Mahasiswa KKN Undip Sulap Sampah Dapur Desa Nawangsari Jadi Solusi Berkelanjutan

waktu baca 2 menit
Jumat, 7 Agu 2026 15:15 15 jatengvox

Jatengvox.com – Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro (Undip) di Desa Nawangsari, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, berhasil mengubah paradigma pengelolaan sampah rumah tangga.

Melalui pendekatan yang aplikatif, mereka menyulap sisa sayuran dan kulit buah yang biasanya terbuang menjadi Pupuk Organik Cair (POC) untuk mendukung program Kebun Vertikal di pekarangan warga.

Program ini digagas oleh tim KKN yang terdiri dari Syarifah Alya Zaina, Az-zahra Amelia Mecca, Risty Laurensia Br Sagala, Devina Sekar Erlani, Salma Auralia Hapsari, Nimas Tsaniatuz Zahra, Aisha Fithriya Nabila, Reyhan Akmal Hibatullah, Loeis Gari Ndruru, dan Ahmad Maufur Hidayat.

Baca juga:  Tim II KKN Tematik IDBU 30 Undip Terjun ke Desa Sriwulan, Hadirkan Solusi Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Kawasan Pesisir Demak

Sebelumnya, Desa Nawangsari memiliki inisiatif bank sampah yang sempat mati suri akibat keterbatasan infrastruktur dan minimnya partisipasi warga.

Belajar dari pengalaman tersebut, mahasiswa KKN tidak sekadar mengulang formula lama. Mereka merancang sistem baru: sampah organik diolah menjadi POC, lalu dimanfaatkan untuk menanam sayuran di lahan sempit.

Hasilnya, sampah dapur kini memiliki nilai tambah. Selain mengurangi volume sampah yang dibuang, program ini berkontribusi pada empat poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yakni SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab), serta SDG 15 (Ekosistem Daratan).

Baca juga:  KKN-T Tim 28 UNDIP Edukasi Baku Mutu Kualitas Air dan Pembuatan Filter Air Sederhana di Desa Pugeran

Tak hanya menyasar sampah organik, tim KKN juga menjawab persoalan sampah anorganik melalui pembuatan alat pres botol manual dan tempat sampah pilah.

Lengkap dengan Standar Operasional Prosedur (SOP), inovasi ini hadir karena observasi lapangan menunjukkan banyak warga kesulitan mengelola botol plastik akibat keterbatasan ruang penyimpanan sebelum diangkut.

Alat tersebut berfungsi memadatkan botol plastik bekas sehingga volumenya menyusut drastis, yang pada akhirnya mempermudah proses penyimpanan dan pengangkutan.

“Alat ini kami buat dengan mempertimbangkan kemudahan penggunaan oleh warga, agar sistem pengelolaan sampah di desa bisa berjalan berkelanjutan meski program KKN sudah selesai,” ujar Ahmad Maufur Hidayat, salah satu mahasiswa penggagas program.

Baca juga:  Lewat Inovasi Pembelajaran Fleksibel, Universitas Terbuka Sabet Penghargaan DIA 2026

Inovasi alat pres botol tersebut kini melangkah lebih jauh. Produk ini terpilih sebagai produk unggulan tingkat Kecamatan Weleri dan akan dipaparkan dalam ajang Gelar Karya KKN.

Melalui forum tersebut, inovasi ini diharapkan dapat direplikasi oleh desa-desa lain yang menghadapi persoalan serupa.

Perjalanan dari dapur warga hingga panggung Gelar Karya ini membuktikan bahwa solusi lingkungan tidak harus rumit. Dibutuhkan kejelian membaca masalah, keberanian mencoba pendekatan baru, dan komitmen agar program nyata dirasakan masyarakat, bukan sekadar menjadi laporan di rak arsip.

 

Dukung Jurnalisme Tanpa Batas

Dukung keberlangsungan artikel ini dengan berpartisipasi dalam program apresiasi pembaca.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ADVERTISEMENT
Pasang Iklan Anda Disini
Promosikan bisnis, produk, jasa, atau toko online Anda dengan tampilan premium di JatengVox.
Hubungi Kami
LAINNYA