Jatengvox.com – Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Namun, di tengah peluang besar tersebut, tantangan kualitas sumber daya manusia (SDM) masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dibenahi.
Hal inilah yang menjadi sorotan utama Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam sebuah forum ekonomi yang disiarkan oleh Metro TV, Selasa (3/2/2026).
Dalam acara bertajuk Top Economic Special Islamic Economic itu, Menag menyampaikan optimisme bahwa Indonesia berpeluang menjadi pusat ekonomi syariah dunia.
Namun optimisme tersebut, menurutnya, harus dibarengi dengan penguatan sistem pendidikan dan peningkatan kompetensi SDM di bidang ekonomi syariah.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki fondasi sosial dan kultural yang kuat untuk mengembangkan ekonomi syariah.
Nasaruddin menilai potensi ini bukan sekadar wacana, melainkan peluang riil yang bisa diwujudkan dalam satu hingga dua dekade ke depan.
Meski demikian, ia mengakui bahwa pengembangan SDM ekonomi syariah belum sepenuhnya optimal.
Lulusan ekonomi syariah masih menghadapi tantangan dalam beradaptasi dengan dinamika industri modern, terutama dalam memahami sistem keuangan global yang terus berkembang.
Menurutnya, kurikulum pendidikan ekonomi syariah perlu diperkuat dengan pendekatan yang lebih integratif.
Fikih muamalah harus tetap menjadi fondasi, tetapi mahasiswa juga perlu memahami terminologi dan praktik ekonomi konvensional agar mampu bersaing di industri.
Nasaruddin yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) menekankan pentingnya sintesis keilmuan antara Fakultas Syariah dan Fakultas Ekonomi umum.
Integrasi ini dinilai krusial agar lulusan ekonomi syariah tidak terjebak dalam sekat akademik yang sempit.
Di tengah arus globalisasi, ekonomi syariah tidak berdiri sendiri. Ia bersentuhan dengan pasar internasional, teknologi finansial (fintech), investasi global, hingga kebijakan fiskal dan moneter.
Karena itu, lulusan ekonomi syariah dituntut memiliki perspektif luas tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan prinsip syariah.
Lebih jauh, Menag menegaskan bahwa ekonomi syariah sejatinya menawarkan model ekonomi berkelanjutan yang menempatkan moralitas sebagai pijakan utama.
Dalam konteks krisis ekonomi global yang berulang, pendekatan berbasis keadilan dan keberlanjutan dinilai semakin relevan.
Pandangan senada disampaikan Wakil Ketua Umum IAEI, Irfan Syauqi Beik. Ia menilai penguatan SDM ekonomi syariah tidak boleh hanya terfokus pada sektor keuangan.
Menurut Irfan, ada tiga sektor utama yang perlu mendapatkan perhatian serius: industri halal, keuangan syariah, serta sektor sosial seperti zakat dan wakaf.
Industri halal, misalnya, memiliki ruang pertumbuhan yang sangat luas. Mulai dari makanan dan minuman halal, pariwisata ramah Muslim, hingga modest fashion, semuanya membutuhkan tenaga profesional yang memahami standar syariah sekaligus strategi bisnis modern.
“Industri halal bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi syariah nasional jika didukung SDM yang kompeten,” ujarnya.
Editor : Murni A














