Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 172 Desa Pamriyan turut mengambil peran dalam menyukseskan Gelaran Seni Singo Cipto Budoyo yang digelar di RT 02 RW 02 Desa Pamriyan, Kabupaten Kendal, Sabtu (9/8/2026).
Keterlibatan mahasiswa KKN tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap pelestarian seni dan budaya lokal.
Bersama Remaja Pamriyan Krajan (REMIK), mahasiswa KKN Posko 172 berkolaborasi dengan Paguyuban Singo Cipto Budoyo dalam membantu persiapan hingga berlangsungnya kegiatan.

Gelaran seni yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB itu diikuti masyarakat Desa Pamriyan.

Kegiatan diawali dengan doa dan makan bersama, kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan seni Singobarong yang dibagi dalam dua sesi, yakni sesi pagi dan sore.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala Desa Pamriyan Taufiq Rizal, Ketua I Paguyuban Singo Cipto Budoyo Romdoni, Ketua II Paguyuban Singo Cipto Budoyo Kandziq, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Ketua REMIK Nizam, serta mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 172 Desa Pamriyan.
Sejak sebelum kegiatan dimulai, mahasiswa KKN Posko 172 turut terlibat dalam berbagai persiapan bersama REMIK dan panitia. Keterlibatan tersebut berlanjut selama kegiatan berlangsung hingga acara selesai.

Koordinator Desa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 172 Desa Pamriyan, Mahmud Sidik, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya KKN untuk hadir dan berkolaborasi dengan masyarakat dalam berbagai kegiatan desa.
Menurutnya, mahasiswa KKN tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga berupaya terlibat dalam kegiatan masyarakat yang memiliki nilai positif, termasuk kegiatan pelestarian seni dan budaya lokal.
“Bagi kami, keterlibatan dalam kegiatan ini menjadi pengalaman sekaligus bentuk dukungan terhadap masyarakat dan pelaku seni di Desa Pamriyan. Kami ingin mahasiswa KKN juga bisa ikut mengambil bagian dalam menjaga semangat pelestarian tradisi, terutama melalui kolaborasi dengan pemuda dan masyarakat,” ujarnya.
Ketua I Paguyuban Singo Cipto Budoyo, Romdoni, mengatakan gelaran tersebut tidak hanya dimaknai sebagai hiburan masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk menjaga kesenian tradisional agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Ia berharap generasi muda dapat melihat bahwa seni tradisi masih eksis dan memiliki ruang untuk terus berkembang.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin terus menjaga tradisi seni yang sudah ada. Kami juga berharap generasi muda bisa melihat bahwa kesenian ini masih eksis dan tertarik untuk ikut menjadi pelaku seni, sehingga ke depan ada regenerasi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua II Paguyuban Singo Cipto Budoyo, Kandziq, menilai kegiatan seni juga dapat menjadi wadah positif bagi anak-anak muda Desa Pamriyan.
Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci agar kesenian tradisional memiliki penerus dan tetap bertahan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk menyalurkan kegiatan yang positif. Ketika mereka tertarik dan mau terlibat, proses regenerasi pelaku seni bisa terus berjalan,” katanya.
Ketua REMIK, Nizam, mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkolaborasi dalam menyukseskan kegiatan tersebut, termasuk Paguyuban Singo Cipto Budoyo, masyarakat, serta mahasiswa KKN Posko 172 yang turut membantu jalannya acara.
“Kami mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya Gelar Budaya Singo Cipto Budoyo. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya melestarikan dan mengenalkan seni budaya lokal, khususnya kepada generasi muda,” ujarnya.
Nizam berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai wadah untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya daerah, memperkuat kebersamaan, serta mendorong pemuda dan pelaku seni untuk terus berkarya.
Antusiasme masyarakat terlihat selama pertunjukan berlangsung. Warga datang untuk menyaksikan seni Singobarong sekaligus menikmati kebersamaan yang tercipta dalam gelaran tersebut.
Bagi Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 172, keterlibatan dalam Gelaran Seni Singo Cipto Budoyo menjadi bagian dari proses belajar dan pengabdian di tengah masyarakat. Kolaborasi dengan paguyuban seni dan pemuda desa diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong sekaligus menjadi dukungan bersama agar tradisi lokal tetap hidup dan memiliki generasi penerus.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Posko 172 berharap kehadirannya di Desa Pamriyan tidak hanya dikenang melalui program kerja, tetapi juga melalui keterlibatan dan kebersamaan dalam berbagai aktivitas masyarakat, termasuk dalam upaya merawat kekayaan seni dan budaya lokal.
Penulis: Tim KKN UIN Walisongo Semarang Posko 172
Editor: Murni Anggita
Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.
PILIHAN NOMINAL

Tidak ada komentar