Jatengvox.com – Tim KKN-T 28 Universitas Diponegoro (UNDIP) berhasil memberdayakan kelompok TPPKK Desa Pugeran dengan mengubah limbah rumah tangga menjadi produk sabun cair dan sampo ramah lingkungan berbahan dasar eco-enzyme.
Program ini tidak hanya mendorong kemandirian ekonomi, tetapi juga menyebarkan kesadaran akan pentingnya produk ramah lingkungan di tengah masyarakat.
Eco-enzyme, hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran, menjadi bahan utama dalam pembuatan sabun dan sampo yang sehat dan aman bagi kulit.
Produk ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia keras yang sering menyebabkan iritasi, terutama bagi ibu-ibu yang aktif di rumah tangga.
“Sabun dan sampo eco-enzyme ini tidak hanya membersihkan, tetapi juga membantu menjaga kelembapan kulit dan rambut berkat kandungan minyak alami, seperti castor oil, olive oil, dan coconut oil,” jelas Bu Rani sebagai narasumber, (17/1/26).
Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan sampo eco-enzyme menggunakan bahan eco-enzyme yang telah melalui fermentasi tahap kedua.
Proses tersebut dikombinasikan dengan bahan-bahan alami seperti daun mangkokan, bunga sepatu, seledri, dan urang-aring yang dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan rambut dan kulit kepala.
Jika membandingkan produk berbasis eco-enzyme dengan produk komersial yang mengandung SLS (Sodium Lauryl Sulfate), produk eco-enzyme dinilai lebih ramah bagi kulit karena mampu membantu mengatasi iritasi kulit, mengurangi pengelupasan kulit kepala, dan serta membersihkan tubuh dari bakteri yang menempel tanpa menimbulkan efek kering pada kulit dan rambut.

Proses pembuatan sabun cair dilakukan dengan menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat guna menjamin mutu, keamanan, dan konsistensi produk yang dihasilkan, serta untuk menanggulangi terjadinya kecelakaan kerja.
Pemaparan materi Standar Operasional Prosedur (SOP) dilakukan dengan diskusi interaktif terkait definisi, tujuan, penerapan, contoh, dan langkah awal yang perlu dilakukan jika terjadi kecelakaan kerja.
Dengan mengacu pada SOP yang berlaku, kegiatan kemudian dilanjutkan ke tahap pembuatan sabun cair.
Tahap pertama diawali dengan menyiapkan wadah tahan panas, kemudian memasukkan air amidis yang digunakan untuk melarutkan KOH dan NaOH.
Bahan berdasar minyak (castor oil, palm oil, olive oil, coconut oil) ke dalam wadah terpisah dan diaduk secara manual hingga homogen.
Setelah itu, larutan KOH dan NaOH yang telah larut dicampurkan dan diaduk kembali hingga homogen dan mencapai fase light trace, setelah itu didiamkan hingga mengental, lalu kembali diaduk sampai adonan menyatu, mengental, dan berubah menjadi pasta sabun.
Setelah adonan tampak bening, dilakukan uji cuci tangan, kemudian adonan ditutup dan didiamkan selama 12–24 jam hingga terbentuk pasta sabun berwarna kuning keemasan.
Pasta sabun yang telah terbentuk kemudian dilarutkan dengan air amidis menggunakan perbandingan 1:1 hingga 1:1,5 sesuai tingkat kekentalan yang diinginkan.
Tak hanya itu, tim juga menyediakan formulasi dan pembuatan sederhana varian aroma dan warna alami, seperti daun jeruk dan kopi, salah satunya menggunakan maserasi sederhana untuk menghasilkan essential oil murni dan dapat ditambahkan pada formulasi sabun cair sesuai selera.
Bahkan, limbah produksi eco-enzyme dimanfaatkan kembali menjadi pupuk kompos dan bantal kesehatan, menunjukkan komitmen penuh terhadap prinsip zero waste.
Pengujian mutu sabun dan sampo berbahan dasar eco enzyme dilakukan sebagai bagian dari upaya menjamin kualitas dan keamanan produk sebelum digunakan oleh masyarakat.
Pengujian meliputi uji organoleptik berupa pengamatan homogenitas, warna, dan aroma, serta pengujian kestabilan busa dan viskositas untuk menilai karakteristik fisik produk.
