Jatengvox.com – Persiapan akhir jelang tahun ajaran baru di Jawa Tengah kini memasuki fase krusial. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama berbagai pemangku kepentingan tengah mengebut penyelesaian operasional Sekolah Rakyat permanen yang dijadwalkan mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada 31 Juli 2026.
Meski tenggat waktu semakin dekat, sejumlah tantangan di lapangan masih harus diselesaikan, mulai dari penyelesaian infrastruktur fisik hingga penyesuaian kuota penerimaan siswa baru bagi keluarga prasejahtera.
Dalam Rapat Koordinasi Sekolah Rakyat dan Pemenuhan Guru Bantu yang digelar di Aula Kantor Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, terungkap adanya kendala pada proses rekrutmen peserta didik, khususnya untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) yang belum memenuhi target.
Sebagai langkah taktis, Pemprov Jateng memutuskan untuk merelokasi kuota tersebut. Jumlah rombongan belajar (rombel) di tingkat SD dipangkas menjadi satu rombel saja.
Porsi kuota yang tersisa kemudian dialihkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang tercatat memiliki animo serta jumlah pendaftar jauh lebih tinggi.
Langkah ini diambil agar fasilitas pendidikan yang telah disiapkan dapat langsung terserap secara maksimal oleh anak-anak dari keluarga kurang mampu yang memang membutuhkan akses pendidikan layak.
Konsep utama dari Sekolah Rakyat permanen adalah sistem asrama (boarding school), di mana seluruh peserta didik wajib tinggal di lingkungan sekolah selama masa pendidikan mereka. Oleh karena itu, percepatan pembangunan fisik menjadi prioritas utama saat ini.
Kementerian Pekerjaan Umum selaku pelaksana proyek terus didorong untuk merampungkan seluruh fasilitas, terutama gedung asrama, sebelum tanggal 31 Juli mendatang.
“Yang paling utama adalah kenyamanan, keamanan, dan keselamatan anak-anak,” tegas Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, saat memimpin rapat mewakili Gubernur Ahmad Luthfi.
Selain bangunan utama, pemerintah kabupaten dan kota juga diinstruksikan untuk proaktif mengantisipasi kendala utilitas, seperti ketersediaan air bersih.
Jika jaringan permanen belum sepenuhnya siap, penyediaan pasokan sementara menggunakan mobil tangki air telah disiapkan sebagai solusi darurat di lapangan.
Pemda juga diminta untuk terus memantau aspek keamanan dan kelayakan bangunan yang masih dalam tahap finishing.
Kendati pembangunan fisik seperti proyek asrama di Sukoharjo—yang nantinya akan diisi oleh siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta—belum sepenuhnya rampung, pihak pengelola tetap menunjukkan optimisme tinggi.
Kepala SRMA 17 Surakarta, Septina Sintasari, menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan sebanyak 188 peserta didik untuk memulai tahun ajaran perdana ini. Koordinasi yang erat antara pihak sekolah dan instansi terkait membuat mereka yakin bahwa proses transisi dan kepindahan ke gedung permanen dapat berjalan lancar sesuai rencana.
Tidak ada komentar