Mahasiswa KKN Mandiri Misi Khusus Perbankan Syariah Ramaikan Festival Lembutan Bansari ke-7

waktu baca 6 menit
Senin, 10 Agu 2026 20:30 15 jatengvox

Jatengvox.com – Mengusung tema “Udaya Sata Samridhi”, Festival Lembutan Bansari ke-7 digelar di Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, pada 8–10 Agustus 2026. Bertepatan dengan musim tembakau, festival tahunan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga tradisi lokal sekaligus mengembangkan potensi ekonomi dan UMKM di wilayah Kecamatan Bansari.

Kemeriahan Festival Lembutan Bansari ke-7 turut dirasakan oleh mahasiswa KKN Mandiri Misi Khusus Perbankan Syariah 2026 yang berada di wilayah Kecamatan Bansari. Keterlibatan mahasiswa menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat budaya masyarakat sekaligus melihat bagaimana tradisi, kesenian, dan aktivitas ekonomi dapat berjalan berdampingan.

Festival Lembutan merupakan kegiatan tahunan yang melibatkan desa-desa di wilayah Kecamatan Bansari, termasuk Desa Rejosari. Selama tiga hari pelaksanaan, masyarakat disuguhkan berbagai kegiatan, mulai dari tradisi, perlombaan, pentas seni, hingga aktivitas jual beli produk masyarakat.

Jamasan Kiai Cacak, Menjaga Tradisi dan Doa Masyarakat

Salah satu rangkaian utama Festival Lembutan pada Sabtu (8/8) adalah Kirab dan Jamasan Kiai Cacak. Prosesi tersebut menjadi bagian penting dari festival yang berkaitan erat dengan tradisi pengolahan tembakau masyarakat Gentingsari.

Kiai Cacak merupakan alat yang digunakan dalam proses merajang tembakau. Dalam prosesi jamasan, Kiai Cacak diserahkan secara simbolis oleh Bapak Parwidi dari BPKPAD Kecamatan Bansari kepada Kepala Desa Gentingsari, Ibu Waltiyah, sebelum dilanjutkan dengan prosesi pembersihan dan penyucian.

Air yang digunakan dalam prosesi jamasan berasal dari tujuh sumber air di wilayah Gentingsari, yakni Sungai Semprit, Sungai Cangkring, Sungai Bakung, Sungai Legok, Sungai Segoro, Sungai Plok, dan Sungai Tuk. Air tersebut kemudian ditata dan ditaburi bunga melati, mawar, kantil, serta kenanga sebagai bagian dari rangkaian prosesi.

Baca juga:  Cara Daftar Coretax untuk UMKM dalam 3 Menit: Panduan Praktis yang Bikin Bisnis Anda Lebih Cuan!

Prosesi Jamasan Kiai Cacak tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian tradisi, tetapi juga sarat dengan doa dan harapan masyarakat. Jajaran kepala desa se-Kecamatan Bansari turut mengikuti prosesi tersebut sebagai bentuk kebersamaan dan doa bagi masyarakat.

Wakil Bupati Temanggung, Nadia Muna, menyampaikan harapan agar pelaksanaan Jamasan Kiai Cacak dapat menumbuhkan berkah dan barokah bagi masyarakat Kecamatan Bansari, khususnya warga Gentingsari. Masyarakat diharapkan senantiasa memperoleh anugerah dan kebijaksanaan serta dapat menjalani kehidupan dengan penuh kebaikan, ketenteraman, dan keselamatan.

Peserta mengikuti kegiatan ngerajang dalam rangkaian Festival Lembutan Bansari ke-7 di Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung.

Festival Lembutan Dorong Kesejahteraan Petani dan UMKM

Selain menjadi ruang pelestarian budaya, Festival Lembutan Bansari ke-7 juga membawa semangat pemberdayaan masyarakat.

Dalam sambutannya, Bapak Parwidi dari BPKPAD Kecamatan Bansari menyampaikan bahwa Festival Lembutan ke-7 mengangkat tema “Udaya Sata Samridhi”. Festival tersebut menjadi ruang untuk merespons berbagai persoalan yang dihadapi petani, pabrikan, dan pengusaha tembakau.

Festival diharapkan dapat mendorong petani tembakau agar semakin berdaulat dan sejahtera serta memperoleh tata niaga yang lebih jelas.

Selain itu, terdapat beberapa tujuan lain yang ingin didorong melalui Festival Lembutan ke-7, yaitu menjaga kebudayaan merajang tembakau lembutan, meningkatkan UMKM di wilayah Kecamatan Bansari, meningkatkan kunjungan ke kawasan wisata Bansari, serta mendorong masyarakat agar semakin berdaya dan sejahtera.

Dengan tujuan tersebut, Festival Lembutan tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi desa dan mengembangkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Generasi Muda Diajak Mengenal Tradisi Merajang Tembakau

Semangat menjaga budaya kembali terlihat pada hari kedua, Minggu (9/8), melalui lomba ngrajang dan nganjang.

Baca juga:  Perluas Jangkauan Global, Tim 12 KKN-T UNDIP 2026 Digitalisasi POKLAHSAR Mina Rejeki

Ngrajang merupakan proses memotong tembakau menjadi bagian kecil dan tipis, sedangkan nganjang merupakan proses menjemur tembakau yang telah dirajang. Tembakau yang telah dipotong tipis-tipis tersebut kemudian dikenal sebagai lembutan.

Lomba tersebut menjadi salah satu upaya agar keterampilan tradisional dalam pengolahan tembakau tetap dikenal dan memiliki generasi penerus. Peserta lomba dibatasi hingga usia maksimal 35 tahun sehingga generasi muda turut diberi ruang untuk mengenal dan meneruskan keterampilan tersebut.

Dalam proses pengolahan tradisional, laki-laki umumnya melakukan kegiatan merajang, sedangkan perempuan melakukan nganjang atau menjemur tembakau yang telah dirajang. Tembakau kemudian dijemur menggunakan rigen, dengan langkring sebagai penyangganya.

Prosesi Jamasan Kiai Cacak menjadi salah satu rangkaian tradisi budaya dalam Festival Lembutan Bansari ke-7.

Tradisi Berpadu dengan Aktivitas Ekonomi

Tidak hanya menghadirkan tradisi dan kesenian, Festival Lembutan Bansari juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjalankan aktivitas ekonomi. Berbagai produk, mulai dari makanan, minuman, pakaian, hingga produk lainnya turut diperjualbelikan selama festival.

Salah satu hal menarik dalam festival adalah penggunaan cacak sebagai alat transaksi. Masyarakat dan pengunjung diimbau untuk menukarkan uang rupiah dengan cacak sebelum melakukan transaksi di area festival.

Cacak kemudian digunakan untuk membeli berbagai produk yang tersedia selama kegiatan. Kehadiran sistem transaksi tersebut membuat aktivitas jual beli menjadi bagian dari pengalaman festival sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan produk mereka kepada pengunjung.

Hal tersebut sejalan dengan salah satu tujuan Festival Lembutan, yaitu mendorong perkembangan UMKM serta meningkatkan keberdayaan masyarakat di wilayah Kecamatan Bansari.

Tiga Hari Penuh Budaya dan Kebersamaan

Selama tiga hari pelaksanaan, Festival Lembutan Bansari ke-7 menghadirkan beragam kegiatan yang memadukan tradisi, kesenian, perlombaan, dan aktivitas masyarakat.

Pada Sabtu (8/8), rangkaian kegiatan diawali dengan Kirab dan Jamasan Kiai Cacak yang menjadi salah satu prosesi utama dalam Festival Lembutan. Kegiatan tersebut diikuti jajaran pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta masyarakat yang hadir untuk menyaksikan prosesi sekaligus memanjatkan doa bagi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

Baca juga:  Solusi Strategis Konsultan Bisnis Efba Consulting dalam Menaikkan Angka Penjualan Di 2026

Memasuki Minggu (9/8), festival dilanjutkan dengan lomba ngrajang dan nganjang tembakau. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk upaya menjaga keterampilan tradisional masyarakat dalam pengolahan tembakau sekaligus mengenalkan budaya tersebut kepada generasi penerus.

Sementara itu, pada Senin (10/8), rangkaian festival semakin semarak dengan berbagai kegiatan masyarakat. Salah satunya adalah lomba paduan suara ibu-ibu serta estafet menyanyi yang diikuti oleh ibu-ibu, yang turut menambah kemeriahan rangkaian Festival Lembutan.

Pada hari yang sama, SMP Negeri 1 Bansari turut menampilkan pertunjukan di panggung utama, menambah keberagaman penampilan dalam festival. Selain itu, berbagai kegiatan lainnya seperti Tari/Drama TK dan SD Gentingsari, lomba PKK, lomba menggambar, akustik, band pengiring, hingga penampilan Aftershine turut menjadi bagian dari rangkaian Festival Lembutan Bansari ke-7.

Beragam kegiatan tersebut mempertemukan masyarakat dari berbagai kalangan. Tidak hanya menjadi hiburan, rangkaian festival juga memberikan ruang bagi anak-anak, generasi muda, ibu-ibu, pelaku seni, hingga masyarakat umum untuk berpartisipasi dan menunjukkan kreativitasnya.

Bagi mahasiswa KKN Mandiri Misi Khusus Perbankan Syariah 2026, keikutsertaan dalam festival menjadi pengalaman untuk melihat secara langsung bagaimana potensi budaya, kreativitas masyarakat, UMKM, dan aktivitas ekonomi lokal dapat tumbuh dalam satu kegiatan bersama.

Festival Lembutan Bansari ke-7 menunjukkan bahwa menjaga budaya dan menguatkan ekonomi masyarakat dapat berjalan bersama. Tradisi merajang tembakau tetap diperkenalkan kepada generasi muda, sementara festival memberikan ruang bagi UMKM dan masyarakat untuk memperkenalkan serta memasarkan produk lokal.

Dengan semangat kebersamaan, Festival Lembutan Bansari tidak sekadar menjadi perayaan tahunan pada musim tembakau. Lebih dari itu, festival menjadi ruang untuk menjaga tradisi, menghidupkan ekonomi lokal, dan mendorong masyarakat Bansari agar semakin berdaya dan sejahtera.

 

Penulis: Rohmatul Laila, Anggota KKN Mandiri Misi Khusus Perbankan Syariah 2026

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA