MTQ Diusulkan Digelar Setiap Tahun, Menag Nilai Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Minggu, 1 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) berpotensi mengalami perubahan besar. Menteri Agama Nasaruddin Umar mewacanakan agar ajang tersebut digelar setiap tahun secara nasional, tidak lagi bergantian dengan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) seperti selama ini.

Gagasan itu disampaikan saat menghadiri Anugerah Pekan Tilawatil Quran (PTQ) ke-55 yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).

Di hadapan para pegiat Al-Qur’an dan tamu undangan, Menag menyebut sudah saatnya MTQ dikembalikan menjadi agenda tahunan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, secara substansi pelaksanaan STQ dan MTQ tidak memiliki perbedaan yang terlalu signifikan, khususnya di tingkat daerah. Keduanya sama-sama disambut meriah, membutuhkan persiapan besar, dan melibatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah serta masyarakat.

Baca juga:  Presiden Prabowo Kumpulkan Menteri Bahas Pangan hingga Program Makan Bergizi Gratis

“Kita ingin kembalikan menjadi setiap tahun. Ini budaya rakyat yang besar. Di tingkat kecamatan maupun kabupaten, hampir tidak ada kegiatan yang semeriah MTQ. Masyarakat sangat merindukan syiar ini,” ujarnya.

Wacana tersebut tidak semata-mata berangkat dari semangat keagamaan. Menag menilai, MTQ juga memiliki dimensi ekonomi yang signifikan bagi daerah penyelenggara.

Selama ini, muncul anggapan bahwa menjadi tuan rumah MTQ membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Namun, menurut Menag, perhitungan yang lebih komprehensif justru menunjukkan sebaliknya. Ada efek ekonomi berantai atau multiplier effect yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 5 Ikut Serta dalam Peringatan Maulid Nabi di Masjid Al Mujahidin Kaligawe Kelurahan Susukan

Puluhan ribu peserta, official, dan pengunjung yang datang dari berbagai daerah menciptakan perputaran uang yang besar.

Sektor transportasi lokal bergerak, hotel dan penginapan penuh, rumah makan dan pedagang kaki lima kebanjiran pembeli.

Bahkan, pasar-pasar kaget yang tumbuh di sekitar arena lomba ikut menghidupkan pelaku UMKM.

Ia memberi gambaran sederhana: jika puluhan ribu orang membelanjakan rata-rata Rp500 ribu per hari, maka uang yang beredar di daerah tersebut bisa mencapai miliaran rupiah dalam waktu singkat. Belum termasuk belanja akomodasi dan kebutuhan lainnya.

“Setelah dihitung-hitung, pendapatan daerah justru lebih besar daripada pengeluarannya,” jelasnya.

Lebih dari sekadar kompetisi membaca Al-Qur’an, MTQ telah menjelma menjadi peristiwa sosial-budaya.

Baca juga:  Menakar Masa Depan Baja Nasional: Level Playing Field dan Data Objektif Jadi Kunci Hadapi Dominasi Impor

Di banyak daerah, MTQ menjadi momen kebanggaan kolektif. Warga terlibat sejak tahap persiapan, mulai dari penyambutan kafilah, dekorasi kota, hingga dukungan moral kepada peserta.

Di tingkat kecamatan dan kabupaten, euforia MTQ bahkan sering kali melampaui perayaan hari besar lainnya.

Pawai ta’aruf, panggung seni islami, hingga bazar rakyat menjadikan suasana lebih hidup. Tidak jarang, momentum ini juga dimanfaatkan pemerintah daerah untuk mempromosikan potensi wisata dan produk unggulan lokal.

Dalam konteks itu, gagasan menjadikan MTQ sebagai agenda tahunan dinilai bisa memperkuat ekosistem syiar Al-Qur’an sekaligus menjaga ritme pembinaan qari dan qariah secara berkelanjutan.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

KAI Divre IV Tanjungkarang Salurkan CSR Lebih dari Rp1,7 Miliar, Wujud Komitmen Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Kerja dari Hotel Jadi Tren Remote Work, Batam Tawarkan 24 Jam Produktif Sekaligus Recharge
Prodia Resmikan ‘Stemcell Clinic by Prodia’, Perkuat Layanan Preventif dan Regeneratif untuk Masa Depan Kesehatan
Pembatasan Ruang Udara China 2026 berdampak pada Sektor Pariwisata Indonesia
Jaga Keselamatan Perjalanan, Seluruh Pekerja LRT Jabodebek Jalani Medical Check-Up
Biosolar Dianggap Murahan? Justru Ini yang Dilakukan Pemilik SUV Diesel Cerdas Saat Harga Dexlite Meledak 70%
Dari Rollerblade hingga Kairo: Bagaimana 13 Anak di Rumah Singgah Menginspirasi Gerakan Sosial Baru Smart Salary
Tempat para pelari lahir, berkumpul, dan berkembang. “ALPEN RUN,” sebuah merek komunitas lari baru yang diluncurkan oleh Alpen, akan membuka toko pertamanya di Taman Meiji Metropolitan Tokyo pada hari Jumat, 24 April.

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 15:03 WIB

KAI Divre IV Tanjungkarang Salurkan CSR Lebih dari Rp1,7 Miliar, Wujud Komitmen Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Senin, 20 April 2026 - 14:04 WIB

Kerja dari Hotel Jadi Tren Remote Work, Batam Tawarkan 24 Jam Produktif Sekaligus Recharge

Senin, 20 April 2026 - 14:04 WIB

Prodia Resmikan ‘Stemcell Clinic by Prodia’, Perkuat Layanan Preventif dan Regeneratif untuk Masa Depan Kesehatan

Senin, 20 April 2026 - 13:03 WIB

Pembatasan Ruang Udara China 2026 berdampak pada Sektor Pariwisata Indonesia

Senin, 20 April 2026 - 12:03 WIB

Jaga Keselamatan Perjalanan, Seluruh Pekerja LRT Jabodebek Jalani Medical Check-Up

Berita Terbaru