Ancaman AI hingga Krisis Layar, DPR Minta Negara Hadir Lindungi Film Nasiona

Selasa, 3 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Industri film Indonesia tengah berada di fase yang menentukan. Di satu sisi, film nasional menunjukkan tren kebangkitan dengan capaian penonton yang terus meningkat serta pengakuan di berbagai festival.

Namun di sisi lain, ancaman struktural yang belum tertangani—mulai dari distribusi hingga perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)—membuat masa depan industri ini berada di persimpangan.

Isu tersebut menjadi sorotan Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini. Ia menilai negara belum hadir secara utuh dalam melindungi ekosistem perfilman nasional, padahal film terbukti menjadi instrumen strategis dalam membangun citra bangsa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Novita, film Indonesia selama ini berperan besar dalam mempromosikan pariwisata dan identitas daerah. Sejumlah film ikonik seperti Laskar Pelangi, 5cm, hingga Petualangan Sherina bukan sekadar karya hiburan, tetapi juga medium diplomasi budaya yang efektif.

Baca juga:  Bunda PAUD Jateng Nawal Arafah Yasin Raih Penghargaan Wiyata Dharma Madya dari Kemendikdasmen

Lewat film, lanskap daerah, nilai lokal, dan cerita khas Indonesia diperkenalkan ke publik yang lebih luas.

Dampaknya tidak hanya pada sektor budaya, tetapi juga ekonomi kreatif dan pariwisata.

Sayangnya, potensi besar ini belum sepenuhnya diimbangi dengan kebijakan negara yang berpihak pada pelaku industri.

Di balik berbagai capaian tersebut, Novita menyoroti adanya kebocoran ekonomi yang terus berulang.

Persoalan distribusi film, keterbatasan layar bioskop, serta akses permodalan masih menjadi masalah lama yang tak kunjung tuntas.

Kondisi ini membuat banyak film nasional kesulitan menjangkau penonton secara merata.

Tidak sedikit karya berkualitas yang hanya tayang singkat atau bahkan tidak mendapatkan ruang pemutaran yang layak, terutama di daerah.

Baca juga:  Menaker Tegaskan Belum Ada Arahan Soal BSU Tahap 2, Minta Masyarakat Waspadai Hoaks Bantuan

Situasi tersebut diperparah dengan tantangan baru berupa penggunaan teknologi AI di sektor kreatif.

Meski kerap dipandang sebagai inovasi, Novita mengingatkan bahwa AI juga membawa risiko serius bagi keberlangsungan pekerja kreatif.

Novita menegaskan, negara tidak boleh bersikap pasif terhadap perkembangan AI.

Tanpa regulasi dan strategi yang jelas, teknologi ini justru berpotensi menggerus ruang hidup para pelaku industri kreatif, termasuk insan perfilman.

AI dapat menggantikan sejumlah fungsi kreatif, mulai dari penulisan naskah hingga pengolahan visual.

Jika dibiarkan tanpa perlindungan kebijakan, hal ini berisiko mempersempit lapangan kerja dan menurunkan nilai apresiasi terhadap karya manusia.

Selain persoalan ekonomi dan teknologi, Novita juga menyoroti lemahnya sistem pengarsipan film nasional.

Dari sekitar 4.400 film Indonesia yang diproduksi sejak 1926 hingga 2025, sekitar 1.500 di antaranya dilaporkan hilang.

Baca juga:  MIND ID Perkuat Keunggulan Kompetitif Industri, Melalui Ekosistem Industri EV Battery di Karawang

Kondisi ini dinilai sebagai kegagalan negara dalam menjaga memori kolektif bangsa.

Akibatnya, generasi muda semakin jauh dari sejarah perfilman nasional dan tokoh-tokoh penting di dalamnya.

Banyak anak muda, misalnya, tidak lagi mengenal figur legendaris seperti Benyamin Sueb atau Adi Bing Slamet. Padahal, karya dan kontribusi mereka merupakan bagian penting dari perjalanan budaya Indonesia.

Persoalan distribusi film juga menjadi perhatian PT Produksi Film Negara (PFN). Direktur Utama PFN, Riefian Fajarsyah, menyebut keterbatasan layar bioskop sebagai tantangan paling nyata yang dihadapi industri film nasional saat ini.

Menurutnya, ketimpangan akses layar membuat film sulit menjangkau masyarakat secara luas. Bahkan bagi rumah produksi milik negara sekalipun, distribusi masih menjadi hambatan utama.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

KAI Divre IV Tanjungkarang Salurkan CSR Lebih dari Rp1,7 Miliar, Wujud Komitmen Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Kerja dari Hotel Jadi Tren Remote Work, Batam Tawarkan 24 Jam Produktif Sekaligus Recharge
Prodia Resmikan ‘Stemcell Clinic by Prodia’, Perkuat Layanan Preventif dan Regeneratif untuk Masa Depan Kesehatan
Pembatasan Ruang Udara China 2026 berdampak pada Sektor Pariwisata Indonesia
Jaga Keselamatan Perjalanan, Seluruh Pekerja LRT Jabodebek Jalani Medical Check-Up
Biosolar Dianggap Murahan? Justru Ini yang Dilakukan Pemilik SUV Diesel Cerdas Saat Harga Dexlite Meledak 70%
Dari Rollerblade hingga Kairo: Bagaimana 13 Anak di Rumah Singgah Menginspirasi Gerakan Sosial Baru Smart Salary
Tempat para pelari lahir, berkumpul, dan berkembang. “ALPEN RUN,” sebuah merek komunitas lari baru yang diluncurkan oleh Alpen, akan membuka toko pertamanya di Taman Meiji Metropolitan Tokyo pada hari Jumat, 24 April.

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 15:03 WIB

KAI Divre IV Tanjungkarang Salurkan CSR Lebih dari Rp1,7 Miliar, Wujud Komitmen Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Senin, 20 April 2026 - 14:04 WIB

Kerja dari Hotel Jadi Tren Remote Work, Batam Tawarkan 24 Jam Produktif Sekaligus Recharge

Senin, 20 April 2026 - 14:04 WIB

Prodia Resmikan ‘Stemcell Clinic by Prodia’, Perkuat Layanan Preventif dan Regeneratif untuk Masa Depan Kesehatan

Senin, 20 April 2026 - 13:03 WIB

Pembatasan Ruang Udara China 2026 berdampak pada Sektor Pariwisata Indonesia

Senin, 20 April 2026 - 12:03 WIB

Jaga Keselamatan Perjalanan, Seluruh Pekerja LRT Jabodebek Jalani Medical Check-Up

Berita Terbaru