Foto bersama narasumber, Pemerintah Kecamatan Bansari, Pemerintah Desa Rejosari, mahasiswa KKN MIT Perbankan Syariah UIN Walisongo Semarang, dan peserta usai kegiatan pelatihan. Jatengvox.com – Mengelola keuangan keluarga secara bijak menjadi salah satu langkah penting dalam membangun ketahanan ekonomi rumah tangga. Karena itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mandiri Misi Khusus (KKN MMK) Perbankan Syariah UIN Walisongo Semarang menggelar Pelatihan Pengelolaan Keuangan Keluarga bagi masyarakat Desa Rejosari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, Selasa (4/8/2026).
Kegiatan ini memberikan edukasi mengenai penyusunan anggaran rumah tangga, pengelolaan pendapatan dan pengeluaran, pentingnya dana darurat, hingga kebiasaan menabung dan berinvestasi sebagai bekal mewujudkan keluarga yang lebih mandiri secara finansial.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Balai Desa Rejosari tersebut diikuti oleh 45 warga Desa Rejosari. Bersama 15 mahasiswa KKN MMK, total peserta yang hadir mencapai 60 orang.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan hingga sesi diskusi berlangsung, menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan keuangan keluarga.
Acara diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan oleh Seradita Nazwa, pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Muhammad Dzulkifli, menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu Youla Agustin, serta sambutan dari Koordinator Desa KKN MMK Perbankan Syariah UIN Walisongo Semarang Baehaki Firdaus Afiatun Putra, Kepala Desa Rejosari Teguh Rahayu, dan Camat Bansari Ika Widjayanti.
Dalam sambutannya, Baehaki Firdaus Afiatun Putra menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Rejosari beserta masyarakat atas dukungan terhadap pelaksanaan program KKN.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu memperluas wawasan masyarakat mengenai pengelolaan keuangan keluarga sekaligus menjadi bekal dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi rumah tangga.
Camat Bansari, Ibu Ika Widjayanti, memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan pelatihan Perencanaan Keuangan Keluarga di Desa Rejosari.
Sementara itu, Kepala Desa Rejosari Teguh Rahayu mengajak masyarakat memanfaatkan pelatihan sebagai kesempatan untuk menambah pengetahuan dan saling berbagi pengalaman.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah desa, mahasiswa, dan masyarakat menjadi salah satu upaya membangun sumber daya manusia yang lebih berkualitas serta mendorong kemajuan ekonomi desa.
Hal senada disampaikan Camat Bansari Ika Widjayanti yang mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan.
Ia berharap ilmu yang diperoleh dari pelatihan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga masyarakat semakin bijak mengelola keuangan keluarga sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan rumah tangga.
Narasumber menyampaikan materi mengenai pentingnya perencanaan keuangan keluarga, pengelolaan dana darurat, serta kebiasaan menabung.
Memasuki sesi inti yang dipandu Arista Putri Andriani selaku moderator, materi Pelatihan Pengelolaan Keuangan Keluarga disampaikan oleh Kamelia Suparman.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa pengelolaan keuangan keluarga bukan hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga bagaimana keluarga mampu merencanakan dan mengelola keuangan secara disiplin sesuai kebutuhan.
Peserta diajak memahami langkah-langkah sederhana dalam mengelola keuangan, mulai dari mengidentifikasi sumber pendapatan, mencatat seluruh pengeluaran, menentukan tujuan keuangan jangka pendek, menengah, dan panjang, hingga membangun kebiasaan menabung, berinvestasi, serta menyiapkan dana darurat.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan agar mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan sehingga tidak mudah terpengaruh perilaku konsumtif.
“Mengelola keuangan keluarga bukan ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan, tetapi bagaimana kita mampu mengatur pendapatan sesuai kebutuhan dan menyisihkan sebagian untuk masa depan. Kuncinya adalah disiplin dalam mencatat, merencanakan, dan mengevaluasi keuangan secara berkala,” ujar Kamelia Suparman.
Dalam materi tersebut, narasumber juga memperkenalkan prinsip “sisihkan, bukan sisakan”, yaitu menyisihkan sebagian pendapatan sejak awal untuk tabungan dan investasi.
Sebagai contoh, peserta diperkenalkan pada pembagian anggaran yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga, yaitu sekitar 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kewajiban atau cicilan, 20 persen untuk tabungan dan investasi, serta 10 persen untuk kebutuhan sosial.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Salah seorang peserta, Mardhati, warga RT 03 Dusun Sempon, mengajukan pertanyaan mengenai langkah yang dapat dilakukan apabila keluarga menghadapi kondisi keuangan mendesak sementara belum memiliki dana darurat.
Menanggapi hal tersebut, narasumber menjelaskan bahwa dana darurat merupakan dana yang dipersiapkan sedikit demi sedikit dari pendapatan yang diperoleh, sehingga dapat dimanfaatkan ketika terjadi kebutuhan mendesak.
“Apabila saat ini belum memiliki dana darurat, usahakan memanfaatkan tabungan yang tersedia terlebih dahulu. Jika memang benar-benar tidak ada, mintalah bantuan kepada keluarga atau orang terdekat yang dapat dipercaya. Sebisa mungkin jangan langsung berutang, terlebih melalui pinjaman online, karena justru dapat menambah beban keuangan,” jelas Kamelia.
Pertanyaan lain yang diajukan peserta berkaitan dengan pembagian persentase penghasilan dalam pengelolaan keuangan keluarga.
Menanggapi hal tersebut, Kamelia menjelaskan bahwa contoh pembagian anggaran dihitung berdasarkan penghasilan bulanan dan bukan merupakan aturan yang bersifat mutlak.
“Setiap keluarga memiliki kondisi ekonomi yang berbeda. Yang terpenting bukan besar kecilnya penghasilan, tetapi bagaimana kita mampu mengelolanya dengan bijak agar tidak habis untuk konsumsi dan tetap memiliki tabungan sebagai bekal menghadapi kebutuhan di masa depan,” tambahnya.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan selama sesi diskusi. Sebagai bentuk apresiasi, panitia turut membagikan doorprize kepada peserta yang aktif menjawab pre-test dan post-test serta kepada peserta yang berpartisipasi dalam sesi tanya jawab.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN MMK Program Studi Perbankan Syariah FEBI UIN Walisongo Semarang berharap masyarakat Desa Rejosari semakin memahami pentingnya pengelolaan keuangan keluarga sebagai fondasi membangun ketahanan ekonomi rumah tangga.
Ilmu yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu mewujudkan keluarga yang lebih mandiri, bijak, dan tangguh secara finansial.
Penulis: Rohmatul Laila, Mahasiswa KKN Mandiri Misi Khusus Program Studi Perbankan Syariah FEBI UIN Walisongo Semarang
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar