Ubah Sampah Plastik Jadi Peluang, Mahasiswa KKN Undip Rancang Paperbag Bermotif Batik Shibori

waktu baca 8 menit
Jumat, 14 Agu 2026 20:57 3 jatengvox

Jatengvox.com — Penggunaan kemasan plastik masih menjadi salah satu persoalan yang dijumpai dalam kegiatan usaha rumahan, termasuk pada produksi Batik Shibori Sidomaju di Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Produk kain shibori yang dihasilkan selama ini masih menggunakan kemasan plastik karena dinilai praktis dan mudah diperoleh. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IDBU 51 Universitas Diponegoro (Undip) untuk mengenalkan alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan sekaligus tetap memiliki nilai estetika.

Kegiatan perancangan dan pengenalan paperbag bermotif batik shibori dilakukan oleh Adhita Zahra Aulia Septiani. Ia adalah mahasiswa Fakultas Teknik Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro, di Batik Shibori Sidomaju, Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang pada Jumat (14/08/2026).

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pendampingan mahasiswa kepada pelaku usaha dalam mengembangkan alternatif kemasan produk yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperkenalkan bentuk kemasan baru, tetapi juga berupaya menghubungkan aspek lingkungan dengan kebutuhan pemasaran produk kerajinan lokal.

Gagasan tersebut berangkat dari persoalan penggunaan kemasan plastik pada produk batik sekaligus perhatian terhadap pengelolaan sampah. Sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan, Adhita melihat bahwa pemilihan kemasan merupakan salah satu aspek yang dapat diperhatikan dalam mendorong kegiatan usaha yang lebih ramah lingkungan.

Kemasan menjadi bagian yang cukup dekat dengan aktivitas penjualan karena digunakan setiap kali produk diserahkan kepada konsumen. Apabila penggunaan kemasan sekali pakai berlangsung terus-menerus, jumlah sampah yang dihasilkan dari aktivitas usaha juga dapat bertambah dalam jangka panjang.

Menurut Adhita, perhatian terhadap kemasan penting karena pelaku usaha rumahan tidak hanya berhadapan dengan persoalan produksi, tetapi juga perlu mempertimbangkan dampak dari aktivitas usaha setelah produk sampai kepada konsumen.

“Pemilihan kemasan turut berkontribusi terhadap jumlah sampah yang dihasilkan sebuah usaha dalam jangka panjang,” ujar Adhita.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu dasar dalam pengembangan paperbag sebagai alternatif kemasan. Gagasan tersebut kemudian diarahkan agar solusi yang ditawarkan tetap sederhana dan dapat dipertimbangkan oleh pengrajin sesuai dengan kondisi usaha mereka.

Pemilihan paperbag sebagai alternatif kemasan bukan tanpa pertimbangan. Bahan kertas dipilih karena lebih mudah terurai dibandingkan plastik sekali pakai serta masih memiliki peluang untuk didaur ulang setelah digunakan.

Namun, kemasan yang dirancang tidak dibuat dalam bentuk kertas polos. Adhita menambahkan motif batik shibori pada bagian desain paperbag sehingga kemasan dapat membawa identitas produk sekaligus memiliki fungsi tambahan sebagai media pengenalan karakter Batik Shibori Sidomaju.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 12 Gelar Pelatihan Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah

Proses perancangan diawali dengan mengamati secara langsung corak dan warna khas yang dihasilkan melalui teknik pewarnaan shibori. Pengamatan tersebut diperlukan agar rancangan kemasan tidak terlepas dari identitas produk yang telah dimiliki pengrajin.

Beberapa alternatif motif dan tata letak kemudian dipertimbangkan agar tampilan paperbag tetap sederhana, tetapi mampu menunjukkan karakter batik shibori. Dalam proses tersebut, aspek fungsi kemasan tetap menjadi perhatian sehingga desain tidak hanya mengutamakan tampilan.

Pertimbangan teknis turut diperhatikan selama proses perancangan. Jenis kertas dipilih dengan mempertimbangkan kekuatan agar mampu menopang kain batik tanpa mudah robek. Ukuran paperbag juga disesuaikan dengan variasi produk yang dijual oleh Batik Shibori Sidomaju.

