Jatengvox.com – Pringsari, Sabtu (2/8/2025). Hidup Bu Jumiyatun berubah setelah pabrik tempatnya bekerja ditutup. Namun, perempuan yang akrab disapa Bu Tun itu tidak putus asa.
Ia justru menemukan jalan baru lewat usaha jamu tradisional yang kini sudah ia tekuni selama 20 tahun. Sejak pukul 03.00 dini hari, Bu Tun sudah memulai aktivitas.
Bersama tiga orang yang membantunya, ia mencuci, menyangrai, menjemur, hingga menumbuk rempah untuk meracik jamu.
Jenis jamu yang ia hasilkan beragam: kunir asem, temu lawak, lempuyang, cabe kuyang, wejahan, beras kencur, hingga jamu pahitan seperti brotowali, mahoni, sambiroto, dan temuireng.
Bu Tun hanya menjual jamu tradisional saja tanpa jamu sachet. Modal harian yang dikeluarkan berkisar Rp50.000–Rp150.000.
Namun, menurutnya biaya bisa melonjak jika bahan baku sulit diperoleh. Bu Tun biasanya memulai memasarkan jamunya pukul 06.00 pagi dengan target utama pekerja pabrik.
Baginya, menjual jamu bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan menjaga warisan budaya.
“Buat saya, berjualan jamu itu bukan hanya pekerjaan. Ini sudah jadi bagian dari hidup,” ujarnya.
Pada akhirnya Bu Tun mengucapkan sebuah harapan untuk khalayak umum, khususnya warga sekitar.
“Harapan saya, orang-orang lebih sehat dengan cara memilih bahan-bahan herbal untuk dikonsumsi, Selain alami, jamu itu mempunyai banyak khasiat. Bukan hanya untuk hidup lebih sehat, melainkan juga agar warisan leluhur tidak hilang,” ucap beliau.
Harapan tersebut agar masyarakat lebih sehat dengan menerapkan pola hidup yang lebih sehat, seperti memilih bahan yang akan dikonsumsi.
Ia menilai jamu tidak hanya alami, tetapi juga kaya manfaat bagi kesehatan sekaligus menjadi warisan budaya yang perlu dilestarikan.