Jatengvox.com – Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 15 UIN Walisongo Semarang di Desa Rejosari, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, sukses meninggalkan torehan emas.
Bukan sekadar menjalankan program formal, sebanyak 9 dari 15 mahasiswa KKN di posko tersebut terjun langsung menjadi pelatih pendamping bagi siswa SD N 3 Rejosari.
Hasilnya luar biasa: sekolah tersebut sukses menyabet Juara 1 cabang lomba Pantomim pada ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kecamatan Mijen tahun 2026.

Koordinator Desa (Kordes) KKN Posko 15, Fathur, mengungkapkan bahwa inisiatif ini muncul setelah timnya melihat besarnya potensi seni anak-anak di Desa Rejosari yang belum tersalurkan maksimal karena keterbatasan waktu para guru.
“Kami melihat SD N 3 Rejosari punya banyak bibit unggul, tapi para guru sering kali kewalahan membagi waktu dengan urusan administrasi. Akhirnya, 9 anggota kami yang punya latar belakang seni, sastra, dan media visual langsung kami terjunkan untuk membantu,” ujar Fathur.
Tim KKN membedah rinci Pedoman Pelaksanaan FLS3N 2026 untuk mendampingi 5 cabang lomba, yaitu:
– Gambar Bercerita: Melatih siswa merespons tema lingkungan dalam durasi ketat 3 jam.
– Menyanyi Solo: Fokus pada teknik vokal, penghayatan, dan aksi panggung.
– Mendongeng & Menulis Cerita: Mengasah literasi, artikulasi, serta kemampuan menulis fiksi 500–1.700 kata.
– Pantomim: Mengolah gerak tubuh dan ekspresi tanpa kata.

Fokus paling intensif dilakukan pada cabang Pantomim yang diwakili oleh duet maut Silvi Dwi Ariyani dan Siti Nur Jannah. Di bawah asuhan mahasiswa KKN, Bayu Rohadi dan Ahmad Rizqy Maulidi, kedua siswi ini digembleng dengan disiplin tinggi.
Sesuai tema “Pantang Menyerah”, tim KKN berhasil melatih daya imajinasi siswa untuk ber berakting meyakinkan tanpa menggunakan properti apa pun, sesuai dengan regulasi ketat FLS3N. Kerja keras ini terbayar kontan saat dewan juri menganugerahi mereka gelar Juara 1 di tingkat kecamatan.
Kepala Sekolah SD N 3 Rejosari, Siti Mardiyah, tidak bisa menyembunyikan rasa harunya saat mendampingi siswanya menerima piala.
“Kehadiran adik-adik KKN UIN Walisongo ini seperti angin segar bagi kami. Kami guru-guru punya keterbatasan ide untuk penyutradaraan kesenian modern. Mereka datang membawa ide segar, tenaga, dan berhasil membangun ikatan emosional dengan anak-anak. Juara 1 ini adalah kado terindah untuk sekolah kami,” ungkapnya.
Bagi mahasiswa KKN UIN Walisongo, kemenangan ini menjadi bukti nyata bahwa esensi pengabdian masyarakat tidak melulu soal pembangunan fisik, melainkan juga tentang membangun karakter dan merawat harapan anak-anak bangsa