Selain itu, bagian tali pegangan dirancang agar nyaman digunakan oleh konsumen. Adhita juga mempertahankan desain yang relatif sederhana dengan mempertimbangkan biaya produksi, karena kemasan ramah lingkungan pada umumnya dapat membutuhkan biaya lebih tinggi dibandingkan penggunaan plastik konvensional.

Setelah rancangan selesai, paperbag bermotif batik shibori diperkenalkan dan dibagikan kepada para pengrajin Batik Shibori Sidomaju sebagai contoh kemasan alternatif. Pengenalan dilakukan dengan menjelaskan pertimbangan pemilihan bahan, desain, motif, ukuran, serta fungsi kemasan tersebut.

Para pengrajin juga diajak untuk mempertimbangkan penggunaan paperbag sebagai pengganti kantong plastik dalam kegiatan pemasaran produk, baik ketika produk dijual secara langsung maupun ketika dikirim kepada konsumen melalui penjualan daring.

Pengenalan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa dan pengrajin untuk melihat kemungkinan penerapan kemasan baru dalam kondisi usaha yang sebenarnya. Kemasan harus tetap mampu mendukung aktivitas produksi dan pemasaran tanpa menambah beban yang terlalu besar bagi pengrajin.

Karena itu, rancangan paperbag dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan produk dan kemampuan usaha rumahan. Pendekatan tersebut dipilih agar alternatif kemasan yang diperkenalkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mempunyai kemungkinan untuk digunakan dalam kegiatan usaha.

Respons pengrajin terhadap contoh kemasan tersebut cukup positif. Sejumlah pengrajin menilai bahwa tampilan paperbag yang memadukan motif shibori lebih mampu mewakili karakter produk dibandingkan kantong plastik polos yang selama ini digunakan.

Motif pada kemasan membuat produk terlihat lebih memiliki identitas karena unsur yang ditampilkan pada paperbag berkaitan langsung dengan produk batik yang dijual. Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan kemasan berpotensi memberikan manfaat tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga dari sisi tampilan produk.

Meski demikian, ketertarikan terhadap paperbag belum secara otomatis membuat pengrajin beralih sepenuhnya dari penggunaan plastik. Pertimbangan biaya masih menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan pilihan kemasan.

Bahan kertas yang digunakan untuk membuat paperbag dapat memiliki biaya lebih tinggi dibandingkan plastik, terutama ketika dibutuhkan dalam jumlah banyak. Selain itu, kebiasaan menggunakan plastik yang telah berlangsung cukup lama juga membuat perubahan membutuhkan waktu dan pendekatan secara bertahap.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Undip Edukasi Regulasi Anak Tidak Sekolah di Desa Gringging

Hingga akhir masa pendampingan, rancangan paperbag bermotif batik shibori berhasil diselesaikan dan diperkenalkan kepada pengrajin sebagai contoh kemasan ramah lingkungan bagi produk Batik Shibori Sidomaju. Kemasan tersebut tidak hanya diberikan sebagai hasil rancangan, tetapi juga diperkenalkan sebagai gagasan yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan usaha. Dengan adanya contoh secara langsung, pengrajin dapat melihat bentuk dan fungsi alternatif kemasan tanpa harus membayangkan konsep tersebut hanya melalui penjelasan.

Kehadiran paperbag juga diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperkenalkan gagasan kemasan berkelanjutan di lingkungan usaha rumahan. Perubahan menuju praktik usaha yang lebih memperhatikan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar.

Penggantian kemasan dapat menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan usaha. Dengan cara tersebut, aspek lingkungan dapat mulai dipertimbangkan bersamaan dengan kebutuhan produksi dan pemasaran.

Selain aspek lingkungan, paperbag bermotif batik shibori juga memiliki potensi memberikan nilai tambah dari sisi pemasaran. Kemasan yang menonjolkan corak khas shibori dapat memperkuat kesan bahwa produk merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni dan identitas lokal.

Kemasan yang menarik juga dapat membantu membedakan produk Batik Shibori Sidomaju dari produk sejenis yang masih menggunakan kemasan plastik polos. Dengan demikian, penggunaan paperbag dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat daya tarik produk di mata konsumen.

Potensi tersebut menjadi semakin relevan ketika produk dipasarkan secara daring. Dalam penjualan melalui media digital, kemasan menjadi salah satu bagian yang dapat mendukung pengalaman konsumen ketika menerima produk.

Paperbag dengan identitas shibori dapat memberikan kesan yang lebih konsisten antara produk, kemasan, dan karakter usaha. Meski demikian, penerapan kemasan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan pengiriman dan jenis produk agar fungsi perlindungan terhadap kain tetap terpenuhi.

Adhita berharap rancangan paperbag bermotif batik shibori yang telah dibuat dapat terus dibagikan dan diterapkan secara bertahap oleh para pengrajin. Menurutnya, penggunaan kemasan ramah lingkungan tidak dapat dipaksakan berubah hanya melalui satu kali pendampingan.

Pengrajin perlu memiliki kesempatan untuk mencoba, menilai manfaat, dan menyesuaikan penggunaan kemasan dengan kondisi usaha mereka. Pendekatan bertahap tersebut diharapkan dapat membuat perubahan lebih mudah diterima dan diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.

Pendampingan lanjutan juga dapat dilakukan apabila pengrajin membutuhkan penyesuaian terhadap ukuran maupun motif paperbag. Kebutuhan setiap produk dapat berbeda, sehingga desain kemasan dapat dikembangkan berdasarkan jenis dan ukuran kain yang dipasarkan.

Penyesuaian tersebut tetap perlu mempertahankan tujuan utama, yaitu menyediakan alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan sekaligus tetap mendukung identitas produk. Dengan demikian, paperbag tidak berhenti sebagai contoh, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari strategi usaha.

Baca juga:  Dorong UMKM Naik Kelas, KKN Undip 2026 Hadirkan Pendampingan Berkelanjutan di Desa Ngaren

Menurut Adhita, langkah kecil seperti perubahan kemasan penting untuk terus diperkenalkan karena usaha yang lebih ramah lingkungan membutuhkan proses. Pelaku usaha rumahan memiliki keterbatasan waktu, biaya, dan sumber daya sehingga perubahan perlu disesuaikan dengan kemampuan mereka.

Kehadiran contoh nyata dapat membantu pengrajin melihat bahwa isu lingkungan dapat diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari. Pada saat yang sama, pengrajin tetap dapat mempertahankan nilai estetika dan karakter produk yang menjadi kekuatan utama Batik Shibori Sidomaju.

Program perancangan paperbag ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKNT Undip dalam mendampingi pelaku usaha rumahan menghadapi isu lingkungan yang semakin relevan. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di bidang Teknik Lingkungan dapat diterapkan melalui solusi sederhana yang dekat dengan aktivitas masyarakat. Pendekatan yang dilakukan juga memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dapat dihubungkan dengan aspek ekonomi dan pemasaran tanpa mengabaikan kondisi nyata pelaku usaha.

Bagi Batik Shibori Sidomaju, kehadiran paperbag bermotif batik shibori bukan hanya berkaitan dengan penggantian jenis kemasan. Rancangan tersebut juga membuka peluang untuk memperkuat identitas produk sekaligus memperkenalkan praktik usaha yang lebih memperhatikan lingkungan.

Apabila dapat diterapkan secara konsisten, penggunaan kemasan ramah lingkungan diharapkan menjadi salah satu kebiasaan yang mendukung keberlanjutan usaha. Langkah tersebut juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga nilai produk lokal di tengah tuntutan konsumen terhadap produk yang semakin beragam.

Melalui kegiatan ini, Adhita berharap gagasan penggunaan paperbag tidak berhenti setelah masa KKNT selesai. Perubahan kebiasaan membutuhkan proses, sehingga penerapan dapat dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan pengrajin.

Sekecil apa pun perubahan yang dimulai dari kemasan, langkah tersebut diharapkan dapat menjadi titik awal untuk membangun perhatian yang lebih besar terhadap pengelolaan sampah dalam kegiatan usaha. Dengan demikian, upaya menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan tradisi dan meningkatkan daya jual produk Batik Shibori Sidomaju.

Pada akhirnya, rancangan paperbag bermotif batik shibori menjadi contoh bahwa persoalan lingkungan dapat dihadapi melalui inovasi sederhana yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Kemasan yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai pembungkus dapat dikembangkan menjadi bagian dari identitas produk sekaligus alternatif untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Melalui pendampingan dan penerapan secara bertahap, diharapkan Batik Shibori Sidomaju dapat terus berkembang sebagai usaha kerajinan yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mulai memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

 

Penulis : Adhita Zahra Aulia Septiani

 

Editor : Uswatun Khasanah

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA