Jatengvox.com – Masyarakat Indonesia mulai penasaran mengenai kapan negara-negara di kawasan Timur Tengah merayakan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026.
Hingga pertengahan Maret ini, pemerintah Indonesia sendiri masih menunggu penetapan resmi melalui sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama.
Sementara itu, sejumlah kajian astronomi dari kawasan Timur Tengah mulai memunculkan prediksi awal terkait tanggal perayaan Idulfitri tahun ini.
Astronom Prediksi Idulfitri Jatuh 20 Maret
Berdasarkan kajian astronomi di Uni Emirat Arab (UEA), Idulfitri 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Prediksi tersebut berasal dari perhitungan yang dilakukan oleh Emirates Astronomical Society, sebuah lembaga ilmiah yang kerap melakukan pengamatan terkait fenomena astronomi dan kalender Islam.
Ketua organisasi tersebut, Ibrahim Al Jarwan, menjelaskan bahwa Ramadan tahun ini kemungkinan berlangsung selama 30 hari.
Perkiraan itu didasarkan pada analisis posisi bulan serta kondisi langit yang diprediksi kurang mendukung untuk melihat hilal pada malam ke-29 Ramadan.
Ia menyebutkan, visibilitas hilal diperkirakan sangat rendah di sebagian besar wilayah negara Arab.
“Idul Fitri dan awal Syawal kemungkinan jatuh pada Jumat, 20 Maret. Visibilitas hilal diperkirakan rendah pada malam ke-29 Ramadan,” ujarnya seperti dikutip dari The National News, Senin (16/3/2026).
Penentuan Tetap Menunggu Pengamatan Hilal
Meski perhitungan astronomi telah memberikan gambaran awal, penentuan resmi awal bulan Syawal tetap bergantung pada pengamatan hilal.
Di Uni Emirat Arab, komite pemantau hilal dijadwalkan melakukan observasi pada 18 Maret. Pengamatan ini akan menjadi penentu apakah bulan sabit muda sudah dapat terlihat setelah matahari terbenam.
Jika hilal berhasil terlihat pada pengamatan tersebut, maka 19 Maret akan ditetapkan sebagai 1 Syawal. Artinya, perayaan Idulfitri bisa berlangsung sehari lebih cepat.
Namun apabila hilal tidak terlihat, maka bulan Ramadan akan disempurnakan menjadi 30 hari. Dengan kondisi tersebut, Idulfitri diperkirakan jatuh pada 20 Maret 2026.
Mengapa Hilal Kadang Sulit Terlihat?
Dalam kalender Islam, penentuan awal bulan didasarkan pada fase bulan yang diamati secara langsung. Setiap bulan dalam kalender hijriah biasanya berlangsung selama 29 atau 30 hari.
Agar hilal dapat terlihat dengan jelas, terdapat beberapa syarat ilmiah yang harus terpenuhi. Di antaranya, bulan harus sudah “lahir” sebelum matahari terbenam serta memiliki jarak sudut tertentu dari matahari.
Jika posisi bulan terlalu dekat dengan matahari atau terlalu rendah di ufuk, maka hilal akan sulit diamati meskipun secara perhitungan astronomi bulan baru sudah terjadi.
Sementara itu di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Agama masih akan menentukan awal Syawal melalui sidang isbat yang biasanya digelar menjelang akhir Ramadan.
Sidang tersebut menggabungkan dua metode penentuan awal bulan, yaitu perhitungan astronomi (hisab) dan pengamatan hilal secara langsung (rukyat).
Hasil sidang isbat nantinya akan menjadi dasar penetapan resmi Hari Raya Idulfitri bagi umat Islam di Indonesia.
Dengan demikian, meskipun sejumlah negara di Timur Tengah sudah memiliki prediksi awal, kepastian tanggal Lebaran tetap menunggu hasil pengamatan hilal yang dilakukan secara resmi.














