Jatengvox.com – Mahasiswa KKN UNDIP berupaya menjawab persoalan sampah di Desa Karanganom, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, yang belum memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS). Melalui program “Optimalisasi Pengelolaan Sampah di Desa Karanganom dengan Alat Pembakar Sampah Minim Asap (Rocket Stove)”, mereka menghadirkan alternatif pengelolaan sampah yang lebih terarah dan ramah lingkungan.
Kondisi desa yang belum memiliki TPS membuat masyarakat terpaksa memilih membuang atau membakar sampah secara mandiri. Menanggapi hal tersebut, Haura Nur Sabrina, mahasiswa Program Studi Ekonomi yang tergabung dalam tim KKN, membawa pendekatan ekonomi melalui program “Edukasi Penyusunan Standar Perencanaan Biaya Operasional Insinerator Berbasis Volume Sampah untuk Meningkatkan Efisiensi.”
Pembuatan alat pembakar sampah minim asap atau Rocket Stove sendiri telah dilakukan pada 24 Juli 2026. Kehadiran alat ini diharapkan menjadi solusi bagi desa dalam menangani sampah yang selama ini tidak tertampung. Namun, operasional alat tersebut memerlukan bahan bakar dan biaya yang harus dikelola dengan baik agar penggunaannya tidak sia-sia.
“Jumlah sampah yang dihasilkan dan perlu dibakar dapat berubah dari waktu ke waktu. Jika kebutuhan bahan bakar tidak diperhitungkan dengan baik, penggunaan bahan bakar berpotensi menjadi tidak efisien, baik karena terjadi pemborosan maupun karena persediaan tidak mencukupi saat alat digunakan,” ungkap Haura.
Guna menindaklanjuti kebutuhan tersebut, pada 31 Juli 2026, tim mahasiswa menggelar sosialisasi di Balai Desa Karanganom. Dalam kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada pentingnya menyusun perencanaan biaya operasional berdasarkan volume sampah yang perlu ditangani.
Masyarakat diajak memahami bahwa pengelolaan sampah membutuhkan perhitungan matang, sehingga penggunaan biaya operasional dapat disesuaikan dengan kebutuhan sebenarnya.
Perencanaan ini tidak lagi sekadar berdasarkan perkiraan, tetapi mulai diarahkan pada standar yang dapat digunakan sebagai acuan oleh pengelola. Sebagai langkah keberlanjutan, program ini juga menghasilkan modul pedoman praktis bagi perangkat desa dan pengelola insinerator.
Modul tersebut dirancang agar pengelola memiliki gambaran jelas mengenai kebutuhan bahan bakar dan biaya operasional saat menangani volume sampah tertentu.
Keberadaan modul menjadi aspek krusial agar pengetahuan yang diberikan dalam kegiatan sosialisasi tetap dapat diterapkan meskipun masa KKN telah berakhir.
Program ini membuktikan bahwa persoalan sampah bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga memiliki dimensi ekonomi. Melalui kombinasi solusi teknologi, edukasi masyarakat, dan perencanaan ekonomi, Desa Karanganom kini memiliki langkah awal menuju pengelolaan sampah yang lebih terarah, tepat, efisien, dan berkelanjutan.
Penulis: Tim KKN UNDIP
Editor: Murni Anggita
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar