Jatengvox.com – Upaya pemulihan sektor pendidikan di wilayah Sumatra yang terdampak bencana alam terus dikebut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan para pelajar di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sudah dapat kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar pada awal Januari 2026.
Target tersebut dinilai realistis seiring progres pembersihan dan pemulihan fasilitas pendidikan yang terdampak banjir, longsor, dan bencana lainnya pada akhir November lalu. Sejumlah sekolah yang sempat tertimbun lumpur dan material banjir kini telah memasuki tahap pemulihan intensif.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa penetapan target awal Januari mempertimbangkan kalender pendidikan nasional. Umumnya, semester genap tahun ajaran baru mulai berjalan pada pekan kedua Januari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Minggu pertama Januari, beberapa fasilitas pendidikan yang sebelumnya terdampak lumpur dan kerusakan ringan sudah dapat kembali difungsikan,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (29/12/2025).
Menurutnya, percepatan pemulihan ini dilakukan agar proses pendidikan tidak mengalami jeda terlalu panjang, terutama bagi siswa yang sempat kehilangan akses belajar akibat bencana.
Untuk sekolah yang mengalami kerusakan berat dan belum memungkinkan digunakan kembali, BNPB menyiapkan solusi sementara berupa tenda darurat. Tenda-tenda tersebut akan difungsikan sebagai ruang kelas sementara hingga proses rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan sekolah selesai dilakukan.
“Nanti proses belajar mengajar akan dilakukan di tenda-tenda sementara. Ini langkah darurat agar hak siswa untuk mendapatkan layanan pendidikan tetap terpenuhi,” jelas Abdul Muhari.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan pendidikan, khususnya bagi siswa di daerah yang mengalami dampak paling parah.
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per 19 Desember 2025, tercatat sebanyak 3.274 fasilitas pendidikan mengalami kerusakan akibat rangkaian bencana di akhir November. Dampak tersebut dirasakan oleh 276.249 siswa, serta 25.936 guru dan tenaga kependidikan.
Kerusakan fasilitas meliputi ruang kelas, laboratorium, hingga sarana penunjang belajar lainnya. Kondisi ini membuat pemerintah pusat dan daerah harus bergerak cepat agar proses belajar mengajar dapat segera kembali normal.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menyebut tingkat kesiapan operasional sekolah di tiap wilayah menunjukkan progres yang berbeda.
Untuk Sumatra Barat dan Sumatra Utara, kesiapan sekolah disebut sudah mendekati 90 persen. Sementara itu, kondisi di Aceh masih membutuhkan perhatian lebih, dengan tingkat kesiapan sekitar 65 persen.
“Di Aceh, 65 persen sekolah telah disiapkan untuk beroperasi kembali melalui pembersihan dan revitalisasi fasilitas. Untuk Sumatra Utara dan Sumatra Barat, kesiapan operasional sekolah sudah mendekati 90 persen,” kata Pratikno.
Ia menegaskan, pemerintah terus mendorong percepatan pemulihan agar kesenjangan layanan pendidikan antarwilayah tidak semakin melebar.
Editor : Murni A














