Jatengvox.com – Warga Desa Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes, selama bertahun-tahun mengandalkan air isi ulang untuk kebutuhan minum. Intrusi air laut membuat sebagian besar sumur warga terasa asin dan tidak layak konsumsi.
Kondisi tersebut memaksa warga membeli air dari luar desa dengan harga yang relatif tinggi. Dalam beberapa bulan terakhir, kebutuhan air minum mulai terbantu setelah satu unit mesin desalinasi beroperasi di desa pesisir tersebut.
Mesin desalinasi mengolah air payau menjadi air tawar melalui sistem penyaringan dan reverse osmosis. Air hasil pengolahan tersebut digunakan sebagai air minum bagi warga sekitar.
Kapasitas produksi mesin cukup untuk memenuhi kebutuhan ratusan rumah tangga. Pengelolaannya diserahkan kepada kelompok pengelola air desa agar operasional dan perawatan berjalan berkelanjutan.
Salah satu warga Randusanga Kulon, Sri Hastutik, mengatakan harga air dari desalinasi lebih murah dibanding air isi ulang yang biasa dibeli warga.
“Sekarang per galon sekitar Rp2.500. Sebelumnya bisa sampai Rp5.000,” ujarnya.
Selain lebih terjangkau, jarak pengambilan air juga lebih dekat karena berada di dalam desa.
Keberadaan mesin desalinasi di Randusanga Kulon merupakan bagian dari program penyediaan air bersih Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di wilayah pesisir utara. Program ini menyasar daerah yang mengalami kesulitan air bersih akibat intrusi air laut.
Teknologi desalinasi dipilih karena mampu memanfaatkan sumber air yang tersedia di wilayah pesisir, sekaligus mengurangi ketergantungan warga pada air dari luar desa.
Meski membantu kebutuhan warga, desalinasi bukan solusi tunggal bagi persoalan air bersih di pesisir. Operasional mesin membutuhkan perawatan dan biaya listrik yang harus dikelola secara konsisten.
Pemerintah daerah berharap pengelolaan berbasis desa dapat menjaga keberlanjutan layanan, sehingga akses air minum bagi warga pesisir dapat terus terjaga.
Editor : Murni A













