Menembus Pasar Digital, Inovasi Pemasaran dan Digitalisasi Dorong Daya Saing UMKM Jamu Bu Ngatinah di Desa Pondok

waktu baca 3 menit
Senin, 10 Agu 2026 20:02 3 jatengvox

Jatengvox.com — Aroma rempah herbal yang khas menyeruak hangat saat diskusi penuh keakraban berlangsung di kediaman UMKM Jamu Bu Ngatinah di Desa Pondok. Di tengah geliat ekonomi lokal, jamu tradisional olahan Bu Ngatinah menyimpan potensi besar yang siap melangkah lebih jauh. Melalui program multidisplin Kuliah Kerja Nyata (KKN), upaya penguatan kapasitas usaha kecil ini dihadirkan untuk membawa warisan herbal lokal menembus jangkauan pasar yang lebih luas berbasis digital.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) jamu tradisional di Desa Pondok, khususnya UMKM Jamu Bu Ngatinah, memiliki produk racikan herbal berkualitas tinggi dengan citra rasa autentik yang sangat berpotensi diminati konsumen luas. Kendati demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa strategi pemasaran yang diterapkan masih sangat konvensional dan mengandalkan penjualan dari mulut ke mulut atau pelanggan sekitar. Keterbatasan pemanfaatan teknologi dan saluran pemasaran modern menjadi hambatan utama yang membuat promosi serta jangkauan pasar usaha jamu lokal ini belum optimal.

Menjawab tantangan tersebut, Muhammad Rafi Taher, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro dari program studi Manajemen, menginisiasi program pendampingan bertajuk “Sosialisasi Strategi Marketing bagi UMKM Jamu”. Program ini dirancang khusus untuk memberikan pemahaman practical mengenai konsep pemasaran sederhana, branding produk, pemanfaatan media digital, hingga optimalisasi Google Maps dan ulasan pelanggan sebagai sarana promosi modern yang efektif bagi pelaku usaha lokal di Desa Pondok.

Baca juga:  Mahasiswa KKN-T IDBU 51 Undip Ajak Ibu-Ibu PKK Desa Kenteng Olah Limbah Pakaian Bekas jadi Kerajinan Tangan Bernilai Guna dan Ekonomi

Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara hangat dan interaktif melalui metode sosialisasi, diskusi dua arah, serta pendampingan singkat langsung di lokasi usaha Bu Ngatinah. Mahasiswa menyampaikan materi yang dikemas secara sistematis dalam media presentasi Powerpoint interaktif, membedah konsep dasar branding produk agar jamu lokal memiliki identitas visual yang kuat dan mudah diingat. Selain itu, pemilik usaha dibimbing secara langsung untuk mendaftarkan titik lokasi usaha di Google Maps, serta memanfaatkan fitur ulasan pelanggan guna membangun kepercayaan calon pembeli secara online.

Selama sesi pendampingan, antusiasme dan keterlibatan aktif terpancar jelas dari pemilik usaha. Bu Ngatinah menyimak dengan tekun dan aktif mengajukan pertanyaan terkait tata cara mengelola peta digital serta kiat mempromosikan produk jamu melalui media sosial. Diskusi mengalir akrab, mencerminkan semangat tinggi produsen jamu tradisional untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa menghilangkan nilai autentik produknya.

“Pendampingan ini sangat membuka wawasan saya sebagai pembuat jamu tradisional. Selama ini saya hanya fokus membuat jamu tanpa memikirkan bagaimana cara agar usaha ini bisa dicari orang lewat HP. Dengan adanya penandaan di peta digital dan panduan pemasaran ini, saya jadi lebih percaya diri untuk mengenalkan jamu Desa Pondok ke pembeli dari luar daerah,” ungkap Bu Ngatinah.

Baca juga:  Dua Hari Pasca Idul Fitri 1447 H, Volume Penumpang KA di Daop 2 Bandung Masih Tinggi

Hasil dan dampak nyata dari kegiatan ini mulai terlihat dari bertambahnya pemahaman pemilik usaha mengenai pentingnya identitas branding dan kemudahan aksesibilitas usaha secara digital. Modul edukasi berbasis Powerpoint yang diserahkan kini menjadi panduan ringkas bagi Bu Ngatinah untuk terus mengembangkan strategi usahanya secara mandiri.

Langkah penguatan UMKM jamu ini sejalan dan berkontribusi langsung pada pencapaian SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth). Melalui peningkatan kapasitas pemasaran, modernisasi digitalisasi usaha, dan penguatan daya saing produk lokal, program ini mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif yang berbasis pada kemandirian masyarakat desa.

Baca juga:  Belajar Seni Batik, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Buat Motif Logo Posko dan Kampus di Sanggar Batik Linggo

Inovasi dan pendampingan pemasaran ini membuktikan bahwa sentuhan modernisasi digital tidak mengikis nilai kebudayaan racikan jamu tradisional, melainkan justru memperkuat keberlanjutannya. Diharapkan dengan peta digital yang terintegrasi dan pemahaman strategi pemasaran yang lebih baik, UMKM Jamu Bu Ngatinah di Desa Pondok dapat terus berkembang pesat, meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga, serta memperluas jangkauan pasar hingga ke tingkat regional.

 

Penulis : Muhammad Rafi Taher (NIM 12010123130203)

 

Editor : Uswatun Khasanah

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA