Mahasiswa Akuakultur Undip Sosialisasikan Pentingnya Konsumsi Ikan Lokal Murah untuk Mencegah Stunting pada Anak

waktu baca 2 menit
Selasa, 4 Agu 2026 20:00 5 jatengvox

Jatengvox.com – Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro (Undip) dari Program Studi Akuakultur, Elsa Awaliya S, menggelar sosialisasi pentingnya konsumsi ikan lokal murah sebagai upaya pencegahan stunting pada anak. Kegiatan ini berlangsung di Posyandu Dukuh Klunjukan, Desa Klunjukan, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan pada Selasa (4/8/2026).

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis akibat kekurangan gizi dalam waktu lama, terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Dampaknya tidak hanya membuat tinggi badan anak di bawah rata-rata, tetapi juga menghambat perkembangan otak, menurunkan daya tahan tubuh, serta mengurangi produktivitas di masa depan.

Baca juga:  Harga Emas Diprediksi Lanjut Melemah, Dupoin Futures Soroti Sinyal Bearish Kian Kuat

Dalam pemaparan, Elsa menjelaskan bahwa ikan lokal seperti kembung, teri, dan lele memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi dengan harga yang terjangkau.

“Ikan lokal adalah solusi nyata bagi keluarga untuk memberikan nutrisi berkualitas tanpa harus membeli bahan makanan impor yang mahal. Dengan Rp 30.000 per kilogram ikan kembung, anak-anak sudah mendapat asupan protein dan omega-3 kelas atas untuk tumbuh kembang otak,” ujar Elsa di hadapan ibu-ibu posyandu.

Selain protein hewani, ikan juga kaya omega-3 dan DHA yang vital untuk perkembangan neuron otak balita, meningkatkan fungsi kognitif, daya ingat, dan kecerdasan.

Baca juga:  Samsung Gandeng AnyLive dari AnyMind Group untuk Tingkatkan Live Commerce di Delapan Pasar

Konsumsi ikan teri bersama tulangnya bahkan memberikan tambahan kalsium, seng, dan zat besi yang penting untuk mencegah anemia.

Elsa juga memberikan panduan konsumsi ikan pada 1000 HPK. Untuk ibu hamil dan menyusui dianjurkan 2–3 porsi ikan per minggu. Bayi usia 6–12 bulan dapat dikenalkan dengan lumatan halus ikan kembung atau teri tanpa duri.

Balita usia 1–3 tahun bisa menikmati olahan menarik seperti nugget ikan kukus atau sup bening lele, sedangkan anak usia 3–5 tahun dibiasakan makan lengkap dengan lauk utama ikan setiap hari.

Baca juga:  Mahasiswa KKN Undip Revitalisasi Perpustakaan Desa Watugajah, Dorong Minat Literasi Warga dan Anak-anak

Salah satu orang tua peserta sosialisasi menyampaikan kesannya. “Kami jadi lebih paham bahwa ikan lokal murah ternyata gizinya tinggi. Anak-anak juga lebih mau makan kalau diolah jadi menu menarik,” tuturnya.

Acara ini ditutup dengan ajakan GEMARIKAN (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan) sebagai komitmen bersama untuk mencetak generasi bebas stunting.

 

Penulis: Elsa Awaliya S – Mahasiswa Akuakultur, KKN Tim II Undip Desa Klunjukan.

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA