Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) Tim II Tahun Ajaran 2025/2026 menginisiasi program inovatif bertajuk “Zero Waste Village” di Desa Sonoharjo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri.
Program yang berangkat dari tema multidisiplin ini dirancang khusus untuk mengatasi persoalan tata kelola sampah desa sekaligus mendorong ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.
Berdasarkan hasil observasi dan penelusuran yang dilakukan tim KKN, Desa Sonoharjo teridentifikasi memiliki potensi lokal yang sangat melimpah, khususnya di sektor pertanian dan peternakan.
Namun, pengelolaan limbah organik rumah tangga dan kotoran ternak kambing—terutama di kawasan Dusun Jatinom—ternyata masih belum dimanfaatkan secara maksimal.
Di sisi lain, keberadaan Bank Sampah desa baru memfokuskan kegiatannya pada sampah anorganik. Budaya memilah sampah dari sumbernya, yakni dari skala rumah tangga, dinilai belum terbangun secara sistematis.

“Tema Multidisiplin 1 yang diusung oleh kelompok adalah Zero Waste Village: Penguatan Pengelolaan Sampah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat untuk Mewujudkan Desa Bersih, Berkelanjutan, dan Mendukung Ketahanan Pangan.”
Merespons kondisi tersebut, KKN-R Tim II Universitas Diponegoro yang beranggotakan 10 mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu berkolaborasi meluncurkan aksi nyata yang terintegrasi di beberapa titik sasaran masyarakat, didampingi oleh tiga dosen, yaitu Farid Agushybana, S.KM, DEA, Ph.D, Fariz Nurmita Aziz, S.T.P., M.Sc., dan Dewi Setyaningsih, S.IP., M.A.
Rangkaian kegiatan diawali pada 22 Juli 2026 menyasar Kelompok Ternak Berkah Rojo Koyo Farm di Dusun Jatinom.
Dalam kesempatan ini, tim KKN memberikan sosialisasi komprehensif mengenai kesadaran lingkungan secara hukum, pengenalan jenis-jenis limbah, pembuatan dan penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) dengan bantuan bioaktivator, hingga analisis penentuan Harga Pokok Produksi (HPP) serta strategi komunikasi pemasaran sosial.
Selanjutnya pada 27 Juli 2026, program dilanjutkan kepada sasaran Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sonoharjo.
Selain penyuluhan hukum lingkungan, materi dikembangkan dengan pelatihan pembuatan dan pengaplikasian pupuk kompos serta POC pada lahan perkebunan singkong dan area pekarangan warga (demplot) untuk mendukung ketahanan pangan lokal.
Tidak hanya edukasi tatap muka, seluruh materi pelatihan pada kedua kelompok ini diserahkan dalam bentuk kemasan booklet panduan agar pendampingan manajerial dan literasi keberlanjutan dapat terus dipelajari secara mandiri.
Pilar penting lainnya dalam terwujudnya Zero Waste Village adalah edukasi yang berkelanjutan pada generasi muda.
Program edukasi lingkungan ini turut dilaksanakan di SDN 02 Sonoharjo pada tanggal 29 Juli 2026 dan 1 Agustus 2026 di SDN 02 Purwosari.
Oleh karena itu, program peduli lingkungan ini juga menyasar siswa-siswi tingkat Sekolah Dasar (SD) di Desa Sonoharjo melalui metode pendekatan yang interaktif dan menyenangkan.

Dalam pelaksanaannya, anak-anak, khususnya yang berada di kelas rendah (kelas 1-3), diajak untuk membedakan jenis sampah organik dan anorganik menggunakan alat peraga visual yang menarik, sekaligus mempraktikkan langsung cara memilah sampah pada tempat yang telah disediakan.
Tidak hanya sampah rumah tangga, para siswa juga dikenalkan pada bahaya limbah keras dan elektronik (e-waste) seperti baterai mainan dan gawai usang yang berisiko mencemari lingkungan jika dibuang sembarangan ke tanah.
Lebih lanjut, penanaman kebiasaan memilah sampah ini diintegrasikan erat dengan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Anak-anak diajarkan praktik enam langkah cuci tangan pakai sabun yang benar karena tingginya keterkaitan antara penanganan sampah dengan potensi penyebaran kuman penyakit.
Menariknya, seluruh rangkaian edukasi ini dikemas dengan mengadopsi kearifan budaya bersih ala sistem pendidikan di Jepang.
Melalui media visual bergambar dan praktik “piket bersih” bersama, siswa-siswi didorong untuk memiliki rasa tanggung jawab kolektif terhadap kebersihan diri dan ruang belajarnya.
Pendekatan lintas budaya ini terbukti efektif dalam memantik antusiasme anak-anak sehingga kebiasaan zero waste diharapkan dapat tertanam kuat sebagai fondasi karakter mereka.
Untuk memastikan program Zero Waste Village ini dapat diterima dengan baik dan mengakar menjadi budaya warga, tim mahasiswa melakukan pendekatan sosiologis dengan memetakan modal sosial serta tokoh-tokoh penggerak di masyarakat.
Di samping itu, kami merancang strategi komunikasi perubahan perilaku melalui media edukatif seperti penyebaran poster dan infografis di sekolah dasar serta kelompok masyarakat terkait.
Kolaborasi lintas disiplin keilmuan ini—yang mencakup bidang teknik, kesehatan, pertanian, hukum, budaya, vokasi, sains, hingga ilmu komunikasi—memungkinkan masyarakat Desa Sonoharjo memperoleh pendampingan yang holistik dan komprehensif.
Melalui serangkaian kegiatan praktik dan pendampingan terintegrasi ini, diharapkan masyarakat mampu membangun kebiasaan zero waste sejak dini, memperkuat kemandirian ekonomi desa, dan mewujudkan ketahanan pangan berbasis potensi lokal secara berkelanjutan.
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
Tidak ada komentar