Belajar 5S Jepang Sambil Bermain, Mahasiswa KKNT IDBU-52 Tanamkan Kebiasaan Bersih dan Peduli Lingkungan Sejak Dini dalam Mendukung SDGs 3, SDGs 4, dan SDGs 12

waktu baca 5 menit
Rabu, 5 Agu 2026 20:20 6 jatengvox

Jatengvox.com – Membentuk kebiasaan hidup bersih, rapi, dan peduli terhadap lingkungan dapat dimulai sejak usia dini. Hal tersebut dilakukan mahasiswa KKNT IDBU-52 Universitas Diponegoro melalui program kerja “Penerapan Budaya 5S Jepang pada Anak Usia Dini” di TK Pertiwi 07, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Rabu (5/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti oleh siswa TK Pertiwi 07 dengan didampingi oleh guru. Program ini dilaksanakan dengan melihat pentingnya pembentukan karakter dan kebiasaan positif sejak usia dini.

Melalui kegiatan yang dikemas dengan permainan, video edukasi, lagu, dan praktik langsung, anak-anak diajak mengenal kebiasaan menjaga kebersihan, kerapian, serta lingkungan sekitar.

Kegiatan diawali dengan senam bersama yang diikuti oleh siswa dan mahasiswa KKNT IDBU-52. Setelah senam, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama sebelum anak-anak memasuki rangkaian pembelajaran.

Suasana kegiatan dibuat menyenangkan agar anak-anak dapat mengikuti setiap tahapan dengan antusias.

Setelah doa bersama, mahasiswa KKNT IDBU-52 mengajak anak-anak menyaksikan video edukasi singkat mengenai kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Video tersebut digunakan sebagai pengantar untuk memberikan gambaran sederhana mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Usai menyaksikan video, anak-anak diajak melakukan praktik memilah sampah organik dan anorganik.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UPGRIS Tingkatkan Kualitas Layanan PAUD Melalui DDTK di Kelurahan Gemah

Mahasiswa memberikan contoh jenis sampah yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak kemudian diminta mengelompokkan sampah sesuai dengan jenisnya.

Sampah anorganik yang telah dipilah kemudian dimasukkan ke dalam kardus yang telah disediakan.

Sementara itu, sampah organik dikumpulkan untuk dimanfaatkan dalam komposter sederhana.

Kegiatan menjadi semakin menarik ketika anak-anak diajak mempraktikkan pemanfaatan komposter yang telah disiapkan.

Kompos yang telah tersedia dituangkan oleh anak-anak ke dalam botol menggunakan corong. Setelah itu, anak-anak membawa botol tersebut dan menyiramkannya ke tanaman di lingkungan sekolah.

Aktivitas tersebut memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak mengenai pemanfaatan sampah organik.

Anak-anak tidak hanya belajar membedakan sampah berdasarkan jenisnya, tetapi juga diperkenalkan bahwa sampah tertentu dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Setelah kegiatan di luar kelas selesai, anak-anak kembali ke dalam kelas untuk mengikuti penyampaian materi mengenai budaya 5S Jepang. Mahasiswa memperkenalkan lima konsep dasar 5S, yaitu Seiri (整理/せいり), Seiton (整頓/せいとん), Seiso (清掃/せいそう), Seiketsu (清潔/せいけつ), dan Shitsuke (躾/しつけ).

Agar lebih mudah dipahami oleh anak usia dini, konsep 5S tersebut diadaptasi menjadi 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin.

Seiri diadaptasi menjadi Ringkas melalui kegiatan memilah barang yang diperlukan dan tidak diperlukan.

Seiton menjadi Rapi dengan menempatkan barang pada tempatnya. Seiso menjadi Resik melalui kegiatan membersihkan lingkungan. Seiketsu menjadi Rawat dengan menjaga kebersihan dan kerapian.

Sementara Shitsuke menjadi Rajin dengan membiasakan perilaku baik secara disiplin.

Baca juga:  Air Lebih Jernih, Pengeluaran Lebih Hemat: Cerita Warga Condet Bersama PAM JAYA

Penyampaian materi dilakukan menggunakan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan anak-anak.

Anak-anak diajak mengenali penerapan 5S di lingkungan sekolah, seperti memilih barang yang masih digunakan, merapikan mainan setelah bermain, membuang sampah pada tempatnya, membersihkan area kelas, serta membiasakan melakukan kebiasaan baik tanpa harus selalu diingatkan.

Penggunaan istilah Jepang menjadi pengalaman baru bagi siswa. Saat diajak mengucapkan kembali Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke, beberapa anak tampak kesulitan karena istilah tersebut masih terdengar asing. Meski demikian, mereka tetap antusias mencoba mengucapkannya bersama-sama.

Program “Penerapan Budaya 5S Jepang pada Anak Usia Dini” turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Keterkaitan dengan SDG 3 diwujudkan melalui pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Anak-anak dikenalkan bahwa lingkungan yang bersih dan terawat dapat menciptakan suasana belajar yang sehat, nyaman, dan menyenangkan.

Sementara itu, SDG 4 diwujudkan melalui pendidikan karakter dan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini.

Penggunaan video, permainan, praktik langsung, dan pengenalan budaya Jepang memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga membangun kebiasaan positif.

Adapun SDG 12 diterapkan melalui kegiatan pemilahan dan pemanfaatan sampah. Anak-anak diajak mengenali sampah organik dan anorganik serta melihat secara langsung bagaimana sampah organik dapat dimanfaatkan melalui komposter.

Baca juga:  Dorong Ekspansi Pembiayaan, BRI Finance Siapkan Obligasi 2026

Kegiatan tersebut menjadi langkah sederhana untuk mengenalkan penggunaan dan pengelolaan barang secara lebih bertanggung jawab.

Aulia Rifdah Muna Nida’, selaku penanggung jawab program kerja, menjelaskan bahwa konsep 5S sengaja disederhanakan menjadi 5R agar lebih mudah diterima oleh anak usia dini. 

“Kegiatan ini dirancang agar anak-anak tidak hanya mengenal istilah 5S, tetapi juga memahami maknanya melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan mereka. Karena sasarannya anak usia dini, konsep 5S kami sederhanakan menjadi 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin. Harapannya, kebiasaan tersebut dapat terus dilakukan meskipun kegiatan sudah selesai,” ujar Aulia.

Kegiatan berlangsung dengan antusias. Anak-anak terlihat aktif mengikuti setiap tahapan, mulai dari senam, menyaksikan video, memilah sampah, mempraktikkan penggunaan komposter, hingga mengikuti penyampaian materi 5S di dalam kelas.

Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya mengenal budaya 5S Jepang, tetapi juga mampu menerapkannya melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ringkas dalam memilih, Rapi dalam menata, Resik dalam membersihkan, Rawat dalam menjaga, dan Rajin dalam membiasakan perilaku baik menjadi nilai yang diharapkan dapat terus diterapkan oleh anak-anak di sekolah maupun di rumah.

“Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke → 5S menjadi langkah kecil untuk membentuk anak yang rapi, bersih, disiplin, dan bertanggung jawab.”

 

 

Penulis: Aulia Rifdah Muna Nida’, Mahasiswa Prodi Bahasa dan Kebudayaan Jepang (BKJ) UNDIP

Editor: Murni Anggita

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA