Penanganan Muara Sungai Pascabencana Jadi Fokus Kementerian PU di Sumatra dan Aceh

Selasa, 20 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mulai memfokuskan perhatian pada penanganan muara sungai di sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Langkah ini menjadi bagian penting dari tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, menyusul peran strategis muara dalam mengendalikan banjir serta pergerakan sedimen dari sungai ke laut.

Muara sungai kerap menjadi titik krusial dalam sistem pengendalian banjir. Ketika terjadi pendangkalan atau penyempitan, aliran air dari hulu akan terhambat dan berpotensi meluap ke kawasan permukiman.

Kondisi inilah yang banyak ditemui setelah bencana hidrometeorologi melanda sejumlah wilayah di Sumatra dalam beberapa waktu terakhir.

Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, penanganan muara sungai tidak bisa dilakukan dengan pendekatan seragam.

Setiap sungai memiliki karakter aliran, volume sedimen, serta kondisi geografis yang berbeda-beda.

Baca juga:  Kolaborasi Spiritualitas dan Kebangsaan, Mahasiswa KKN MB Posko 03 Hadiri Pengajian Umum di Cepokomulyo

“Karakter aliran sungai itu berbeda. Karena itu metode penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi lapangan,” ujar Dody dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (19/12/2026).

Menurutnya, sebagian besar muara sungai yang terdampak membutuhkan penanganan menggunakan kapal keruk atau dredger.

Terutama pada muara sungai besar yang mengalami pendangkalan berat akibat sedimentasi pascabencana.

“Sebagian besar pembersihan muara itu membutuhkan dredger. Tidak bisa cukup hanya menggunakan alat berat biasa seperti excavator atau metode percepatan lainnya,” kata Dody.

Berdasarkan catatan Kementerian PU, terdapat 23 muara sungai terdampak di tiga provinsi tersebut. Di Provinsi Aceh, tercatat delapan muara terdampak.

Dari jumlah itu, satu muara telah ditangani, dua masuk tahap perencanaan, sementara lima lainnya belum tersentuh penanganan.

Di Sumatra Utara, terdapat sebelas muara terdampak. Delapan di antaranya sudah masuk rencana penanganan, sedangkan tiga muara masih menunggu tindak lanjut.

Baca juga:  Pemerintah Siapkan Kebijakan Nasional untuk Perkuat Ekosistem Musik Indonesia

Adapun di Sumatra Barat, empat muara terdampak tercatat, dengan tiga muara telah ditangani dan satu muara berada dalam rencana penanganan pemerintah daerah.

Data ini menunjukkan bahwa penanganan muara menjadi pekerjaan besar yang memerlukan waktu, perencanaan matang, serta koordinasi lintas sektor.

Menteri Dody juga menekankan pentingnya perencanaan desain dalam penggunaan dredger.

Material hasil pengerukan tidak bisa dibuang sembarangan dan harus memiliki tujuan yang jelas, baik untuk tanggul, reklamasi terbatas, maupun lokasi pembuangan yang aman.

“Kalau materialnya mau dijadikan tanggul, desainnya juga harus benar. Jangan sampai saat terjadi banjir berikutnya, tanggulnya tidak cukup kuat,” ujarnya.

Karena kompleksitas tersebut, penanganan muara sungai besar kini masuk dalam skema rehabilitasi dan rekonstruksi, bukan lagi sekadar penanganan darurat.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UIN Walisongo dan Ibu Fatayat Ubah Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi Ramah Lingkungan

Pada fase tanggap darurat, Kementerian PU sebelumnya memprioritaskan perkuatan tanggul eksisting serta normalisasi sungai di titik-titik kritis, terutama di kawasan perkotaan, agar aliran air tetap berjalan sementara.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II Medan, Feriyanto Pawenrusi, menilai muara sungai memiliki peran vital dalam sistem pengendalian banjir secara menyeluruh.

Menurutnya, pendangkalan dan penyempitan muara dapat memperlambat aliran sungai, menyebabkan air meluap ke permukiman, dan meningkatkan risiko banjir berulang, baik di wilayah hulu maupun hilir.

“Kondisi muara sangat menentukan. Jika tersumbat, sebaik apa pun normalisasi sungai di hulu, air tetap sulit keluar ke laut,” kata Feriyanto.

Ia menegaskan bahwa penanganan muara harus menjadi bagian integral dari strategi pengendalian banjir, bukan sekadar pelengkap.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

DPR Soroti Potensi Penyalahgunaan AI, Pemerintah Didorong Segera Siapkan Regulasi
Program Perlindungan Anak Diperluas, Pemerintah Siapkan Makan Bergizi hingga Aturan Media Sosial
Ramadan Bersama Gen Z Lintas Negara di UIN Saizu, Kemenag Dorong Internasionalisasi Kampus Islam
Kemenag Tetapkan Standar Nasional Zakat Produktif melalui PMA 16 Tahun 2025
Embung Plosorejo Sragen Diresmikan, 50 Hektare Sawah Kini Punya Cadangan Air Saat Kemarau
Harga Minyak Dunia Tembus 80 Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan APBN Tetap Aman
Menag Nasaruddin Umar Soroti Penguatan SDM, Pendidikan Ekonomi Syariah Jadi Kunci Daya Saing Global
Revitalisasi Website Desa Leyangan, Upaya Mahasiswa KKN UPGRIS Menguatkan Informasi dan Promosi Potensi Desa

Berita Terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 15:39 WIB

DPR Soroti Potensi Penyalahgunaan AI, Pemerintah Didorong Segera Siapkan Regulasi

Senin, 9 Maret 2026 - 06:06 WIB

Program Perlindungan Anak Diperluas, Pemerintah Siapkan Makan Bergizi hingga Aturan Media Sosial

Minggu, 8 Maret 2026 - 07:46 WIB

Ramadan Bersama Gen Z Lintas Negara di UIN Saizu, Kemenag Dorong Internasionalisasi Kampus Islam

Kamis, 5 Maret 2026 - 12:17 WIB

Kemenag Tetapkan Standar Nasional Zakat Produktif melalui PMA 16 Tahun 2025

Rabu, 4 Maret 2026 - 14:28 WIB

Harga Minyak Dunia Tembus 80 Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan APBN Tetap Aman

Berita Terbaru