Program Satu OPD Satu Desa Dampingan Terbukti Perkuat Ekonomi Desa di Jawa Tengah

Kamis, 18 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menegaskan komitmennya membangun daerah dari akar rumput. Salah satu langkah konsisten yang dilakukan adalah melalui program satu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) satu desa dampingan, yang telah berjalan sejak 2019 dan terus diperkuat hingga kini.

Hingga 2025, tercatat 452 desa di 18 kabupaten prioritas telah mendapatkan pendampingan langsung dari OPD Pemprov Jateng. Program ini bukan sekadar bantuan administratif, melainkan bentuk kehadiran negara di desa-desa yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi dan ketahanan pangan daerah.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh lagi bertumpu pada kawasan perkotaan. Menurutnya, desa adalah fondasi utama yang menentukan kuat atau rapuhnya ekonomi daerah secara keseluruhan.

“Kalau ekonomi desa semakin baik, dampaknya juga akan dirasakan wilayah perkotaan,” ujar Taj Yasin saat membuka Rapat Evaluasi Desa Dampingan Tahun 2025 dan Koordinasi Rencana Desa Dampingan Tahun 2026, di Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Baca juga:  Sinergi BUMDes dan Koperasi Merah Putih Dinilai Kunci Percepatan Ekonomi Desa di Jawa Tengah

Program desa dampingan, kata dia, menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang Jawa Tengah dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045, dengan menyiapkan desa yang mandiri, produktif, dan berdaya saing.

Sebagai Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Jawa Tengah, Taj Yasin menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga masyarakat desa perlu terus berjalan beriringan.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat aktif dalam pendampingan desa.

“Terima kasih kepada bapak ibu sekalian yang menjadi penggerak agar desa-desa ini bisa mandiri dan masyarakatnya lebih sejahtera. Dari sinilah kemiskinan bisa kita tekan secara masif,” katanya.

Lebih jauh, Taj Yasin menegaskan bahwa semangat Ngopeni Nglakoni bukan hanya jargon pemerintahan, melainkan komitmen nyata Pemprov Jateng untuk benar-benar hadir di tengah masyarakat.

Baca juga:  Program BKK Jateng Demi Kesejahteraan Petani: Modal Murah, Asuransi, hingga Jaminan Off Taker

Setiap aduan warga, kata dia, harus ditangani secara konkret dan berkelanjutan, bukan sekadar dicatat tanpa tindak lanjut.

“Ngopeni Nglakoni itu artinya kita benar-benar merawat dan menjalankan. Apa yang dikeluhkan masyarakat harus kita tangani bersama,” tegasnya.

Dalam pelaksanaannya, program desa dampingan didukung oleh sembilan metode intervensi penanggulangan kemiskinan, dengan sumber pendanaan yang beragam. Mulai dari CSR perusahaan, Baznas, hingga APBN yang disalurkan langsung ke pemerintah desa.

Hasilnya, ratusan desa dampingan mulai menunjukkan perubahan nyata. Berbagai program fisik dan sosial telah direalisasikan, antara lain:

  • 4.636 unit rumah tidak layak huni (RTLH) diperbaiki

  • 7.523 unit jamban dibangun

  • 1.292 kepala keluarga mendapat akses listrik murah

  • Pembangunan jaringan air bersih

  • Perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan desa

  • Program sosial dan pendidikan bagi masyarakat kurang mampu

Intervensi ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup warga, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di tingkat desa.

Baca juga:  Omzet Fantastis Bazar UMKM HUT Jateng Capai Rp1,4 Miliar, Sektor UMKM Siap Tumbuh Pesat

Saat ini, tingkat kemiskinan di Jawa Tengah berada di angka 9,48 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut dapat terus ditekan hingga menyentuh 9 persen, sekaligus menurunkan kembali kemiskinan ekstrem pada 2027.

Pada tahun 2026 mendatang, program desa dampingan akan tetap difokuskan di 16 kabupaten, dengan pendekatan yang lebih terarah dan berbasis kebutuhan riil desa.

Pelaksana Tugas Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Jawa Tengah, Gunawan Sudarsono, menyampaikan bahwa kegiatan evaluasi ini juga menjadi ajang publikasi panduan pelaksanaan program satu OPD satu desa dampingan.

Menurutnya, panduan tersebut diharapkan dapat mendorong keterlibatan lebih luas dari dunia usaha dan perguruan tinggi.

“Kami berharap peran CSR perusahaan dan perguruan tinggi semakin kuat dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya melalui program desa dampingan,” ujarnya.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Gubernur Jateng Dorong Penguatan Kampung Bersinar, Jateng Pertegas Perang Lawan Narkoba
Gubernur Ahmad Luthfi Turun Tangan Bersihkan Pantai Batang, Dorong Jateng Menuju Zero Waste 2029
Jateng Genjot Pemanfaatan RDF, Taj Yasin Dorong Industri Serap Olahan Sampah Jadi Energi
Diskomdigi Jateng Gandeng FISIP Undip, Kolaborasi Kampus–Pemprov Diperkuat untuk Gaungkan Pembangunan Daerah
12 Investor India Lirik Jawa Tengah, Siap Tanam Modal di Kendal dan Batang
Backlog Perumahan Jadi Prioritas, Pemprov Jateng Perkuat Skema Rumah Subsidi dan RTLH
PKB Jawa Tengah 2026 Dipastikan Tak Naik, Pemprov Siapkan Diskon 5 Persen hingga Akhir Tahun
KEK dan Kawasan Industri Dongkrak Ekonomi Jawa Tengah 2025, Sumbang 1,87% PDRB

Berita Terkait

Jumat, 27 Februari 2026 - 07:08 WIB

Gubernur Jateng Dorong Penguatan Kampung Bersinar, Jateng Pertegas Perang Lawan Narkoba

Rabu, 25 Februari 2026 - 07:06 WIB

Gubernur Ahmad Luthfi Turun Tangan Bersihkan Pantai Batang, Dorong Jateng Menuju Zero Waste 2029

Selasa, 24 Februari 2026 - 07:20 WIB

Jateng Genjot Pemanfaatan RDF, Taj Yasin Dorong Industri Serap Olahan Sampah Jadi Energi

Sabtu, 21 Februari 2026 - 06:05 WIB

Diskomdigi Jateng Gandeng FISIP Undip, Kolaborasi Kampus–Pemprov Diperkuat untuk Gaungkan Pembangunan Daerah

Jumat, 20 Februari 2026 - 07:00 WIB

12 Investor India Lirik Jawa Tengah, Siap Tanam Modal di Kendal dan Batang

Berita Terbaru