83 Persen Jemaah Haji Masuk Risiko Tinggi, DPR Minta Pengawasan Khusus Haji 2026

Rabu, 28 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jatengvox.com – Penyelenggaraan ibadah haji 2026 kembali menghadapi tantangan besar, khususnya dari sisi kesehatan jemaah. Data terbaru menunjukkan mayoritas jemaah haji Indonesia masuk dalam kategori risiko tinggi (risti).

Kondisi ini mendorong Komisi VIII DPR RI meminta Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menyiapkan skema pengawasan dan pelayanan khusus yang lebih ketat dan manusiawi.

Dengan karakter jemaah yang didominasi usia lanjut serta memiliki penyakit penyerta, keselamatan dan kenyamanan selama beribadah di Tanah Suci menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.

Anggota Komisi VIII DPR RI, An’im Falachuddi, menegaskan bahwa penyelenggaraan haji 2026 harus dirancang dengan pendekatan berbasis kondisi riil jemaah.

Berdasarkan data Kementerian Agama, sebanyak 170 ribu jemaah atau sekitar 83 persen dari total 203.320 jemaah haji reguler Indonesia masuk kategori risiko tinggi dari sisi kesehatan.

Baca juga:  Menteri KKP Pastikan Tiga Pegawainya Berada di Pesawat ATR 42-500 yang Hilang di Maros

“Dengan kondisi jemaah seperti ini, pengawasan dan pelayanan khusus menjadi keharusan. Ini penting agar jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan aman, nyaman, dan khusyuk,” ujar An’im, Rabu (28/1/2026).

Ia menilai angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan alarm serius bagi seluruh pemangku kepentingan penyelenggaraan haji.

Selain faktor usia dan kondisi kesehatan, tantangan berat juga datang dari lingkungan fisik di Arab Saudi.

An’im mengingatkan suhu udara saat pelaksanaan ibadah haji diperkirakan bisa melampaui 40 derajat Celsius.

Cuaca ekstrem ini berpotensi memperparah kondisi jemaah, terutama lansia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, atau gangguan jantung.

Aktivitas ibadah haji yang padat dan menguras energi, ditambah kepadatan massa di titik-titik tertentu seperti Arafah, Muzdalifah, dan Mina, menjadi kombinasi risiko yang harus diantisipasi sejak awal.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UPGRIS Ikut Sukseskan Posyandu Balita di Kelurahan Ungaran

“Dari tahun ke tahun, jemaah kita memang didominasi lansia karena masa tunggu haji yang bisa mencapai puluhan tahun,” kata An’im.

Komisi VIII DPR menilai peran petugas haji akan sangat menentukan sukses atau tidaknya penyelenggaraan haji 2026.

An’im menekankan petugas tidak boleh hanya bersifat reaktif, tetapi harus proaktif dalam memantau kondisi kesehatan jemaah.

Pemantauan rutin, pendampingan saat mobilisasi, hingga pengaturan jadwal ibadah yang lebih manusiawi menjadi kunci.

Menurutnya, jadwal kegiatan harus disesuaikan dengan keterbatasan fisik jemaah risti agar tidak memicu kondisi darurat.

“Tanpa pendampingan yang memadai, jemaah berisiko tinggi sangat rentan mengalami kondisi darurat kesehatan,” ujarnya.

Selain penguatan peran petugas lapangan, An’im juga mendorong koordinasi yang lebih solid antara petugas layanan umum dan tenaga kesehatan.

Baca juga:  Dari Perpustakaan untuk Masa Depan: KKN UIN Walisongo Bangkitkan Semangat Literasi Anak

Sistem rujukan, distribusi informasi medis, serta respons cepat saat terjadi kondisi darurat harus berjalan tanpa hambatan.

Ia menekankan pentingnya akurasi data jemaah risiko tinggi. Data tersebut harus benar-benar digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar formalitas administrasi.

“Di sinilah peran strategis petugas haji benar-benar diuji. Bukan hanya soal melayani, tapi memastikan setiap jemaah mendapat perlindungan maksimal,” katanya.

An’im mengingatkan bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji tidak cukup diukur dari kelancaran pelaksanaan ritual ibadah semata.

Lebih dari itu, negara memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan jemaah, khususnya yang berisiko tinggi, dapat kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat dan selamat.

“Kesuksesan haji harus dimaknai secara utuh. Seluruh jemaah harus pulang dengan selamat, bukan hanya selesai menjalankan rangkaian ibadah,” pungkasnya.

Editor : Murni A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Ancaman Deindustrialisasi Dini Bayangi Ekonomi RI, Target Pertumbuhan 8 Persen Terancam
Hari ke-10 Pencarian Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang, Tim Gabungan Masih Sisir Lereng Lawu
DWP Tegaskan Peran Strategis Perempuan dalam Mewujudkan Perubahan Nyata
Tanamkan Budaya Hemat, Mahasiswa KKN UPGRIS Ajak Siswa SDN 1 Palebon Gemar Menabung Sejak Dini
Hadapi Musim Hujan, PKK Jawa Tengah Galakkan Penanaman Pohon di Pekarangan
Kemendikdasmen Terapkan TKA Inklusif 2026, Murid Berkebutuhan Khusus Difasilitasi Teknologi Khusus
75 Persen Sampah Nasional Masih Dibuang Terbuka, Daerah Resmi Masuk Darurat Sampah
Pemulihan Listrik Pascabencana Sumatra Capai 99 Persen, Pemerintah Fokus Percepatan Rehabilitasi

Berita Terkait

Rabu, 28 Januari 2026 - 12:55 WIB

83 Persen Jemaah Haji Masuk Risiko Tinggi, DPR Minta Pengawasan Khusus Haji 2026

Rabu, 28 Januari 2026 - 11:09 WIB

Ancaman Deindustrialisasi Dini Bayangi Ekonomi RI, Target Pertumbuhan 8 Persen Terancam

Rabu, 28 Januari 2026 - 09:02 WIB

Hari ke-10 Pencarian Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang, Tim Gabungan Masih Sisir Lereng Lawu

Rabu, 28 Januari 2026 - 07:48 WIB

DWP Tegaskan Peran Strategis Perempuan dalam Mewujudkan Perubahan Nyata

Selasa, 27 Januari 2026 - 16:02 WIB

Hadapi Musim Hujan, PKK Jawa Tengah Galakkan Penanaman Pohon di Pekarangan

Berita Terbaru