Mahasiswa KKN-T 120 UNDIP Wujudkan SDG 2 dan SDG 3 melalui Program GEMATI dan Demonstrasi Pembuatan Yogurt di Desa Jarum

waktu baca 4 menit
Jumat, 31 Jul 2026 22:10 7 jatengvox

Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Tim 120 Universitas Diponegoro melaksanakan program kerja sosial masyarakat bertajuk GEMATI (Gerakan Masyarakat Anti Stunting) pada Jumat, 31 Juli 2026, pukul 08.40–10.10 WIB, bertempat di kediaman Bidan Ari Setyawati, Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan stunting melalui edukasi gizi, pengenalan pangan probiotik, serta praktik pembuatan yogurt sebagai salah satu alternatif pangan bergizi yang mudah diterapkan di rumah. Sosialisasi diikuti oleh 14 orang ibu yang memiliki balita usia 6–24 bulan.

Kegiatan diawali dengan proses registrasi peserta yang dikoordinasikan oleh Aurel Seiya Dhiny Anggraeni. Setelah seluruh peserta hadir, acara dibuka secara resmi melalui sambutan yang disampaikan oleh Revinza Bimarfe Maulana selaku Koordinator Desa KKN dan Fadly Nur Affan Haryadi selaku Ketua Kelompok 3.

Dalam sambutannya, keduanya menyampaikan bahwa program GEMATI merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap upaya pencegahan stunting melalui peningkatan pengetahuan masyarakat, khususnya para ibu yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan gizi anak sejak usia dini.

Sesi penyuluhan diawali dengan pemaparan mengenai gizi dan stunting yang disampaikan oleh Silvia May Lita.

Baca juga:  Kemenkes dan KKI Perkuat Sinergi untuk Jaga Profesionalisme Tenaga Medis Nasiona

Materi yang diberikan meliputi pengertian stunting, dampak jangka pendek maupun jangka panjang terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode emas pertumbuhan, serta berbagai upaya pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi seimbang, pemberian ASI eksklusif, MPASI yang tepat, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin di posyandu.

Penyuluhan kemudian dilanjutkan oleh Krishna Adi Bayuaji dengan materi mengenai pangan probiotik.

Peserta dikenalkan dengan pengertian probiotik, karakteristik pangan probiotik, manfaatnya bagi kesehatan saluran pencernaan dan sistem imun, serta berbagai contoh pangan probiotik yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti yogurt, kefir, tempe, kimchi, dan minuman fermentasi lainnya.

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai peran bakteri baik dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus sehingga penyerapan zat gizi dapat berlangsung lebih optimal.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 32 Gelar Sosialisasi Adab di Dunia Maya dan Serahkan Al-Qur’an di Madin Cemangklek

Selanjutnya, Dayu Ardita Arianti dan Aulia Theresia Tumanggor menyampaikan materi mengenai yogurt sebagai salah satu pangan probiotik yang bernilai gizi tinggi dan berpotensi mendukung pencegahan stunting.

Materi mencakup kandungan gizi yogurt, seperti protein, kalsium, vitamin B, serta bakteri baik Lactobacillus dan Streptococcus. Dijelaskan pula bahwa yogurt mudah dicerna karena sebagian laktosa telah diuraikan selama proses fermentasi, sehingga lebih ramah bagi sistem pencernaan.

Pemateri juga menjelaskan berbagai faktor yang memengaruhi keberhasilan fermentasi, di antaranya kualitas starter, kebersihan alat, suhu, dan lama fermentasi, serta cara mengenali yogurt yang berhasil dibuat berdasarkan tekstur yang mengental, aroma khas fermentasi, rasa asam yang normal, dan tidak adanya tanda-tanda kontaminasi.

Sebagai bentuk penerapan materi yang telah diberikan, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan yogurt yang dipandu oleh Adinda Betris Avrilia Dewi dan Dinda Ayu Fitriana.

Demonstrasi dilakukan menggunakan susu UHT dan starter yogurt sehingga peserta dapat melihat secara langsung setiap tahapan pembuatan, mulai dari persiapan alat dan bahan, proses pencampuran starter dengan susu, teknik penyimpanan selama fermentasi, hingga cara penyimpanan yogurt setelah fermentasi selesai.

Baca juga:  Program PMT Jadi Andalan Pencegahan Stunting di Desa Sojomerto: Mahasiswa KKN UIN Walisongo Turut Berpartisipasi

Selama demonstrasi berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan dan aktif mengajukan pertanyaan terkait proses pembuatan yogurt.

Antusiasme peserta juga terlihat pada sesi diskusi. Berbagai pertanyaan disampaikan, mulai dari manfaat yogurt bagi balita usia 6–24 bulan, lama penyimpanan yogurt, proses fermentasi, cara mengetahui yogurt berhasil dibuat, hingga alternatif pembuatan yogurt apabila tidak memiliki alat khusus di rumah.

Suasana diskusi berlangsung interaktif sehingga peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai penerapan pangan probiotik dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi sekaligus penanda berakhirnya program sosialisasi.

Melalui kegiatan GEMATI (Gerakan Masyarakat Anti Stunting), diharapkan para ibu semakin memahami pentingnya pemenuhan gizi pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan, mengenal manfaat pangan probiotik bagi kesehatan, serta mampu mempraktikkan pembuatan yogurt secara mandiri sebagai salah satu alternatif pangan bergizi yang ekonomis, mudah dibuat, dan berpotensi mendukung upaya pencegahan stunting di lingkungan keluarga.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA