Jatengvox.com – Program penanaman cabai menjadi salah satu kegiatan kemasyarakatan yang dijalankan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tim 12 Universitas Diponegoro pada hari Selasa (20/01/2026).
Kegiatan ini mendapat dukungan langsung dari pemerintah kelurahan sebagai bentuk kolaborasi antara akademisi dan masyarakat.
Program diawali dengan penyerahan 400 bibit cabai oleh Pak Lurah kepada tim KKN-T, kemudian diserahkan kepada KWT Kelompok Wanita Tani Sri Rejeki sebagai penggerak utama di lapangan.
Penyerahan bibit dilakukan di rumah Ketua dari KWT dan disaksikan perangkat setempat. Bibit tersebut menjadi simbol dimulainya gerakan pemanfaatan lahan rumah untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.
KWT Sri Rejeki menerima amanah untuk mengkoordinasikan distribusi bibit kepada warga di setiap RT dan 1 RW agar pembagian berjalan merata.

Mahasiswa KKN-T 2026 Tim 12 turut terlibat dalam proses pendampingan. Mereka membantu menjelaskan cara penanaman cabai yang benar, mulai dari persiapan media tanam, penggunaan polybag atau pot, teknik penyiraman, hingga perawatan dasar.
Pendampingan ini dilakukan agar warga dapat menanam secara mandiri dan hasil tanaman bisa tumbuh optimal.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN-T 2026 Tim 12, Dr. Romadhon, S.Pi., M.Biotech, juga memberikan arahan terkait pentingnya keberlanjutan program.
“Kegiatan ini tidak berhenti pada pembagian bibit, tetapi perlu dirawat bersama agar hasilnya benar benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kegiatan sederhana seperti menanam cabai dapat memberi dampak nyata bagi ketahanan pangan keluarga.
Pak Lurah juga menyampaikan dukungannya terhadap program ini.
“Kami berharap warga bisa memanfaatkan lahan rumah untuk kebutuhan dapur sendiri sehingga lebih hemat dan mandiri,” katanya.
Pernyataan tersebut memperkuat komitmen pemerintah kelurahan dalam mendukung gerakan tanam di lingkungan masyarakat.
Melalui program ini, warga mulai menanam cabai di pekarangan, pot, polybag, dan lahan kosong di sekitar rumah.
Cabai dipilih karena menjadi bahan dapur yang sering digunakan dan harganya kerap mengalami kenaikan.
Dengan menanam sendiri, warga dapat mengurangi pengeluaran harian. Jika hasil panen berlebih, cabai dapat dibagikan atau dijual dalam skala kecil.
Kegiatan ini juga mendorong interaksi antarwarga. Anggota KWT saling berbagi pengalaman tentang cara merawat tanaman dan mengatasi hama.
Lingkungan menjadi lebih hijau dan lahan yang sebelumnya kosong mulai dimanfaatkan. Program penanaman 400 bibit cabai ini menjadi langkah bersama dalam membangun kemandirian pangan dan memperkuat kerja sama masyarakat dari tingkat rumah tangga.
Editor : Murni A














