Kemkomdigi Dorong Operator Seluler Perkuat Fitur Anti-Spam dan Anti-Scam Berbasis AI

waktu baca 2 menit
Sabtu, 7 Feb 2026 09:40 5 jatengvox

Jatengvox.com – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terus mendorong operator seluler (opsel) di Indonesia untuk menghadirkan fitur perlindungan digital, khususnya dalam menangkal spam dan penipuan (scam) yang kian marak di ruang digital.

Upaya ini disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, saat menghadiri konferensi pers pembaruan fitur anti-spam dan anti-scam yang dikembangkan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) di Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Menurut Nezar, perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi memudahkan aktivitas masyarakat, namun di sisi lain juga membuka celah bagi berbagai bentuk kejahatan siber.

Baca juga:  Cegah Bullying di Lingkungan Sekolah, Mahasiswa KKN MIT 20 Posko 134 Gelar Sosialisasi Stop Bullying di MIN 03 Semarang

Nezar menegaskan, perlindungan pengguna layanan digital tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.

Diperlukan kolaborasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan, terutama sektor swasta yang memiliki peran strategis dalam ekosistem digital nasional.

“Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri dalam soal perlindungan ini. Kami membutuhkan peran aktif dari seluruh stakeholder, terutama dari sektor swasta seperti Indosat,” ujar Nezar.

Ia menilai langkah Indosat yang memanfaatkan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) untuk mengembangkan fitur anti-spam dan anti-scam merupakan contoh konkret kolaborasi yang berjalan efektif antara regulator dan industri.

Baca juga:  RUU Anti-Flexing Picu Perdebatan, Akademisi UGM Sarankan Fokus pada Edukasi Publik

Dalam pemaparannya, Nezar mengungkapkan bahwa fitur perlindungan digital yang dikembangkan Indosat telah mendapat respons positif dari masyarakat.

Hingga saat ini, lebih dari 2,5 juta pengguna secara proaktif mengaktifkan fitur tersebut.

Tak hanya sekadar aktif, pengguna juga berperan langsung dalam melaporkan potensi kejahatan digital.

Tercatat, laporan yang masuk telah mencapai sekitar 150 ribu laporan, dan jumlahnya terus bertambah.

“Lebih dari 2,5 juta pengguna sudah mengaktifkan fitur ini dan mengirimkan, mungkin sekarang sudah sekitar 150 ribu laporan. Ini menunjukkan kekuatan kolaborasi masyarakat dalam memerangi spam dan penipuan digital,” jelas Nezar.

Baca juga:  Pengajian Rutin Jumat di BRI Region 6 Berlangsung Khidmat dan Penuh Kehangatan

Pemanfaatan teknologi AI dinilai menjadi salah satu pendekatan paling relevan dalam menghadapi pola kejahatan siber yang semakin kompleks.

Dengan sistem yang mampu mempelajari pola penipuan secara real time, fitur anti-spam dan anti-scam diharapkan dapat memberikan perlindungan lebih cepat dan akurat kepada pengguna.

Nezar menambahkan, inisiatif seperti ini sejalan dengan visi pemerintah dalam membangun ruang digital yang aman, nyaman, dan produktif bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Inisiatif ini adalah contoh cemerlang bagaimana industri dapat berkontribusi secara proaktif untuk menciptakan ekosistem digital yang aman dan berkelanjutan,” katanya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA