Ancaman Deindustrialisasi Dini Bayangi Ekonomi RI, Target Pertumbuhan 8 Persen Terancam

Rabu, 28 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Indonesia menghadapi sinyal peringatan serius dalam perjalanan ekonominya. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, menilai gejala deindustrialisasi dini mulai membayangi perekonomian nasional.

Fenomena ini tercermin dari menurunnya kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yang berpotensi menghambat ambisi pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang akrab disapa Nunik ini mengingatkan bahwa tanpa basis industri yang kuat, pertumbuhan ekonomi berisiko kehilangan fondasi jangka panjangnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Nunik, deindustrialisasi tidak terjadi secara tiba-tiba. Gejalanya dapat dilihat dari perlambatan pertumbuhan industri, meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK), serta masih tingginya ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku dan produk impor.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UIN Walisongo Gelar Sosialisasi Anti-Bullying di SD Negeri Puguh: Tanamkan Empati Sejak Dini

Ia menekankan bahwa sektor industri manufaktur memiliki peran strategis karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.

“Pertumbuhan industri yang menyerap tenaga kerja secara luas sangat menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ekonomi gig memang berkembang, tetapi itu lebih bersifat solusi jangka pendek terhadap pengangguran, bukan pilar utama pertumbuhan jangka panjang,” ujar Nunik dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Lebih lanjut, Nunik menilai produktivitas sektor manufaktur jauh melampaui sektor jasa. Karena itu, industri pengolahan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi yang sulit tergantikan.

Namun, sejumlah hambatan struktural masih membayangi. Mulai dari minimnya investasi teknologi, infrastruktur yang belum merata, biaya logistik yang tinggi, hingga rendahnya produktivitas tenaga kerja.

Baca juga:  Jambai Festival 2025: Sinergi Peringatan Kemerdekaan, Pemberdayaan UMKM, dan Promosi Desa Wisata

Situasi tersebut diperparah oleh pola pembangunan ekonomi yang masih bertumpu pada ekspor bahan mentah. Akibatnya, Indonesia berisiko bergeser ke sektor jasa sebelum mencapai tingkat industrialisasi yang matang.

Untuk merespons tantangan ini, Nunik mendorong pemerintah melakukan reorientasi kebijakan hilirisasi.

Menurutnya, hilirisasi tidak cukup jika hanya difokuskan pada industri ekstraktif seperti tambang dan mineral.

“Kebijakan hilirisasi harus diarahkan ke sektor industri padat karya. Tujuannya jelas, menciptakan lapangan kerja formal, meningkatkan produktivitas nasional, dan mendorong kenaikan pendapatan rumah tangga,” tegasnya.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar manfaat industrialisasi benar-benar dirasakan masyarakat luas, bukan hanya tercermin dalam angka pertumbuhan makro.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 12 Gelar Pelatihan Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa kinerja industri manufaktur nasional sejatinya masih menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, pertumbuhan manufaktur bahkan tercatat melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, Agus mengakui bahwa struktur industri pengolahan Indonesia masih sangat bergantung pada pasar domestik. Hal ini membatasi ekspansi produk manufaktur ke pasar global bernilai tinggi.

“Sebanyak 78,39 persen output manufaktur diserap oleh pasar domestik, sementara hanya 21,61 persen yang diekspor,” ujar Agus dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (26/1/2026).

Kondisi tersebut membuat kontribusi industri pengolahan nonmigas (IPNM) terhadap ekonomi nasional tetap besar, tetapi daya saing ekspor manufaktur belum optimal.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Holding Perkebunan Nusantara Dorong Pendidikan dan Ekonomi Rokan Hulu lewat Program TJSL PTPN IV Regional III
165 Relawan Dari Komunitas Railfans dan Pramuka Tinggalkan Libur Lebaran, Memilih Layani Pelanggan di wilayah KAI Daop 2 Bandung
PT Krakatau Tirta Industri Tegaskan Komitmen ESG melalui Program Satu Juta Pohon
7 Cara Agar Brand Anda Muncul di Jawaban AI
Konflik Timur Tengah Picu Risiko Inflasi, Tekan Harapan Suku Bunga
Bittime Catatkan Lonjakan Transaksi Emas $XAUT dan $SLVON di Tengah Meredanya Ketegangan Perang Iran
Bittime Hadirkan Token Pair HYPE/USDT, Perluas Akses bagi Investor Indonesia
BRI Finance Optimalkan Peluang Pembiayaan Dana Tunai Pasca Mudik Lebaran 2026

Berita Terkait

Kamis, 26 Maret 2026 - 00:02 WIB

Holding Perkebunan Nusantara Dorong Pendidikan dan Ekonomi Rokan Hulu lewat Program TJSL PTPN IV Regional III

Rabu, 25 Maret 2026 - 23:03 WIB

165 Relawan Dari Komunitas Railfans dan Pramuka Tinggalkan Libur Lebaran, Memilih Layani Pelanggan di wilayah KAI Daop 2 Bandung

Rabu, 25 Maret 2026 - 19:03 WIB

PT Krakatau Tirta Industri Tegaskan Komitmen ESG melalui Program Satu Juta Pohon

Rabu, 25 Maret 2026 - 19:02 WIB

7 Cara Agar Brand Anda Muncul di Jawaban AI

Rabu, 25 Maret 2026 - 18:03 WIB

Konflik Timur Tengah Picu Risiko Inflasi, Tekan Harapan Suku Bunga

Berita Terbaru

Berita

7 Cara Agar Brand Anda Muncul di Jawaban AI

Rabu, 25 Mar 2026 - 19:02 WIB