Jatengvox.com – Menjelang Idulfitri 2026, denyut kebutuhan bahan pokok di Jawa Tengah kian terasa. Harga sejumlah komoditas mulai merangkak naik, sementara kebutuhan rumah tangga meningkat tajam selama Ramadan.
Di tengah situasi itu, Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjadi oase bagi masyarakat.
Sejak Januari hingga awal Maret 2026, tercatat sekitar 308 ribu warga di 35 kabupaten/kota telah memanfaatkan program ini.
Angka tersebut sebanding dengan jumlah kegiatan yang digelar, yakni 308 kali pelaksanaan GPM di berbagai daerah.
Suasana berbeda terlihat di Balai Desa Mayahan, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Senin (2/3/2026). Warga berdatangan sejak pagi, mengantre di sejumlah stan yang menjual kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasaran.
Kepala Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pasokan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Jateng, Sri Broto Rini, mengatakan GPM menjadi salah satu strategi pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), khususnya Ramadan dan Idulfitri.
“Dari 308 kegiatan yang sudah dilakukan, artinya kurang lebih 308 ribu orang telah menerima manfaat dengan harga yang lebih murah,” ujarnya di sela kegiatan.
Berbagai komoditas dijual dengan harga terjangkau. Beras medium dibanderol Rp62.500 per 5 kilogram, telur ayam Rp26.500 per kilogram, gula pasir Rp15 ribu per kilogram, bawang merah Rp15 ribu per setengah kilogram, bawang putih Rp13.500 per setengah kilogram, hingga cabai Rp5 ribu per pak.
Menurut Rini, pemerintah memfasilitasi distribusi sehingga harga di lokasi GPM setara dengan harga produsen. Dengan skema ini, rantai distribusi yang biasanya memicu kenaikan harga bisa ditekan.
Khusus di Grobogan, Pemprov menyiapkan 4 ton beras, 1.000 liter minyak goreng, 1.000 kilogram telur dan ayam ras, serta masing-masing 200 kilogram bawang merah, bawang putih, dan cabai.
Menariknya, pelaksanaan GPM juga melibatkan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Skema kolaboratif ini bukan hanya membantu konsumen, tetapi juga menguntungkan petani dan pelaku usaha lokal.
Pengurus Gapoktan Ngudi Mulyo Purwodadi, Suwarjo, mengaku kerja sama tersebut membawa dampak positif bagi anggotanya.
Pada kegiatan kali ini, pihaknya memasok 1 ton beras dengan harga Rp13.500 per kilogram sesuai permintaan pemerintah.
“Senang sekali. Saling menguntungkan. Kami bisa menambah kas Gapoktan, anggota juga ikut merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kualitas panen tahun ini tergolong baik. “Berasnya bagus, tidak ada yang rebah. Jadi kualitasnya sangat baik,” katanya.
Dalam kegiatan yang sama, Perum Bulog melalui Gudang Depok Grobogan menyediakan 2 ton beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta 1.000 liter minyak goreng.
Kepala Gudang Bulog Depok Grobogan, Muh Hanif Wahyudi, menjelaskan beras SPHP dijual Rp57.000 per kemasan 5 kilogram atau Rp11.400 per kilogram.
Sementara minyak goreng kemasan 2 liter dipasarkan Rp30.000 per kemasan.
Karena tingginya minat masyarakat, pembelian dibatasi maksimal dua kemasan beras (10 kilogram) dan satu kemasan minyak goreng (2 liter) per orang.
Sistem pembelian dilakukan secara tunai tanpa kupon, dan warga yang telah berbelanja akan diberi tanda untuk mencegah pembelian berulang.
Editor : Murni A














