Jateng  

Jawa Tengah Masih Bebas Virus Nipah, Gubernur Ahmad Luthfi Minta Warga Tetap Waspada

Jatengvox.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan hingga awal Februari 2026, belum ditemukan kasus warga yang terjangkit virus Nipah (NiV).

Meski status masih nol kasus, pemerintah tetap mengingatkan masyarakat agar tidak lengah dan terus menjaga pola hidup bersih serta berhati-hati dalam mengonsumsi makanan, khususnya buah-buahan.

Virus Nipah dikenal sebagai penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

Karena itu, langkah pencegahan sejak dini dinilai jauh lebih penting dibanding penanganan setelah penularan terjadi.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa hingga Rabu (4/2/2026), wilayah Jawa Tengah masih aman dari paparan virus Nipah.

Baca juga:  Dua Inovasi Jateng Raih Penghargaan OPSI-KIPP 2025, Dari Layanan Kesehatan hingga UMKM

Namun, ia mengingatkan kewaspadaan masyarakat tetap menjadi kunci utama agar situasi tersebut bisa terus dipertahankan.

Menurut Luthfi, kebiasaan sederhana seperti mencuci buah sebelum dikonsumsi dan segera memeriksakan diri saat mengalami gejala awal, menjadi langkah preventif yang sangat efektif.

Ia juga menyebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memiliki sistem pengawasan kesehatan yang menjangkau hingga tingkat desa.

Program dokter spesialis keliling atau Speling memungkinkan deteksi dini berbagai penyakit menular, termasuk potensi ancaman virus dari luar daerah.

Dengan sistem tersebut, Luthfi optimistis Jawa Tengah memiliki pertahanan kesehatan masyarakat yang cukup kuat.

Sejalan dengan itu, Dinas Kesehatan Jawa Tengah terus mengampanyekan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat.

Baca juga:  BRT Trans Jateng Bakal Hubungkan Temanggung–Magelang–Borobudur Mulai 2027

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Jateng, Heri Purnomo, menjelaskan bahwa virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang menjadi inang alaminya.

Virus dapat berpindah ke manusia melalui buah atau makanan yang terkontaminasi liur, feses, atau air seni kelelawar. Karena itu, kebersihan makanan menjadi faktor krusial dalam pencegahan.

Gejala infeksi virus Nipah sendiri bervariasi. Mulai dari demam, pusing, dan sakit tenggorokan, hingga keluhan saluran pernapasan seperti batuk dan sesak napas.

Pada beberapa kasus, penderita juga bisa mengalami gangguan pencernaan. Meski demikian, tidak sedikit kasus yang menunjukkan gejala ringan atau bahkan tidak spesifik.

Baca juga:  Jawa Tengah Raih Peringkat Satu Nasional, Kalahkan Aceh & Jatim dalam Penghargaan Perumahan 2025

Atas dasar itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan keluhan kesehatan yang muncul, terutama setelah mengonsumsi buah yang diduga terkontaminasi atau tergigit hewan.

Upaya pencegahan juga dilakukan di sektor transportasi udara. Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang telah memperketat pengawasan terhadap penumpang internasional bekerja sama dengan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Semarang.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI tentang kewaspadaan terhadap penyakit virus Nipah.

Pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermal scanner dilakukan di area kedatangan internasional, terutama bagi penumpang dari rute Semarang–Malaysia dan Semarang–Singapura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *