Jatengvox.com – Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak hanya menjadi sarana pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar langsung mengenai potensi ekonomi lokal yang dimiliki desa.
Salah satu kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang posko 08 adalah mengunjungi sekaligus membantu petani eceng gondok di desa setempat, (28/6/26).
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa ikut terlibat langsung dalam proses pengambilan eceng gondok hingga belajar mengepang bahan baku kerajinan bersama warga.
Kunjungan tersebut dilakukan di kediaman Ibu Masriah (72), seorang warga yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari eceng gondok.

Bersama mahasiswa KKN, para mahasiswa laki-laki membantu proses pengambilan eceng gondok, sedangkan mahasiswa perempuan belajar mengepang eceng gondok yang telah dikeringkan.
Ibu Masriah menuturkan bahwa dirinya setiap hari mencari eceng gondok mulai pukul 08.00 pagi hingga sekitar pukul 11.00 siang. Meski usianya sudah tidak muda lagi, beliau tetap menjalani pekerjaan tersebut demi membantu kebutuhan sehari-hari
“Sedinten nggih mesthi teng kali golek eceng gondok, wiwit enjing ngantos awan. Sampun biasa kados mekaten saking rumiyin,” ujarnya.
Setelah eceng gondok diambil dari perairan, tanaman tersebut kemudian dijemur di bawah terik matahari selama kurang lebih lima sampai tujuh hari hingga benar-benar kering.
Proses pengeringan menjadi tahapan penting agar eceng gondok dapat dijual kepada pengepul bernama Pak Siswanto yang masih merupakan tetangganya sendiri.
Tidak hanya menjual eceng gondok kering biasa, Ibu Masriah terkadang juga membuat kepangan eceng gondok yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Untuk eceng gondok yang sudah dikepang, harga jualnya mencapai Rp7.000 per kilogram, sedangkan eceng gondok kering biasa dijual dengan harga Rp5.000 per kilogram.
“Menawi ingkang sampun dipun kepang reginipun pitung ewu, nanging menawi namung garing biasa gangsal ewu,” ucapnya..

Dalam sekali setor, Ibu Masriah biasanya mampu mengumpulkan sekitar 20 hingga 30 kilogram eceng gondok. Namun, untuk mencapai jumlah tersebut membutuhkan waktu beberapa hari karena proses pengambilan dan pengeringan dilakukan secara bertahap.
Di tengah keterbatasan usia, Ibu Masriah mengaku kini sudah jarang membuat kepangan eceng gondok karena kondisi fisik yang tidak lagi sekuat dahulu.
“Saweg sepuh, dados sampun arang damel kepangan. Tangane nggih sampun mboten kiyat kados rumiyin,” ungkapnya.
Mahasiswa KKN posko 08 yang terlibat dalam kegiatan tersebut mendapatkan banyak pelajaran berharga, mulai dari semangat kerja keras Ibu Masriah hingga proses pengolahan eceng gondok yang memiliki potensi ekonomi cukup besar apabila terus dikembangkan.
Selain membantu proses panen dan mengepang, kegiatan ini juga menjadi bentuk dukungan mahasiswa terhadap pelaku UMKM Desa Tanggul agar produk berbahan eceng gondok dapat semakin dikenal masyarakat luas.
Eceng gondok yang sering dianggap sebagai tanaman liar ternyata mampu diolah menjadi bahan kerajinan bernilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap potensi lokal Desa Tanggul dapat terus berkembang dan memperoleh perhatian lebih, baik dari masyarakat maupun pemerintah daerah.
