KPU Kota Semarang Edukasi Siswa tentang Demokrasi Lewat Program Suaramu Ekspresimu

waktu baca 2 menit
Rabu, 15 Okt 2025 12:57 11 jatengvox

Jatengvox.com – SMA Islam Hidayattullah Semarang menjadi saksi antusiasme para pelajar kelas XI dalam memahami arti dan praktik demokrasi.

Rabu, 15 Oktober 2025, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Semarang hadir langsung memberikan pembelajaran interaktif seputar sistem demokrasi di Indonesia melalui kegiatan bertema “Suaramu Ekspresimu.”

Kegiatan yang digelar di ruang meeting lantai 4 sekolah tersebut bukan sekadar sesi ceramah biasa.

KPU menghadirkan pendekatan edukatif yang dekat dengan dunia pelajar, agar nilai-nilai demokrasi bisa dipahami secara menyenangkan dan kontekstual.

Anggota KPU Kota Semarang Divisi Teknis Penyelenggaraan, Agus Supriyono, menjadi narasumber utama.

Ia menjelaskan, demokrasi sejatinya merupakan sistem pemerintahan yang berpihak pada rakyat.

Baca juga:  KKN UPGRIS Kelompok 38 Gelar Sosialisasi Anti-Bullying di SDN 01 Watuagung

“Demokrasi berasal dari kata demos yang berarti rakyat, dan kratos yang berarti pemerintahan. Artinya, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” ujar Agus di hadapan para siswa.

Agus juga menekankan, pemahaman demokrasi tidak hanya berhenti di teori. Pelajar, sebagai bagian dari generasi penerus bangsa, perlu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah.

“Dalam sistem demokrasi, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak dan hasil musyawarah. Jadi, penting bagi kita untuk berdiskusi dan mencari mufakat bersama,” tambahnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek kolaborasi lintas mata pelajaran yang mengangkat tema demokrasi.

Baca juga:  Dupoin Futures Gelar Market Hunt 2026 di Jakarta, Dorong Edukasi Trading dan Dukung Inklusi Keuangan

Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya belajar konsep politik semata, tetapi juga nilai sosial seperti gotong royong, kebhinekaan global, dan tanggung jawab bersama.

Guru pendamping menilai, keterlibatan KPU memberikan warna baru dalam pembelajaran.

Para siswa menjadi lebih terbuka terhadap pentingnya partisipasi publik dan menghargai perbedaan pendapat.

“Kegiatan ini membantu siswa memahami bahwa demokrasi tidak hanya urusan politik atau pemilu, tetapi juga cara kita berinteraksi dan menghormati satu sama lain,” ungkap salah satu guru yang turut mendampingi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA