Mahasiswa Tim KKN-T 74 Universitas Diponegoro bersama warga dan kader kelurahan berpose bersama dalam kegiatan edukasi serta pembinaan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 74 Universitas Diponegoro melaksanakan program edukasi dan pembinaan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) kepada warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung pengelolaan sampah organik rumah tangga yang lebih mandiri, berkelanjutan, sekaligus bernilai guna bagi masyarakat.
Program multidisiplin tersebut berangkat dari permasalahan belum optimalnya pemilahan dan pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga, meskipun TPS3R telah tersedia sebagai sarana pengelolaan sampah.
Kegiatan ini berlangsung di TPS3R Purwosari pada 19 Juli 2026 dan dilanjutkan dengan pembinaan lanjutan pada 25–26 Juli 2026.
Sosialisasi pertama diikuti oleh Ibu RT dari RT 1 hingga RT 7 di RW 2 bersama pengurus TPS3R setempat.
Sementara itu, pembinaan lanjutan pada 25–26 Juli ditujukan secara lebih khusus kepada perwakilan Ibu RT dan kader dari RT 02 dan RT 07 di RW 03.
Dalam kedua kegiatan tersebut, anggota Tim KKN-T 74 Purwosari 2026 turut menjadi pengajar sekaligus mendampingi warga dalam mengenal dan mempraktikkan budidaya maggot secara langsung.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi berkelanjutan agar masyarakat di berbagai RT dan RW di Purwosari dapat mulai mengelola sampah organik rumah tangga secara mandiri.
Melalui budidaya maggot BSF, sampah dapur yang sebelumnya hanya dibuang dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot.
Selain membantu mengurangi sampah organik, budidaya ini juga diperkenalkan sebagai kegiatan yang memiliki potensi ekonomi apabila dikembangkan dan dikelola secara berkelanjutan oleh warga maupun lingkungan RT/RW.
“Mudah-mudahan nanti budidaya maggot di tempat kami dari aplikasi panjenengan bisa bermanfaat, dan tentunya setidaknya sesuai dengan program pemerintah, bisa mengurangi volume sampah yang ada di kelurahan Purwosari yang ke TPA Jatibarang,” ujar Lurah Kelurahan Purwosari.

Dalam pelaksanaannya, warga mendapatkan pengetahuan mengenai berbagai aspek budidaya maggot, mulai dari pengaturan suhu dan kelembaban media, jenis pakan pada setiap fase pertumbuhan, hingga siklus hidup maggot dari telur sampai menjadi lalat BSF.
Materi juga mencakup teknik pemanenan serta jenis maggot yang dapat dikembangkan lebih lanjut untuk kebutuhan budidaya maupun pemasaran.
Tidak hanya melalui penyampaian materi, warga juga diajak berinteraksi langsung dengan maggot yang digunakan dalam praktik.
Peserta dapat memegang dan mengamati maggot secara langsung sehingga lebih mengenal bentuk, karakteristik, serta proses budidayanya.
Pendampingan ini juga memberikan kesempatan bagi warga untuk menyampaikan berbagai pertanyaan yang muncul ketika melihat dan berinteraksi langsung dengan maggot.
“Pengajaran kemarin sangat bagus dan menarik, saya juga melihat potensi maggot ini sangat besar terutama di wilayah saya sendiri dan saya baru tahu bahwa maggot ini bisa kita manfaatkan dengan baik,” ujar Mistiaroh, Ibu RT 02.
Kegiatan berlangsung pada pagi hari di TPS3R Purwosari dan mendapat sambutan antusias dari warga. Sejumlah ibu-ibu bahkan hadir lebih awal sebelum kegiatan dimulai.
Selama kegiatan berlangsung, peserta aktif berdiskusi mengenai cara perawatan maggot, pengolahan sampah organik, hingga kemungkinan pengembangan budidaya tersebut menjadi kegiatan yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
Program multidisiplin ini dilaksanakan oleh mahasiswa Tim KKN-T 74 Undip 2026 sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Purwosari melalui pengenalan budidaya maggot yang berkelanjutan.
Selain memperoleh pemahaman mengenai teknik budidaya, warga juga mendapatkan pengalaman praktik secara langsung yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing.
Melalui kegiatan ini, tim KKN-T 74 Universitas Diponegoro berharap masyarakat Purwosari dapat mulai melihat sampah organik sebagai sumber daya yang bisa diolah, bukan sekadar limbah rumah tangga.
Ke depan, budidaya maggot BSF diharapkan mampu menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif sekaligus membuka peluang manfaat ekonomi bagi warga.
Penulis: Tim Publikasi KKN-T 74 Universitas Diponegoro Kelurahan Purwosari
Tidak ada komentar