Aturan Berbusana di Jateng Angkat Penjualan Batik dan Sarung, Layanan Tetap Lancar

waktu baca 2 menit
Sabtu, 29 Nov 2025 15:33 31 jatengvox

Jatengvox.com – Kebijakan bersarung atau bergamis bagi pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah ternyata tidak sekadar seremonial bernuansa budaya.

Di lapangan, penerapan aturan ini mulai menunjukkan dampak ekonomi, terutama bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang memproduksi sarung dan batik.

Di Pasar Tiban Jumat Mugassari, Semarang, suasana para pedagang belakangan terasa berbeda. Salah satunya dialami Ainun, penjual batik asal Pekalongan. Ia mengaku omzet dagangannya naik signifikan sejak kebijakan tersebut diberlakukan.

Baca juga:  Optimalkan Potensi Ikan Lokal, KKN Tim II UNDIP Harsa Tegalontar 2026 Dorong Pemenuhan Gizi dan Pola Asuh Positif di Desa Tegalontar

Biasanya, kata dia, satu potong batik pun belum tentu laku dalam sehari. Namun sepanjang satu bulan terakhir, penjualan justru meningkat hingga satu kodi.

“Alhamdulillah bisa lima sampai enam potong setiap Jumat. Sudah kira-kira satu kodi terjual,” ujarnya ceria.

Ainun membawa berbagai pilihan, mulai sarung batik hingga gamis dan baju batik dengan harga Rp50 ribu–Rp150 ribu. Ia berharap tren ini terus berlanjut. “Semoga pegawai tetap rutin pakai batik. Lumayan buat tambah rezeki,” tambahnya.

Meski pegawai mengenakan sarung atau gamis, pelayanan publik di berbagai sektor tetap berjalan normal. Di Kantor Samsat Semarang II Srondol, misalnya, antrean pembayaran pajak masih bergerak lancar seperti biasa.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Kunjungi UMKM Gula Aren: Pelajari Proses Tradisional dan Dukung Pemberdayaan Ekonomi Lokal

Aji, salah satu wajib pajak, menilai tampilan petugas dengan sarung justru memudahkan masyarakat mengenali mereka. “Lebih familiar. Karena tampilannya beda dari pengunjung, jadi kelihatan mana petugasnya,” tuturnya.

Plt Kepala UPPD Samsat II Kota Semarang, Chairunisa, juga memastikan tak ada hambatan operasional. Ia melihat penggunaan sarung sekarang sudah selaras dengan ritme pekerjaan modern.

“Tuntutan kerja sekarang kan dinamis. Sarung dan gamis tidak mengurangi performa. Justru memberi suasana yang lebih menyejukkan,” ujarnya.

Di lingkungan pendidikan, kebijakan ini ikut memberi warna baru. Kepala SMAN 6 Semarang, Yuwana, mengatakan suasana sekolah terasa lebih egaliter setiap Jumat ketika guru dan tenaga kependidikan mengenakan sarung atau gamis.

Baca juga:  Pemerintah Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Cegah Perdagangan Orang

Menurutnya, kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan normal, bahkan lebih luwes. “Mengajar tetap nyaman. Jumat kami pakai sarung atau gamis, baju putih, dan sandal. Tidak mengurangi kualitas kelas,” katanya.

Yuwana juga menekankan bahwa kebijakan ini fleksibel. Guru tetap memakai seragam olahraga jika jadwal mengajar mengharuskan mereka bergerak lebih aktif. Sementara bagi guru nonmuslim yang tidak nyaman memakai sarung, mereka dibolehkan menggunakan celana seperti biasa.

“Intinya fleksibel dan saling menghormati,” imbuhnya.

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA