AI Voice dan Deepfake Tantang Regulasi Hak Cipta, Kemenkum Dorong Revisi UU

Selasa, 10 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melaju jauh lebih cepat dibandingkan regulasi yang mengaturnya.

Di satu sisi, teknologi seperti AI voice dan deepfake membuka ruang inovasi yang luas bagi industri kreatif.

Namun di sisi lain, kehadirannya juga memunculkan ancaman serius terhadap perlindungan hak cipta dan hak personal para kreator.

Kementerian Hukum (Kemenkum) menilai, aturan hak cipta nasional saat ini belum sepenuhnya siap menghadapi lonjakan teknologi berbasis AI.

Undang-Undang Hak Cipta yang berlaku sejak 2014 disusun pada masa ketika AI belum berkembang seperti sekarang.

Kondisi ini mendorong pemerintah untuk mulai memikirkan ulang kerangka hukum agar tetap relevan dengan zaman.

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (Dirjen KI) Kemenkum, Hermansyah Siregar, menegaskan bahwa revisi Undang-Undang Hak Cipta menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan teknologi AI.

Baca juga:  Mesin Desalinasi Mulai Ubah Akses Air Bersih di Pesisir Jawa Tengah

Menurutnya, karya berbasis AI tidak bisa serta-merta disamakan dengan ciptaan manusia. Peran manusia tetap menjadi faktor utama dalam menentukan status hukum dan hak ekonomi sebuah karya.

“Undang-undang ini disusun tahun 2014, saat AI belum berkembang seperti sekarang. Karena itu, revisinya harus memasukkan pengaturan karya berbasis AI,” ujar Hermansyah dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.

Ia menambahkan, apabila sebuah karya dihasilkan sepenuhnya oleh AI tanpa campur tangan kreativitas manusia, maka hak ekonominya tidak bisa langsung disamakan dengan karya cipta konvensional.

“Kalau 100 persen dibuat AI tanpa campur tangan rasa dan cipta manusia, menurut saya tidak serta-merta dikenakan kewajiban royalti,” jelasnya.

Baca juga:  Perpisahan KKN UIN Walisongo di Desa Pidodowetan Berlangsung Penuh Haru

Dari sisi pelaku industri kreatif, kehadiran AI memang memberi kemudahan. Musisi Ariel mengakui bahwa teknologi ini dapat membantu proses kreatif, mulai dari eksplorasi ide hingga produksi karya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan aturan yang jelas agar tidak merugikan kreator.

Salah satu kekhawatiran utama adalah penggunaan karya dan identitas kreator sebagai data pelatihan AI, termasuk peniruan gaya bermusik dan suara.

“AI tidak mungkin dilarang, tetapi juga tidak bisa dibiarkan tanpa aturan. Teknologi harus membantu manusia, bukan menggantikannya,” kata Ariel.

Ia menyoroti persoalan mendasar terkait kepemilikan data. Ketika AI mampu meniru gaya lirik atau suara seorang musisi, muncul pertanyaan tentang hak atas data tersebut.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 5 Hadirkan Pojok Baca Kreatif di TK Al Mujahidin Kaligawe

“Kalau AI meniru gaya lirik atau suara saya, datanya dari saya. Pertanyaannya, itu hak saya atau boleh dipakai bebas?” tegasnya

Guru Besar Hak Kekayaan Intelektual Universitas Indonesia, Agus Sardjono, menjelaskan bahwa karya berbasis AI melibatkan setidaknya tiga unsur penting: programmer, data set, dan pengguna.

Karena itu, ia menilai transparansi menjadi hal krusial dalam ekosistem AI, terutama dalam konteks hak cipta dan pengakuan karya.

“Kalau lagu dibuat dengan AI, harus jujur bahwa itu bukan murni ciptaan manusia. Tinggal bagaimana negara menetapkan status hukumnya,” ujar Agus.

Menurutnya, kejelasan status karya akan membantu mencegah konflik di kemudian hari, baik antara kreator, pengembang teknologi, maupun pengguna.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Sehari Bersama Al-Qur’an, Salimah dan Ikadi Gelar Tilawah, Seminar Palestina, dan Buka Puasa Bersama
Sambut Ramadan, Said Abdullah Gelar Kegiatan Nyambheng Taretan di Situbondo
THR ASN 2026 Kapan Cair? Ini Perkiraan Jadwal dan Rincian Nominal yang Disiapkan Pemerintah
PPPK Paruh Waktu 2026 Dihapus? Ini Penjelasan Resmi Pemerintah
Kemenag Hadirkan Semesta Ramadan Asri di IKN, Perkuat Peran Zakat dan Wakaf untuk Ekonomi Umat
MTQ Diusulkan Digelar Setiap Tahun, Menag Nilai Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Siswa Difabel Tampil Percaya Diri di D’Modifest 2026 Semarang, Panggung Inklusif yang Menggetarkan Hati
ASN Turun Tangan Bersihkan Kantor, Gerakan Jateng ASRI Kian Nyata di Jalan Pahlawan Semarang

Berita Terkait

Senin, 2 Maret 2026 - 20:53 WIB

Sehari Bersama Al-Qur’an, Salimah dan Ikadi Gelar Tilawah, Seminar Palestina, dan Buka Puasa Bersama

Senin, 2 Maret 2026 - 16:29 WIB

Sambut Ramadan, Said Abdullah Gelar Kegiatan Nyambheng Taretan di Situbondo

Senin, 2 Maret 2026 - 09:10 WIB

THR ASN 2026 Kapan Cair? Ini Perkiraan Jadwal dan Rincian Nominal yang Disiapkan Pemerintah

Senin, 2 Maret 2026 - 06:21 WIB

PPPK Paruh Waktu 2026 Dihapus? Ini Penjelasan Resmi Pemerintah

Minggu, 1 Maret 2026 - 14:25 WIB

Kemenag Hadirkan Semesta Ramadan Asri di IKN, Perkuat Peran Zakat dan Wakaf untuk Ekonomi Umat

Berita Terbaru