Berita  

Mahasiswa KKN UIN Walisongo Dampingi KWT 77 Desa Pasir Tingkatkan Pemasaran Digital melalui Program SAPA UMKM

SAPA UMKM
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 14 bersama anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Citra 77 berfoto di depan Rumah Produksi KWT Citra 77, Desa Pasir, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, usai pelaksanaan program SAPA UMKM

Jatengvox.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler 86 UIN Walisongo Semarang Posko 14 Desa Pasir menginisiasi program SAPA UMKM (Sahabat Pemasaran UMKM) sebagai bentuk pendampingan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) 77 Desa Pasir, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak.

Program ini bertujuan membantu pelaku usaha lokal meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas pemasaran melalui pemanfaatan teknologi digital.

Kegiatan yang berlangsung selama 45 hari tersebut melibatkan sembilan anggota aktif KWT 77 yang mengembangkan usaha olahan bawang merah, khususnya produk bawang goreng.

Pendampingan dilakukan secara rutin dua kali dalam sepekan dengan pendekatan praktik langsung yang mencakup proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran digital.

Koordinator Program SAPA UMKM menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata para pelaku UMKM yang selama ini memiliki produk berkualitas, namun masih menghadapi kendala dalam promosi dan pemasaran berbasis digital.

Baca juga:  Bongkar Rahasia Membuat Video Keren dalam 5 Menit Pakai AI Video Generator Gratis Bahasa Indonesia!

“Melalui program ini, kami tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga mendampingi secara langsung seluruh proses usaha. Kami ingin membantu pelaku UMKM agar mampu mengembangkan produknya sekaligus memanfaatkan media digital sebagai sarana pemasaran yang efektif,” ujarnya, (7/6/26).

Selama pendampingan, mahasiswa KKN turut terlibat dalam berbagai aktivitas usaha, mulai dari proses pembuatan bawang goreng, pengemasan produk, hingga pembuatan konten promosi.

Para peserta juga mendapatkan edukasi mengenai strategi branding, teknik fotografi produk menggunakan telepon genggam, penyusunan caption promosi yang menarik, serta optimalisasi media sosial sebagai media pemasaran.

Selain aspek pemasaran, program SAPA UMKM juga memberikan perhatian pada peningkatan daya tarik produk melalui perbaikan kemasan. Mahasiswa memberikan berbagai masukan terkait desain label, informasi produk, dan tampilan kemasan agar lebih menarik serta memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasar.

Baca juga:  KKN UIN Walisongo Mengunjungi Proses Pembuatan Jenang untuk Menyambut Acara Merti Dusun di Desa Wirogomo

Ketua KWT 77 menyambut baik kehadiran program tersebut. Menurutnya, pendampingan yang dilakukan mahasiswa KKN memberikan wawasan baru bagi anggota kelompok dalam menghadapi perkembangan dunia usaha yang semakin terhubung dengan teknologi digital.

“Kami merasa sangat terbantu. Selama ini pemasaran masih dilakukan secara sederhana. Dengan adanya pendampingan ini, kami belajar cara mempromosikan produk melalui media sosial dan memahami pentingnya tampilan produk yang menarik,” tuturnya.

Antusiasme peserta terlihat dalam setiap sesi pendampingan. Para anggota KWT aktif berdiskusi mengenai strategi pemasaran, cara membangun hubungan dengan pelanggan, hingga pemanfaatan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar.

Melalui proses tersebut, peserta mulai memahami bahwa pemasaran digital dapat dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan perangkat yang sudah dimiliki sehari-hari.

Baca juga:  Pembangunan Huntap Dipercepat, Satgas PRR Pastikan Penyintas Tak Lama di Huntara

Salah satu anggota KWT 77 mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama mengikuti program tersebut. Ia berharap keterampilan yang diperoleh dapat membantu meningkatkan penjualan dan memperkenalkan produk bawang goreng Desa Pasir kepada masyarakat yang lebih luas.

Program SAPA UMKM menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang dalam mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat, diharapkan UMKM lokal mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, meningkatkan daya saing produk, serta membuka peluang pasar yang lebih luas.

Ke depan, produk unggulan Desa Pasir seperti bawang goreng diharapkan tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas melalui strategi pemasaran digital yang berkelanjutan.

Penulis: Kelompok KKN UIN Walisongo Posko 14

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *