promosi

Tidak berlebihan jika Jawa Tengah disebut sebagai salah satu provinsi dengan database perumahan paling lengkap dan inovatif di tingkat nasional. Sistem yang terintegrasi dan terus diperbarui membuatnya menjadi rujukan bagi pemerintah pusat.

Dalam konteks yang lebih luas, persoalan backlog perumahan memang menjadi tantangan nasional. Pertumbuhan keluarga baru, keterbatasan akses pembiayaan, serta kondisi ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah, menjadi faktor yang memengaruhi tingginya kebutuhan rumah layak huni.

Dengan adanya Simperum yang terhubung langsung ke Kementerian PKP, proses perencanaan, penganggaran, hingga pelaksanaan program seperti BSPS dapat dilakukan dengan lebih presisi.

Integrasi ini juga memperkuat transparansi dan akuntabilitas, karena setiap tahapan dapat dipantau secara terbuka oleh pihak terkait.

Ke depan, seluruh proses—mulai dari pendataan calon penerima, verifikasi, hingga pelaksanaan pembangunan—akan semakin terpantau dan terdokumentasi dalam satu sistem terpadu.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Jawa Tengah Targetkan Pangkas Backlog 274 Ribu Unit Rumah, Kolaborasi Jadi Kunci Percepatan
Gus Yasin Apresiasi Pengungkapan Penyelundupan 90 Ton Kratom di Tanjung Emas, Tegaskan Komitmen Jaga Integritas Ekspor
Harga Cabai Rawit Tembus Rp85 Ribu, Pemprov Jateng Gelar Operasi Pasar di 15 Daerah
Zakat Nasional Tembus Rp40,5 Triliun, Menag Dorong Pengawasan Makro agar Distribusi Lebih Adil
Pesantren Kilat di Masjid Al-Ikhlas Desa Leyangan, Mahasiswa KKN UPGRIS Perkuat Karakter Religius Generasi Muda
Embung Geblog Resmi Dimanfaatkan, Petani Kaloran Tak Lagi Pikul Air Saat Kemarau
Target Pertumbuhan 6 Persen di Awal 2026, Pemerintah Andalkan Belanja Negara Rp 809 Triliun
Sahur on The Road, Aksi Kepedulian Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 9 Desa Leyangan

Berita Terkait

Kamis, 26 Februari 2026 - 09:17 WIB

Jawa Tengah Targetkan Pangkas Backlog 274 Ribu Unit Rumah, Kolaborasi Jadi Kunci Percepatan

Kamis, 26 Februari 2026 - 08:03 WIB

Gus Yasin Apresiasi Pengungkapan Penyelundupan 90 Ton Kratom di Tanjung Emas, Tegaskan Komitmen Jaga Integritas Ekspor

Rabu, 25 Februari 2026 - 15:35 WIB

Harga Cabai Rawit Tembus Rp85 Ribu, Pemprov Jateng Gelar Operasi Pasar di 15 Daerah

Rabu, 25 Februari 2026 - 09:44 WIB

Zakat Nasional Tembus Rp40,5 Triliun, Menag Dorong Pengawasan Makro agar Distribusi Lebih Adil

Selasa, 24 Februari 2026 - 08:22 WIB

Embung Geblog Resmi Dimanfaatkan, Petani Kaloran Tak Lagi Pikul Air Saat Kemarau

Berita Terbaru