Jatengvox.com – Suasana santai menyelimuti lobi luar kafe Hotel Rosali Situbondo pada malah hari saat Ketua Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Situbondo, Irham Kahfi Yuniansah, bertemu dengan penulis sekaligus Kepala suku Mojok.co, Puthut EA.
Pertemuan yang hangat ini bukan sekadar temu kangen biasa, melainkan menjadi ruang dialog kritis mengenai dinamika politik terkini. Fokus pembicaraan keduanya tertuju pada fenomena “Mentalitet Korea”, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh politisi senior PDI Perjuangan, Bambang “Pacul” Wuryanto.
Irham Kahfi menyoroti bagaimana narasi “Korea” dalam politik Indonesia menjadi simbol bagi mereka yang berjuang dari lapisan bawah (rakyat jelata) untuk mencapai posisi strategis tanpa harus memiliki privilage darah biru atau kekayaan melimpah sejak lahir.
“Bagi kami di PA GMNI, melihat konsep Mentalitet Korea yang digaungkan Mas Pacul adalah tentang daya juang. Bagaimana seseorang memiliki disiplin, loyalitas, dan mentalitas pantang menyerah meski datang dari latar belakang yang bukan siapa-siapa,” ujar Irham di sela-sela seruput kopinya.
Puthut EA, yang dikenal tajam dalam membedah fenomena sosial-budaya, memberikan bumbu menarik dalam obrolan tersebut. Menurutnya, istilah “Korea” bukan sekadar istilah politik biasa, melainkan sebuah antitesis terhadap gaya politik yang kaku dan elitis.
“Mentalitet ini sebenarnya sangat dekat dengan napas pergerakan. Ada unsur kesetiaan pada pimpinan (komandan) dan keberanian untuk bertarung di medan sesulit apa pun. Situbondo, dengan karakteristik masyarakatnya yang religius-nasionalis, punya potensi besar untuk melahirkan figur-figur ‘Korea’ yang tangguh, karena Situbondo sangat dekat dengan Madura maka mungkin saja Korea Madura akan lahir di Kabupaten ini” ungkap Puthut.
Dalam pertemuan tersebut, Irham Kahfi juga menekankan bahwa relevansi “Mentalitet Korea” bagi alumni maupun kader GMNI di Situbondo terletak pada penguatan akar rumput. Ia berharap semangat ini bisa diadopsi untuk membangun kemandirian ekonomi dan politik di daerah.
Diskusi yang berlangsung hangat hingga malam itu diakhiri dengan kesepahaman bahwa politik harus tetap memiliki sisi humanis dan sedikit “rasa seni”, sebagaimana yang sering dipraktikkan oleh para tokoh nasional dalam menjaga soliditas kelompok.













