Open Pit Mining dan Drone: Cara Survey Tambang Terbuka Lebih Cepat dan Aman

waktu baca 2 menit
Rabu, 30 Sep 2026 21:47 0 vritimes

Pemetaan drone mengubah cara tambang terbuka (open pit mine) mengumpulkan data survey. Dengan LiDAR dan photogrammetry berakurasi sentimeter, area 217,4 hektare di PT Timah Tbk tersurvey dalam 38 menit, tanpa menurunkan surveyor ke area penggalian yang aktif.

Bentuk sebuah tambang terbuka berubah setiap hari. Penggalian, peledakan, dan pengangkutan material membuat peta minggu lalu cepat usang. Padahal perhitungan volume, perencanaan tambang, dan keputusan keselamatan bergantung pada data itu. Survey manual dengan total station memang akurat, tetapi lambat dan memaksa surveyor berada di dekat active face, yaitu dinding galian yang sedang aktif dan berisiko longsor. Pemetaan drone untuk open pit mining menjawab dua masalah itu sekaligus.

Operasi tambang terbuka menghadapi empat tantangan utama: kebutuhan data survey yang berulang di setiap tahap, keselamatan di area luas dengan puluhan hingga ratusan haul truck, keamanan aset dari penambangan ilegal, dan kewajiban membuktikan reklamasi. Sejak Permen ESDM 17/2025, RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) disusun tahunan, sehingga bukti kemajuan reklamasi harus tersedia lebih sering dan lebih terukur.

Baca juga:  Transaksi Kripto Juni Tumbuh 24,2%, Bittime Sebut Pasar Indonesia Kian Matang

Dua teknologi menjadi dasar pemetaannya. RGB photogrammetry menyusun peta foto dan model 3D dari ratusan foto udara, sedangkan LiDAR (sensor laser) menembus vegetasi tipis untuk menghasilkan model permukaan tanah yang bersih. DJI Matrice 400 dengan DJI Zenmuse L3 memetakan hingga 100 km persegi per hari pada ketinggian terbang 300 m. Data diolah menjadi kontur pit, analisis kestabilan lereng, dan volume stockpile. DJI Dock 3 menjalankan pemantauan haul road secara otomatis tanpa pilot di lokasi, dan Strayos menganalisis data untuk desain peledakan, fragmentasi, dan volumetrik.

Hasilnya sudah terukur di lapangan. Area 217,4 hektare tersurvey dalam 38 menit di PT Timah Tbk. Pemetaan haul road otomatis dengan DJI Dock 3 dan software Strayos di kontraktor batubara PT BUMA mencapai akurasi horizontal 1,1 cm. Survey LiDAR multi-pit pada operator nikel besar mencatat RMSE XY di bawah 5 cm. Data multispektral dari drone juga mengukur indeks vegetasi di area reklamasi, sehingga laporan reklamasi, RKL-RPL, dan RKAB didukung data yang dapat diaudit.

Selengkapnya: https://halorobotics.com/open-pit-mining-tantangan-solusi-pemetaan-drone/

Baca juga:  Barantum, Solusi Broadcast WhatsApp Resmi untuk Bisnis

Press Release ini sudah tayang di VRITIMES

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA