Jatengvox.com – Kesenian Barongan terus berkembang sebagai salah satu warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Namun, dinamika ruang pementasan yang kerap berubah-ubah di setiap lokasi pertunjukan menimbulkan tantangan dalam aspek penataan dan keselamatan.
Melalui program KKN Tematik, mahasiswa Teknik Geodesi Universitas Diponegoro menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) Ruang Pementasan Kesenian Barongan berbasis analisis struktur ruang sebagai upaya memperkuat tata kelola pertunjukan yang lebih aman dan terstruktur.
Program ini berangkat dari hasil observasi lapangan yang menunjukkan bahwa ruang pementasan sering kali disesuaikan dengan kondisi tempat, baik di lapangan terbuka, balai desa, maupun panggung sementara.
Perubahan bentuk dan ukuran ruang menyebabkan penataan pemain, penonton, properti, serta jalur evakuasi belum memiliki standar baku.
Berdasarkan kondisi tersebut, mahasiswa KKN melakukan analisis struktur ruang dengan memetakan pola pergerakan pemain, area atraksi utama, posisi panggung, serta zona interaksi dengan penonton.
Dari hasil analisis tersebut, ruang pementasan kemudian dibagi ke dalam beberapa zona fungsional, yaitu zona inti (area atraksi), zona pendukung (gamelan dan properti), zona penonton, serta zona steril dan jalur evakuasi.
Sebagai tindak lanjut, disusunlah dokumen SOP Ruang Pementasan yang memuat panduan teknis mulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan pertunjukan.
SOP tersebut mencakup standar penataan ruang berdasarkan jenis lokasi, ketentuan jarak aman antara pemain dan penonton, pengaturan jalur keluar masuk, serta prosedur keamanan dasar selama pertunjukan berlangsung.

Selain penyusunan dokumen, dilakukan pula sosialisasi kepada pihak kesenian mengenai pentingnya penerapan SOP secara konsisten.
Dalam kegiatan tersebut diserahkan buku panduan SOP sebagai acuan dalam setiap pementasan mendatang.
Program ini bertujuan membantu kelompok seni memiliki pedoman tertulis yang dapat digunakan secara berkelanjutan.
Dengan adanya SOP berbasis analisis struktur ruang, pementasan Barongan diharapkan tidak hanya mempertahankan nilai tradisionalnya, tetapi juga mampu berkembang dengan manajemen ruang yang lebih tertib, aman, dan profesional.
Kedepannya, penerapan SOP ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi kelompok seni lainnya dalam mengintegrasikan aspek keselamatan dan penataan ruang ke dalam praktik pertunjukan budaya.
Melalui langkah ini, pelestarian kesenian Barongan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas tata kelola pertunjukan di tengah tingginya antusiasme masyarakat.
Penulis : Devara Fauzia Fatfa, Mahasiswi Teknik Geodesi Universitas Diponegoro
Editor : Murni A














