Jatengvox.com – Menjaga kesehatan ibu dan anak di tingkat desa terus menjadi perhatian bersama. Menyadari hal ini, sekelompok mahasiswa ikut mendampingi kegiatan Kelas Ibu Hamil yang digelar di kediaman Bidan Nur Asiyah Jamilah, Kelurahan Kalirejo.
Kehadiran mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang untuk membantu dan mendukung kelancaran program posyandu yang memang sudah rutin berjalan di Kelurahan Kalirejo Ungaran Timur
Dalam kegiatan ini, para mahasiswa membaur bersama masyarakat dan petugas kesehatan. Mahasiswa mendapat kesempatan untuk berbagi ilmu melalui sesi penyuluhan kelas ibu hamil.
Ada dua topik utama yang saling berkaitan. Pertama, menyoroti pentingnya ibu hamil untuk kembali memikirkan program Keluarga Berencana (KB) setelah proses persalinan nanti.

Materi ini disandarkan pada Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Mahasiswa mencoba mengingatkan kembali pesan pemerintah bahwa “dua anak lebih sehat”.
Tentu saja, pesan ini disampaikan dengan bahasa yang santai agar mudah diterima. Tujuannya bukan semata-mata untuk membatasi jumlah anak, melainkan untuk mengatur jarak kelahiran.
Jarak kehamilan yang terencana sangat penting agar rahim ibu punya waktu untuk pulih dengan sempurna, serta menghindarkan ibu dari risiko kelelahan fisik maupun stres pascamelahirkan.
Topik kedua yang tak kalah penting adalah soal pemenuhan hak anak. Mengacu pada Undang-Undang Perlindungan Anak (UU Nomor 35 Tahun 2014), mahasiswa menjelaskan bahwa setiap anak punya hak mutlak untuk hidup sehat, tumbuh kembang dengan baik, serta mendapat perlindungan dan kasih sayang penuh dari orang tuanya.
Menariknya, mahasiswa menekankan bahwa pemenuhan hak anak ini tidak dihitung sejak bayi lahir dan menangis di dunia. Persiapan untuk memenuhi hak-hak dasar tersebut justru harus sudah dipikirkan matang-matang sejak bayi masih di dalam kandungan.
Hal ini dimulai dari pemenuhan asupan gizi sang ibu selama hamil, memastikan ibu tidak stres, hingga persiapan mental dan ekonomi keluarga menyambut anggota baru.
Lalu, apa hubungannya program KB dengan hak anak? Di sinilah mahasiswa mencoba memberikan sudut pandang yang lebih segar terkait pepatah lama yang sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia: “banyak anak banyak rezeki”.
Di zaman sekarang, pepatah tersebut perlu disikapi dengan lebih bijak. Kehadiran anak memang rezeki dan titipan yang luar biasa, namun selalu diiringi dengan tanggung jawab pengasuhan yang tidak main-main.
Jika jarak kelahiran terlalu rapat dan jumlah anak tidak diatur sesuai kemampuan keluarga, ada risiko nyata bahwa hak-hak anak justru bisa terabaikan.
Fokus orang tua, waktu, kasih sayang, hingga kondisi keuangan bisa terbagi-bagi sehingga pemenuhan gizi dan pendidikan anak menjadi kurang maksimal.
Lewat program KB, orang tua sebenarnya sedang menyiapkan diri dengan lebih baik. Baik itu kesiapan fisik ibu, kesiapan mental ayah dan ibu, maupun kesiapan “isi dompet” keluarga.
Dengan jumlah anak yang terencana, orang tua punya peluang lebih besar untuk memastikan setiap anaknya tumbuh optimal dan mendapatkan haknya secara utuh.
Bidan Nur Asiyah Jamilah, selaku tuan rumah sekaligus tenaga kesehatan setempat, sangat mengapresiasi inisiatif edukasi dari mahasiswa ini.
Menurutnya, pesan-pesan seperti ini memang harus sering diulang agar benar-benar menempel di benak warga.
“Kehadiran adik-adik mahasiswa ini sangat membantu kami untuk menjelaskan ke ibu-ibu hamil dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti. Mengubah pola pikir soal banyak anak itu butuh waktu. Harapannya, kalau ibu-ibu ini mau ber-KB dan mengatur kehamilan, fisiknya bisa lebih bugar. Ujung-ujungnya, kalau ibunya sehat dan siap, anak-anak yang lahir juga pasti lebih terurus dan haknya terpenuhi,” ujar Bidan Nur Asiyah.
Sementara itu, salah satu perwakilan mahasiswa menambahkan bahwa kehamilan bukan cuma soal persiapan tenaga untuk melahirkan.
“Punya anak itu harus direncanakan dengan sadar. Lewat penyuluhan ini, kami sekadar ingin mengingatkan lagi kalau kesiapan mental dan finansial itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik sang ibu. Kualitas masa depan anak sangat bergantung pada seberapa matang persiapan orang tuanya hari ini,” kata perwakilan mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang.
Lewat kolaborasi yang mengalir secara alami antara mahasiswa dan tenaga kesehatan desa ini, diharapkan kesadaran para calon ibu di Kelurahan Kalirejo semakin terbuka.
Pada akhirnya, kelas ibu hamil tidak sekadar menjadi tempat periksa kehamilan, tetapi juga ruang belajar yang nyaman agar keluarga yang dibangun kelak menjadi keluarga yang tangguh, sehat, dan berkualitas.
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar