Jatengvox.com – Di tengah kehidupan Kota Semarang yang terus bergerak maju, terdapat sebuah kampung yang menyimpan warisan budaya, yakni Kampung Batik Semarang. Kampung batik bukan hanya sekadar ruang produksi kain bermotif, melainkan ruang hidup bagi tradisi, kesabaran, dan cerita manusia yang menghidupkannya.
Salah satu kisah yang tumbuh dari lorong-lorong kampung ini adalah kisah Siti Afifah, sosok perempuan pembatik yang mendedikasikan hidupnya pada sehelai batik.
Baginya, menjadi pembatik di era modern bukanlah perkara mudah. Tantangan datang dari batik cetak murah hingga perubahan selera pasar.
Namun, Siti Afifah memilih bertahan dengan caranya sendiri, menjaga kualitas dan mulai berbagi ilmu. Ia kerap terlibat dalam kegiatan edukasi membatik dari pemerintah, mengajarkan anak-anak dan pengunjung Kampung Batik Semarang tentang nilai di balik selembar batik.
Baginya, keberlanjutan batik tidak hanya ditentukan oleh penjualan, tetapi juga oleh pewarisan pengetahuan. Selama masih ada yang mau belajar dan menghargai proses, ia yakin batik Semarang akan terus menemukan tempatnya.
Adapun motif-motif yang dibuat oleh Siti Afifah di antaranya Warak Ngendog, Tugu Muda, Lawang Sewu, dan lain sebagainya. Motif-motif tersebut terinspirasi dari ikon-ikon Kota Semarang. Setiap goresannya memiliki makna yang mendalam dan menjadi semangat untuk terus melestarikan batik.
Kisah Siti Afifah merupakan representasi semangat besar Kampung Batik Semarang. Di balik motif-motif indah yang kita lihat, ada tangan-tangan yang bekerja dengan sabar dan hati yang setia pada tradisi.
Batik dalam kisah ini bukan hanya sekadar kain, tetapi juga jejak kehidupan, identitas, dan harapan yang terus ditorehkan dari generasi ke generasi.
Melalui Kampung Batik Semarang dan sosok Siti Afifah, kita diajak untuk tidak hanya memakai batik, tetapi juga memahami kisah di baliknya—kisah tentang ketekunan, budaya, dan cinta terhadap warisan lokal.
Siti Afifah juga berharap generasi modern saat ini dapat mengenal batik secara utuh dan menyadari pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan warisan budaya ini.
Penulis : Farida Putri Ramadhani
Editor : Murni A