Selain itu, pengujian pH dilakukan menggunakan alat sensor pH rakitan sederhana dengan mengacu pada standar pH yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia, yaitu SNI 8860:2020 untuk sampo dalam rentang 4,00 – 8,00, serta SNI 2088:2017 untuk sabun mandi cair dan sabun cair pembersih tangan dalam rentang 4,00 – 10,00.
Hasil pengujian ini menjadi dasar evaluasi mutu produk olahan eco enzyme agar layak digunakan dan dapat dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat.
Untuk memastikan keamanan pengguna dalam menggunakan eco enzyme cair, Tim KKNT 28 juga menguji sensor pH pada alat ukur yang telah dibuat.
Pengujian meliputi perbandingan hasil ukur antara sensor pH dengan pH universal. Setelah kalibrasi melalui program mikrokontroler dan juga komponen, sensor pH menunjukkan akurasi yang baik pada rentang pH normal eco-enzyme. Berdasarkan hasil tersebut, alat dapat digunakan dalam pengolahan.
Pengenalan dispenser sabun cuci tangan otomatis berbasis Arduino Uno dilakukan sebagai upaya meningkatkan higienitas masyarakat dan mengurangi risiko kontaminasi silang yang sering terjadi pada penggunaan dispenser manual.
Alat ini dirancang agar pengguna tidak perlu menyentuh permukaan dispenser secara langsung, sehingga lebih steril dan higienis.
Sistem dispenser otomatis ini menggunakan Arduino Uno sebagai pengendali utama, sensor ultrasonik HC-SR04 untuk mendeteksi keberadaan tangan, serta motor servo MG996R sebagai aktuator penekan nozzle sabun.
Arduino Uno bekerja dengan mengirimkan pulsa ke pin Trig pada sensor ultrasonik untuk memancarkan gelombang ultrasonik.
Gelombang tersebut akan dipantulkan kembali oleh objek di depannya, yaitu tangan pengguna, dan diterima melalui pin Echo.
Durasi pantulan gelombang ini kemudian diolah oleh Arduino untuk menentukan jarak objek.
Berdasarkan hasil pengolahan tersebut, Arduino mengirimkan sinyal PWM ke motor servo sehingga servo bergerak menekan nozzle dispenser dan mengeluarkan sabun cair.
Ketika tangan terdeteksi pada jarak 1–10 cm, sistem memberikan keluaran logika High sehingga motor servo bergerak menekan nozzle dan sabun cair keluar.
Sementara itu, pada jarak lebih dari 10 cm, sistem berada pada kondisi Low dan tidak memicu pergerakan servo.
Dalam sistem ini juga dimasukkan program LowPower.powerDown sebagai mode hemat daya agar penggunaan daya listrik menjadi lebih sedikit.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan dengan teknologi dispenser cuci tangan otomatis sebagai solusi sederhana dan efektif dalam mendukung penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Selain memproduksi sabun dan sampo berbahan dasar eco-enzyme, Tim KKN-T 28 Universitas Diponegoro juga mengembangkan pemanfaatan limbah produksi eco-enzyme sebagai upaya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Ampas sisa fermentasi eco-enzyme yang dihasilkan selama proses produksi tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi kompos organik.
Proses pembuatan kompos dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan campuran ampas eco-enzyme dan bahan organik lain, kemudian didiamkan hingga terurai secara alami.
Kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pupuk tanaman rumah tangga, sehingga mendukung pengurangan limbah dan penggunaan pupuk kimia.
Selain kompos, limbah padat eco-enzyme juga dimanfaatkan menjadi produk inovatif berupa bantal kesehatan.
Ampas eco-enzyme terlebih dahulu dikeringkan, kemudian digunakan sebagai isian bantal berbahan kain. Bantal kesehatan ini memiliki aroma fermentasi khas yang diyakini dapat memberikan efek relaksasi.
Inovasi tersebut menarik perhatian peserta karena menunjukkan bahwa limbah rumah tangga tidak hanya dapat dikurangi, tetapi juga diolah menjadi produk fungsional yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Tim KKN-T 28 UNDIP tidak hanya mengedukasi masyarakat Desa Pugeran mengenai pengolahan limbah organik, tetapi juga mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Diharapkan, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat terus diterapkan secara mandiri oleh anggota TPPKK Desa Pugeran, sehingga pengelolaan limbah rumah tangga dapat berkembang menjadi kegiatan yang bernilai guna, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.






