Manfaatkan Galon Bekas, Mahasiswa KKN Undip Ajak KWT Bentak Olah Sampah Organik Jadi Pupuk Cair

waktu baca 3 menit
Jumat, 21 Agu 2026 13:07 13 Redaksi

Jatengvox.com — Sampah organik rumah tangga kini punya jalan keluar baru di Desa Bentak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) memperkenalkan komposter sederhana berbahan galon air mineral bekas yang dilengkapi sistem drainase air lindi, dalam kegiatan yang digelar pada 2 Agustus 2026 di rumah Ibu Jumari, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT), Dusun Tlobongan RT 24.

Program bertajuk “Perancangan dan Pembuatan Komposter Sederhana Berbahan Galon Air Mineral Bekas dengan Sistem Drainase Air Lindi” ini lahir dari hasil survei mahasiswa kepada kader lingkungan dan perangkat Desa Bentak. Dari survei tersebut, ditemukan bahwa pengelolaan sampah organik rumah tangga masih menjadi persoalan yang belum banyak tersentuh solusi praktis di tingkat warga.

Menjawab persoalan itu, mahasiswa merancang komposter dengan memodifikasi galon air mineral bekas sebagai bejana utama pengomposan.

Sejumlah lubang kecil dibuat pada dinding galon untuk sirkulasi udara, sementara pada bagian bawah dipasang keran sebagai sistem drainase yang mengalirkan air lindi hasil dekomposisi sampah organik secara gravitasi menuju wadah penampung.

Posisi dan diameter lubang keran dirancang khusus agar warga dapat memanen air lindi dengan mudah, tanpa perlu membongkar komposter seperti pada metode konvensional menggunakan tong atau ember berlubang.

Fadholi Ahmad Linangkung, mahasiswa Program Studi D4 Rekayasa Perancangan Mekanik, Sekolah Vokasi, Universitas Diponegoro, berperan dalam merancang dan membuat komposter ini. Ia turut menyiapkan alat dan bahan, menjelaskan bagian serta fungsi komposter kepada anggota KWT, dan mendemonstrasikan cara kerja maupun tata cara penggunaannya secara langsung pada hari pelaksanaan.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UNDIP Perkuat dan Hidupkan Kembali Bank Sampah di Desa Semin

Pada kegiatan tersebut, mahasiswa membuat sekitar lima unit komposter yang kemudian didemonstrasikan tahap pembuatannya di hadapan anggota KWT.

Tidak berhenti pada demonstrasi, para anggota KWT turut mempraktikkan langsung proses pembuatan komposter didampingi mahasiswa. Kegiatan yang berlangsung interaktif ini diikuti oleh sekitar 15 orang anggota kelompok.

Setelah prototipe selesai dirakit, mahasiswa melakukan uji coba dengan mengisi komposter menggunakan sampah organik dan memantau laju produksi air lindi dari hari ke hari.

Hasilnya, dalam kurun waktu satu minggu, komposter tersebut sudah menghasilkan sekitar 100 mililiter air lindi yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair organik.

Baca juga:  Kemendikdasmen Pastikan Sekolah Terdampak Banjir di Sumatra Barat Tetap Layani Pembelajaran

Ketua KWT, Ibu Jumari, mengaku terbantu dengan adanya inovasi ini. Ia menyebut anggota kelompoknya menyambut antusias program yang dibawa mahasiswa KKN.

“Para kelompok wanita tani sangat terbantu dan tertarik dengan komposter ini. Kami juga sangat antusias dengan program kerja yang dijalankan oleh mahasiswa,” ujarnya.

Antusiasme yang ditunjukkan Ibu Jumari dan anggota KWT lainnya menjadi bukti bahwa solusi sederhana berbasis barang bekas mampu menjawab kebutuhan nyata warga desa.

Modifikasi berupa penambahan keran pada komposter terbukti efektif memudahkan proses pemanenan air lindi, dibandingkan desain komposter konvensional yang mengharuskan warga membongkar wadah untuk mengambil hasilnya.

Bagi mahasiswa, program ini menjadi salah satu upaya mendorong warga, khususnya anggota KWT, agar lebih mudah mengelola sampah organik rumah tangga secara mandiri. Dengan desain yang sederhana dan bahan yang mudah didapat, komposter ini diharapkan dapat direplikasi warga secara mandiri menggunakan galon bekas yang ada di rumah masing-masing.

Baca juga:  Jaga Kualitas Layanan Jalan Tol, PT JMTM Gelar Rekonstruksi Perkerasan di Sejumlah Titik Ruas Tol Cawang–Tomang–Pluit dan Jakarta–Tangerang

Ke depan, desain komposter dengan sistem keran ini berpotensi dikembangkan lebih lanjut, misalnya dengan penambahan indikator level cairan atau variasi ukuran lubang aerasi untuk mengoptimalkan kecepatan proses dekomposisi. Harapannya, inovasi ini dapat terus dimanfaatkan warga Desa Bentak sebagai solusi pengelolaan sampah organik yang murah, praktis, dan berkelanjutan, bahkan setelah masa KKN mahasiswa berakhir.

Program ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan KKN Tim II Universitas Diponegoro yang dilaksanakan di Desa Bentak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen.

Melalui program semacam ini, mahasiswa berupaya menghadirkan solusi teknologi tepat guna yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat, sekaligus mendorong kemandirian warga dalam mengelola lingkungan mereka sendiri.***

 

Penulis: Fadholi Ahmad Linangkung
Program Studi : D-4 Rekayasa Perancangan Mekanik, Sekolah Vokasi, Universitas Diponegoro

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA