Mahasiswa KKN UIN Walisongo bersama umat Buddha saat Puja Bakti Purnama di Vihara Kartika Kusala, Temanggung, Jawa Tengah Jatengvox.com – Perbedaan keyakinan tidak menjadi batas untuk saling mengenal dan menghargai. Semangat itu tercermin dari kehadiran mahasiswa KKN MMK UIN Walisongo Semarang pada kegiatan Puja Bakti Purnama di Vihara Kartika Kusala, Dusun Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, pada 30 Juli 2026.
Kehadiran mahasiswa dalam kagiatan tersebut bukan sekedar menyaksikan rangkaian acara umat Buddha, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan di tengah keberagaman masyarakat.
Mahasiswa KKN UIN Walisongo turut mengikuti kegiatan sebagai bagian dari upaya mengenal tradisi keagamaan sekaligus menumbuhkan semangat toleransi selama menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Puja Bakti Purnama merupakan salah satu bentuk kebaktian umat Buddha yang dilaksanakan pada malam bulan purnama. Kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai sarana untuk melatih tubuh, perkataan, dan pikiran melalui penghormatan, pembacaan paritta atau doa, serta meditasi.
Meditasi secara sederhana merupakan latihan untuk memusatkan dan menenangkan pikiran agar seseorang dapat lebih sadar terhadap pikiran dan tindakannya.
Dalam praktiknya, Puja Bakti Purnama menjadi bagian dari upaya umat Buddha untuk mengembangkan diri serta menumbuhkan cinta kasih, belas kasih, empati, ketenangan, dan pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah kehidupan masyarakat Dusun Gletuk yang memiliki keberagaman keyakinan, kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang perjumpaan yang memperlihatkan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi masyarakat untuk hidup berdampingan dan saling menghormati.
Rangkaian Puja Bakti Purnama di Vihara Kartika Kusala diawali dengan sembahyang, dilanjutkan puja puji saji berupa renungan persembahan yang diiringi lagu, kemudian sembahyang dan meditasi.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pelimpahan jasa dan ditutup dengan makan bersama atau kenduri.
Kepala Vihara Kartika Kusala, Bapak Saryanto, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut secara sederhana dapat dimaknai sebagai selamatan pada malam bulan purnama dengan harapan keselamatan dan kebahagiaan bagi seluruh umat.
“Bahasanya itu selamatan malam bulan purnama, dengan harapan agar kita selamat. Selamatan ini diawali dengan sembahyang patidana, yaitu mendoakan para leluhur. Harapannya leluhur yang sudah meninggal bisa terlahir dalam alam yang bahagia. Kebajikan-kebajikan atau kebaikan yang sudah dilakukan itu dilimpahkan agar para leluhur yang mungkin terlahir di alam yang tidak bahagia nantinya bisa terkondisikan lahir di alam yang bahagia,” ujar Pak Saryanto.

Kehadiran mahasiswa KKN UIN Walisongo mendapat sambutan hangat dari umat Buddha di Vihara Kartika Kusala. Mahasiswa tidak hanya mengikuti dan menyaksikan rangkaian kegiatan, tetapi juga berbaur dengan masyarakat melalui makan bersama setelah ibadah selesai.
Salah satu mahasiswa KKN mengungkapkan bahwa pengalaman tersebut memberikan pembelajaran langsung mengenai arti toleransi.
Menurutnya, toleransi bukan hanya tentang menghormati keberadaan agama lain, tetapi juga kesediaan untuk mengenal dan memahami tradisi yang berbeda.
“Saya merasa senang bisa mengikuti kegiatan Puja Bakti Purnama secara langsung. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa perbedaan keyakinan bukan alasan untuk menjaga jarak. Justru dengan saling mengenal, kita bisa memahami bahwa setiap agama memiliki cara masing-masing dalam mengerjakan kebaikan. Bagi saya, pengalaman ini menjadi pelajaran tentang bagaimana menghargai perbedaan dan tetap bisa hidup berdampingan dengan masyarakat,” katanya.
Selain menjelaskan rangkaian Puja Bakti, Kepala Vihara Kartika Kusala juga menerangkan makna kenduri yang dilakukan setelah kegiatan ibadah.
Setiap umat membawa makanan dari rumah untuk kemudian dinikmati bersama. Makanan yang dibawa menjadi bagian dari simbol selamatan dan setelah dibuka menjadi milik bersama.
“Selamatan ini sebenarnya simbol-simbol. Dengan membawa makanan (uborampe), itu menjadi simbol selamatan biar selamatan dengan sembahyang. Selamatan harapannya biar semua hidup selamat, bahagia, sehat, tercukupi segalanya,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa dalam ajaran Buddha, perbuatan baik dan buruk memiliki konsekuensi bagi pelakunya.
“Ibarat kamu minum sebotol air putih, air putih itu adalah kebaikannya, dan sesendok garam adalah kejahatannya. Ketika kita minum satu botol dengan sesendok garam akan terasa asin. Itu artinya karma buruk akan berbuah kepada pelaku perbuatannya, karma itu akan sangat terasa. Itulah mengapa kita harus mengimbanginya, kita harus memperbanyak minum air putih lagi,” tuturnya.
Kepala Vihara Kartika Kusala Dusun Gletuk juga memberikan pesan kepada mahasiswa agar bisa mengambil nilai-nilai positif dari kegiatan tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Pesan saya untuk mas dan mbak, semoga bisa mengambil hal baik dalam kegiatan seperti ini, bisa dijalankan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika mas dan mbak sudah terjun ke masyarakat, pasti harapannya hidupnya selamat, banyak rezeki, bahagia. Dari semua kegiatan yang mas dan mbak saksikan tadi, bisa ditiru dan dipraktikkan dengan cara kalian masing-masing seperti meditasi dan memperbanyak ibadah. Seperti membaca Paritta kalau dalam Buddha, atau Al-Qur’an bagi umat muslim.”
Kegiatan Puja Bakti Purnama di Vihara Kartika Kusala menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa KKN UIN Walisongo dalam memahami kehidupan masyarakat yang beragam.
Perjumpaan tersebut menunjukan bahwa toleransi dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana, seperti menghadiri kegiatan keagamaan, mendengarkan penjelasan tentang tradisi umat lain, serta makan dan berinteraksi bersama tanpa memandang perbedaan keyakinan.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut tidak hanya memperluas wawasan mengenai tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi pembelajaran bahwa hidup berdampingan membutuhkan sikap terbuka, saling menghargai, dan kesediaan untuk menemukan nilai-nilai kebaikan dalam keberagaman.
Kehadiran mahasiswa KKN di tengah masyarakat diharapkan dapat mempererat hubungan dengan warga sekaligus menumbuhkan semangat toleransi sebagai bagian dari kehidupan bersama.
Penulis: Retno Anjani
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar