Jatengvox.com – Mahasiswa Tim II KKN-T 107 Universitas Diponegoro melaksanakan program multidisipliner bertajuk “Optimalisasi Perilaku Kerja Berbasis Ergonomi dan Kesehatan Kerja pada UMKM” di Kelurahan Padangsari, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, (13/8/26).
Program ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan pemahaman pelaku usaha dan pekerja UMKM mengenai pentingnya penerapan perilaku kerja yang ergonomis, pengelolaan kelelahan kerja, kebersihan dan kerapian area kerja, serta penggunaan alat pelindung diri (APD) yang sesuai dengan aktivitas kerja.
Program multidisipliner ini menyasar dua UMKM mitra, yaitu UMKM Gudeg Mbak Lies dan UMKM Soto Grafika Banyumanik.

Gudeg Mbak Lies merupakan usaha kuliner rumahan yang dikelola sebagai usaha keluarga, sedangkan Soto Grafika Banyumanik merupakan usaha kuliner yang telah berkembang dan memiliki beberapa cabang.
Perbedaan karakteristik kedua UMKM tersebut menjadi pertimbangan dalam mengidentifikasi kondisi dan kebutuhan masing-masing tempat kerja.
Sebelum pelaksanaan program, mahasiswa melakukan observasi dan wawancara untuk mengidentifikasi kondisi perilaku kerja pada kedua UMKM.
Hasil pengamatan menunjukkan masih ditemukan aktivitas dengan postur kerja yang kurang ergonomis, seperti membungkuk dalam waktu cukup lama ketika mengupas dan memotong bahan makanan, melakukan pekerjaan di lantai, serta mengangkat atau memindahkan beban tanpa menerapkan teknik yang tepat.

Pekerja juga cenderung melakukan pekerjaan secara terus-menerus tanpa diselingi peregangan atau micro break, sehingga berpotensi meningkatkan ketegangan otot dan risiko gangguan muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders/MSDs).
Selain aspek ergonomi, mahasiswa menemukan bahwa pola kerja pada kedua UMKM relatif panjang dengan waktu istirahat yang belum terstruktur.
Pada Gudeg Mbak Lies, pesanan dalam jumlah besar maupun pesanan mendadak terkadang menyebabkan berkurangnya waktu tidur karena pekerjaan perlu dipersiapkan pada malam hari.
Sementara itu, pekerja Soto Grafika Banyumanik melakukan aktivitas kerja sejak dini hari hingga sore hari dengan waktu istirahat yang belum memiliki jadwal tetap.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan akumulasi kelelahan, menurunkan kualitas pemulihan, serta meningkatkan kejenuhan kerja.
Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, mahasiswa mengembangkan beberapa media edukasi yang dapat digunakan secara langsung oleh pelaku UMKM.
Edukasi pertama berfokus pada pencegahan MSDs melalui teknik mengangkat barang dan penerapan postur kerja yang tepat.
Materi disampaikan melalui poster dan video edukasi yang memberikan gambaran mengenai cara mengangkat barang dengan aman, posisi tubuh yang lebih ergonomis, serta pentingnya melakukan peregangan sederhana sebelum dan selama bekerja.
Edukasi ini diharapkan dapat membantu pekerja mengenali risiko postur kerja yang kurang tepat sekaligus menerapkan kebiasaan kerja yang dapat mengurangi beban pada otot dan sendi.
Selanjutnya, mahasiswa memberikan edukasi mengenai pengelolaan waktu kerja, waktu istirahat, dan pemulihan berbasis circadian rhythm serta pengenalan tanda-tanda kelelahan kerja (fatigue awareness).
Media edukasi tersebut dirancang untuk membantu pelaku UMKM mengenali tanda kelelahan dan memahami pentingnya waktu istirahat yang cukup dalam menjaga kondisi fisik selama bekerja.
Khusus pada UMKM Gudeg Mbak Lies, mahasiswa juga menyusun SOP dan alur pre-order sebagai rekomendasi untuk membantu mengatur pesanan sehingga pekerjaan dapat direncanakan dengan lebih baik dan tidak mengganggu waktu istirahat secara berlebihan.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah kondisi area produksi. Mahasiswa menyusun modul penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) sebagai panduan untuk membantu UMKM melakukan pemilahan barang, menata penyimpanan, menjaga kebersihan, serta mempertahankan kondisi area kerja secara konsisten.
Edukasi 5R diharapkan dapat membentuk kebiasaan kerja yang lebih tertata sekaligus mendukung terciptanya lingkungan kerja yang nyaman dan efisien.
Selain itu, mahasiswa memberikan edukasi mengenai penggunaan APD berbasis ergonomi yang disesuaikan dengan potensi risiko pada aktivitas produksi makanan.
Luaran yang diberikan meliputi poster, modul panduan/SOP, modul visual, serta sampel rekomendasi APD berupa kitchen hairnet, masker mulut mika, apron, sepatu anti-slip, dan sarung tangan tahan panas.
Edukasi ini bertujuan membantu pelaku UMKM memahami fungsi masing-masing APD serta memilih perlindungan yang sesuai dengan kondisi pekerjaan, seperti risiko lantai licin, percikan bahan panas, maupun kebutuhan menjaga kebersihan selama proses pengolahan dan penyajian makanan.
Seluruh luaran tersebut tidak hanya diberikan dalam bentuk media informasi, tetapi juga disertai penjelasan kepada pelaku UMKM agar materi dapat dipahami dan diterapkan dalam aktivitas kerja sehari-hari.
Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan awareness bahwa penerapan ergonomi dan kesehatan kerja tidak harus dilakukan melalui perubahan besar, tetapi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana seperti memperbaiki postur, melakukan peregangan, mengatur waktu istirahat, menjaga kerapian area kerja, serta menggunakan APD yang sesuai.
Program ini mendukung pencapaian SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya pencegahan gangguan muskuloskeletal, kelelahan kerja, serta peningkatan perlindungan kesehatan pekerja. SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) juga didukung melalui penerapan kondisi dan perilaku kerja yang lebih aman, sehat, dan produktif.
Sementara itu, penerapan 5R dan pengelolaan area produksi turut berkontribusi terhadap SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pembentukan praktik kerja yang lebih tertata dan bertanggung jawab.
Melalui program multidisipliner “Optimalisasi Perilaku Kerja Berbasis Ergonomi dan Kesehatan Kerja pada UMKM”, mahasiswa Tim II KKN-T 107 UNDIP berharap pelaku UMKM di Kelurahan Padangsari semakin mampu mengenali risiko dalam aktivitas kerja dan menerapkan kebiasaan kerja yang lebih ergonomis, sehat, dan aman.
Berbagai media dan panduan yang telah disusun diharapkan dapat terus dimanfaatkan secara mandiri sehingga upaya peningkatan kesehatan dan kualitas lingkungan kerja dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Sementara itu, salah satu mahasiswa Tim II KKN-T 107 UNDIP menyampaikan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pemberian media edukasi, tetapi juga mendorong pelaku UMKM untuk mulai menerapkan perilaku kerja yang lebih aman dalam aktivitas sehari-hari, “Kami melihat bahwa banyak perilaku kerja yang dilakukan sehari-hari sebenarnya sudah menjadi kebiasaan, sehingga sering kali risiko yang ada tidak terlalu disadari. Melalui program ini, kami ingin membantu pelaku UMKM mengenali risiko tersebut dan memulai perubahan dari hal-hal sederhana, seperti memperbaiki postur, melakukan stretching, mengatur waktu istirahat, menjaga kerapian area kerja, dan menggunakan APD yang sesuai,” ungkap salah satu mahasiswa Tim II KKN-T 107 UNDIP.
Penulis: Tim II KKN-T 107 UNDIP
Editor: Murni Anggita
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar