Mahasiswa PPP BPI UIN Walisongo Semarang Selenggarakan Kegiatan Ruang Cerita Pondok Sabilurrasyad

waktu baca 3 menit
Jumat, 25 Sep 2026 21:30 10 jatengvox

Jatengvox.com – Mahasiswa PPP (praktik pengalaman profesi) BPI UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan Ruang Cerita bertema “Mengelola Emosi” pada Jumat malam, 25 September 2026, pukul 20.00 WIB di Pondok Sabilurrasyad, Kendal.

Kegiatan yang berlangsung hangat dan penuh keakraban ini diikuti oleh 116 santriwati dengan antusias.

Ruang Cerita merupakan forum yang dirancang untuk memberi kesempatan bagi peserta berbagi pengalaman dan perasaan dalam suasana yang hangat, aman, dan saling menghargai. Di ruang ini, tidak ada yang dihakimi. Setiap cerita didengarkan, dan setiap perasaan dianggap berharga. Melalui pendekatan yang santai namun bermakna, para mahasiswa berupaya menghadirkan wadah yang nyaman bagi santriwati untuk lebih terbuka terhadap apa yang mereka rasakan.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dan pengantar singkat dari panitia, yang menyampaikan tujuan diadakannya Ruang Cerita, yakni menjadi tempat bagi santriwati untuk saling mendengar dan menguatkan. Suasana malam yang tenang di lingkungan pondok menambah kekhusyukan jalannya acara.

Memasuki sesi inti, para santriwati diajak memahami bahwa emosi seperti marah, sedih, cemas, kecewa, rindu, maupun bahagia adalah hal yang wajar dan dirasakan oleh setiap manusia. Emosi-emosi tersebut perlu dikenali dan dipahami, bukan dipendam atau dihindari, sebab perasaan yang terus ditekan justru dapat menimbulkan beban yang lebih berat di kemudian hari.

Hadir sebagai narasumber, Shihah menyampaikan bahwa kemampuan mengelola emosi sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental, hubungan dengan teman maupun keluarga, serta kenyamanan menjalani kehidupan di pondok. Menurutnya, santriwati yang setiap hari hidup berdampingan dengan banyak orang, jadwal yang padat, dan aturan yang ketat sangat mungkin menghadapi tekanan emosional. Karena itu, penting untuk memiliki bekal agar mampu menyikapinya dengan bijak. Kutipan Shihah, Mengelola emosi bukan berarti menahan perasaan, tetapi mengenalinya dan menyalurkannya dengan cara yang tepat.

Baca juga:  Kemnaker Tegaskan Rekrutmen Transparan dan Bebas Diskriminasi

Shihah juga mengajak para santriwati untuk lebih mengenal diri sendiri, mulai dari memahami apa yang membuat mereka mudah tersinggung, apa yang membuat mereka merasa tenang, hingga bagaimana cara mereka bereaksi ketika sedang tertekan. Dengan mengenali pola tersebut, santriwati diharapkan dapat lebih sigap mengendalikan diri sebelum emosi mengambil alih.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan games journaling yang dipandu oleh Salma. Dalam sesi ini, santriwati diajak menuliskan perasaan mereka secara bebas dan menyenangkan, sehingga emosi yang selama ini sulit diungkapkan dapat tersalurkan lewat tulisan. Journaling dikenalkan sebagai salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan kapan saja untuk meluapkan isi hati tanpa takut dinilai orang lain.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Undip Memetakan Potret Sosial dan Budaya Masyarakat Purwosari

Suasana semakin cair ketika para santriwati mulai membagikan cerita mereka. Dengan penuh keterbukaan, mereka menceritakan pengalaman menghadapi tekanan sehari-hari, mulai dari beradaptasi dengan kehidupan pondok, jadwal belajar yang padat, tuntutan hafalan, hingga rasa rindu pada keluarga di rumah. Tidak sedikit yang saling menguatkan dan memberi semangat kepada temannya.

Beberapa tips yang dibagikan dalam kegiatan ini antara lain:

Mengenali dan memberi nama pada emosi yang sedang dirasakan.

Mengambil jeda sejenak dan menarik napas dalam sebelum bereaksi.

Bercerita kepada orang yang dipercaya, seperti ustadzah, pengurus, atau teman.

Baca juga:  SUCOFINDO Raih TOP CSR Awards 2026, Tegaskan Komitmen terhadap ESG dan Pembangunan Berkelanjutan

Menyalurkan emosi lewat aktivitas positif seperti berdzikir, berdoa, menulis jurnal, atau berkarya.

Menyadari bahwa setiap perasaan bersifat sementara dan dapat dilalui.

Salah satu santriwati, mengaku mendapat banyak manfaat dari kegiatan ini. “Saya jadi lebih paham bahwa merasa sedih atau marah itu tidak salah, yang penting bagaimana kita menyikapinya.” Ia berharap kegiatan serupa dapat diadakan kembali agar lebih banyak santriwati yang merasakan manfaatnya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa PPP BPI UIN Walisongo Semarang berharap para santriwati dapat lebih peka terhadap kondisi emosinya sendiri dan orang lain, serta mampu menerapkan cara mengelola emosi yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun budaya saling mendengar dan peduli terhadap kesehatan mental di lingkungan pondok.

Ke depan, Ruang Cerita direncanakan akan terus digelar dengan tema-tema lain yang dekat dengan kebutuhan santriwati, sehingga ruang aman untuk bercerita ini dapat terus hadir dan memberi manfaat yang lebih luas.

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA