Mensos Dorong Penyempurnaan Data Disabilitas Nasional demi Bantuan yang Lebih Tepat Sasaran

waktu baca 2 menit
Senin, 26 Jan 2026 10:15 15 jatengvox

Jatengvox.com – Pemerintah menegaskan kembali pentingnya data yang akurat sebagai fondasi kebijakan sosial. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menilai, pembenahan data penyandang disabilitas nasional menjadi pekerjaan mendesak agar tidak ada kelompok rentan yang tertinggal dari intervensi negara.

Penegasan tersebut disampaikan Mensos saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-60 Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) di Jakarta, Minggu, 25 Januari 2026.

Dalam kesempatan itu, Mensos yang akrab disapa Gus Ipul mengutip Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Berdasarkan data tersebut, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 15.262.448 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 4.291.068 orang merupakan penyandang disabilitas sensorik netra.

Namun demikian, Gus Ipul menegaskan bahwa angka tersebut belum bisa dianggap final. Menurutnya, data bukan sekadar deretan statistik, melainkan representasi nyata kehidupan warga negara.

“Data ini belum sempurna dan harus terus disempurnakan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa data menyangkut identitas, alamat, hingga kondisi sosial yang menentukan arah kebijakan pemerintah.

Baca juga:  Kemenkes dan KKI Perkuat Sinergi untuk Jaga Profesionalisme Tenaga Medis Nasiona

Gus Ipul mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, organisasi masyarakat, hingga komunitas disabilitas, untuk terlibat aktif dalam proses verifikasi dan pemutakhiran data.

Menurutnya, pembaruan data diperlukan agar tidak ada penyandang disabilitas yang luput dari perhatian negara. Terlebih, sistem pembagian desil berbasis data menjadi penentu utama dalam penyaluran bantuan sosial.

“Kalau datanya tidak akurat, maka bantuan berpotensi tidak tepat sasaran. Padahal keadilan sosial harus dimulai dari data yang benar,” tegasnya.

Mensos menjelaskan, intervensi pemerintah terhadap penyandang disabilitas tidak hanya sebatas bantuan sosial. Kementerian Sosial juga menyiapkan program rehabilitasi dan pemberdayaan yang lebih berkelanjutan.

Baca juga:  Tren Bisnis Skincare 2026: Mengapa Jasa Maklon Kosmetik Jadi Pilihan Utama UMKM?

Bagi penyandang tuna netra, Kemensos menyalurkan alat bantu adaptif untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Selain itu, program pemberdayaan vokasi terus dikembangkan guna mendorong kemandirian ekonomi.

Penguatan literasi juga menjadi perhatian, salah satunya melalui penyediaan bahan bacaan Braille agar akses terhadap informasi dan pendidikan semakin terbuka.

Gus Ipul menekankan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks, sehingga penyandang disabilitas tidak boleh hanya diposisikan sebagai penerima bantuan. Mereka harus dilibatkan secara aktif dalam pembangunan.

“Kita butuh kerja bersama menuju kemandirian dan martabat,” ujarnya.

Baca juga:  PT Pelindo Sinergi Lokaseva Berbagi Hewan Kurban, Perkuat Kepedulian Sosial dan Dukung Peternak Lokal

Menurutnya, penyempurnaan data bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk untuk menghadirkan kebijakan yang lebih adil, inklusif, dan berdampak nyata bagi kehidupan penyandang disabilitas di Indonesia.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA